| NIM | F1A022072 |
| Namamhs | RIFAT MUHAMMAD PRASOJO |
| Judul Artikel | Representasi Mitos Dalam Kepercayaan Masyarakat Jawa Pada Film Waktu Maghrib (2023) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Genre film horor di Indonesia terus mengalami perkembangan. Hal tersebut ditunjukkan dengan semakin bervariasinya subgenre horor menjadi beberapa kategori mulai dari horor psikologis, horor komedi, hingga horor religi. Horor religi, merupakan subgenre yang umumnya dekat dengan mistis islami, seperti contohnya yaitu film Waktu Maghrib (2023). Film tersebut tidak hanya menampilkan unsur ketegangan dan rasa takut, melainkan juga menyisipkan pesan moral yang berkaitan dengan nilai keagamaan, sekaligus mengangkat mitos yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat. Penelitian ini secara khusus membahas mengenai representasi dari mitos waktu magrib yang dimunculkan pada film tersebut. Tujuan dari dilakukannya kajian ini adalah untuk menguraikan adegan pada film Waktu Maghrib (2023) dalam menggambarkan mitos waktu magrib pada kepercayaan masyarakat Jawa. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Bronislaw Malinowski dan teori representasi Stuart Hall sebagai alat analisis. Adapun rumusan masalah penelitian ini berfokus pada bentuk representasi mitos sesuai kepercayaan lokal masyarakat Jawa yang ditampilkan dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika. Objek yang menjadi bahan analisis berupa film Waktu Maghrib yang rilis pada 2023. Data yang diperoleh dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber primer dan sekunder. Sumber data primer berupa potongan adegan dari film Waktu Maghrib (2023) sebanyak lima adegan, sedangkan sumber data sekunder berupa buku dan artikel-artikel ilmiah yang berkaitan dengan topik penelitian. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes melalui tiga tingkatan makna yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan mitos waktu magrib direpresentasikan melalui adegan yang menampilkan gangguan supranatural terhadap manusia, yaitu fenomena diculik oleh makhluk halus, penampakan makhluk halus, dan peristiwa kesurupan. Kemudian, mitos juga direpresentasikan melalui adegan yang memperlihatkan musibah karena tidak menjaga lisan ketika magrib. Kajian ini menunjukkan cara media massa, khususnya film, dapat digunakan sebagai salah satu medium pelestari suatu nilai budaya dan nilai tradisional masyarakat menggunakan saluran yang lebih modern. Dengan demikian, film Waktu Maghrib (2023) tidak hanya berperan menjadi hiburan horor semata, melainkan juga menjadi media yang merepresentasikan cara masyarakat memaknai waktu, moralitas, dan kepercayaan lokal. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The horror movie genre in Indonesia continues to develop. This is shown by the increasing variety of horror subgenres into several categories, ranging from psychological horror, horror comedy, to religious horror. Religious horror is a subgenre that is generally closely related to Islamic mysticism, one example of which is the Waktu Maghrib movie. The movie not only presents elements of tension and fear, but also inserts moral messages related to religious values, while also raising myths that are alive and passed down in society. This study will specifically discuss the representation of the myth of magrib time that is presented in the movie. The purpose of this study is to describe the scenes in the Waktu Maghrib movie in depicting the mystification of magrib time in Javanese beliefs. To achieve this goal, this study uses Bronislaw Malinowski's approach and Stuart Hall's representation theory as analytical tools. The research question focuses on the form of myth representation according to the local beliefs of the Javanese society as depicted in the movie. This study uses a descriptive qualitative method with the object of analysis being the Waktu Maghrib movie, released in 2023. The data obtained was collected through observation and documentation. The data sources in this study consisted of primary and secondary sources. The primary data sources were five scenes from the Waktu Maghrib movie, while the secondary data sources were books and scientific articles related to the research topic. Data analysis in this study uses Roland Barthes' semiotic analysis through three levels of meaning, namely denotation, connotation, and myth. The results of the study show that the myth of magrib time is represented through scenes that depict supernatural disturbances to humans, namely being kidnapped by supernatural beings, apparitions, and trances. Furthermore, the myth is also represented through scenes showing misfortune due to not guarding one's speech during magrib. This study shows how mass media, especially movie, can be used as a medium for preserving cultural values and traditional values of society through more modern channels. Thus, the Waktu Maghrib movie not only serves as horror entertainment, but also as a medium that represents how society interprets time, morality, and local beliefs. |
| Kata kunci | Film Waktu Maghrib, Mitos, Representasi |
| Pembimbing 1 | Mintarti |
| Pembimbing 2 | Hariyadi |
| Pembimbing 3 | Puri Septiana Nursetiyawati |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 65 |
| Tgl. Entri | 2026-02-20 15:27:24.329919 |
|---|