Artikel Ilmiah : A1D021175 a.n. MAULIDIA
| NIM | A1D021175 |
|---|---|
| Namamhs | MAULIDIA |
| Judul Artikel | EKSPLORASI DAN ISOLASI NEMATODA ENTOMOPATOGEN SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI ULAT GRAYAK (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) PADA TANAMAN JAGUNG |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas penting di Indonesia, namun produktivitasnya sering terancam oleh serangan ulat grayak (Spodoptera frugiperda), hama invasif yang dapat menurunkan hasil secara signifikan. Petani umumnya mengandalkan pestisida kimia untuk pengendalian, tetapi penggunaannya berisiko menimbulkan resistensi, pencemaran lingkungan, dan dampak kesehatan. Nematoda entomopatogen (NEP) berpotensi sebagai agens pengendali hayati karena bersifat spesifik terhadap inang sasaran dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan menguji efektivitas isolat lokal NEP terhadap S. frugiperda pada tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Universitas Jenderal Soedirman, pada November 2024 sampai dengan Juli 2025. Sampel tanah diambil dari lima lahan jagung di Kecamatan Sumbang, Banyumas, kemudian dilakukan isolasi NEP dengan metode baiting menggunakan larva Tenebrio molitor. Identifikasi morfologi juvenil infektif (JI) mengacu pada Nemaplex (UC Davis, 2024). Uji efektivitas NEP terhadap larva S. frugiperda instar III disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu asal isolat dan kerapatan JI, masing-masing dengan lima, ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NEP berhasil ditemukan di lahan jagung Kecamatan Sumbang. Isolat NEP yang diperoleh kemudian diidentifikasi dan menunjukkan dua isolat, yaitu isolat Banjarsari Kulon yang terdiri atas Steinernema sp., serta isolat Datar yang terdiri atas Steinernema sp. dan Heterorhabditis sp. Uji efektivitas terhadap larva Spodoptera frugiperda menunjukkan bahwa isolat asal Datar memiliki tingkat mortalitas lebih tinggi, yaitu sebesar 75,2%, dibandingkan isolat Banjarsari Kulon yang menghasilkan mortalitas sebesar 63,3%. Selain itu, kerapatan JI sebanyak 500 JI telah menunjukkan efektivitas yang cukup dalam menimbulkan kematian larva. Temuan ini menunjukkan bahwa isolat lokal NEP berpotensi dikembangkan sebagai agens pengendali hayati yang efektif dan ramah lingkungan untuk pengendalian S. frugiperda di lapangan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Maize (Zea mays L.) is a major crop in Indonesia, but its productivity is threatened by the fall armyworm (Spodoptera frugiperda), an invasive pest capable of causing significant yield losses. Chemical pesticides are widely used for control, yet their long-term application risks resistance, environmental damage, and health issues. Entomopathogenic nematodes are potential biological control agents due to their specificity and eco-friendly nature. This study aimed to explore, identify, and evaluate the effectiveness of local EPN isolates against S. frugiperda on maize plants. The research was conducted at the Plant Protection Laboratory, Universitas Jenderal Soedirman, from November 2024 to July 2025. Soil samples were collected from five maize fields in Sumbang District, Banyumas Regency, and EPNs were isolated using the baiting method with Tenebrio molitor larvae. Morphological identification of infective juveniles was carried out based on Nemaplex (UC Davis, 2024). The effectiveness test of EPNs against third-instar S. frugiperda larvae was arranged in a factorial Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely isolate origin and infective juvenile (IJ) density, each with five replications. The results showed that entomopathogenic nematodes were successfully found in maize fields in Sumbang District. The NEP isolates obtained were subsequently identified and consisted of two isolates, namely the Banjarsari Kulon isolate containing Steinernema sp., and the Datar isolate containing Steinernema sp. and Heterorhabditis sp. The effectiveness test against S. frugiperda larvae showed that the Datar isolate had a higher mortality rate, reaching 75.2%, compared to the Banjarsari Kulon isolate, which resulted in 63.3% mortality. In addition, a density of 500 IJs was sufficient to cause larval mortality. These findings indicate that local NEP isolates have the potential to be develo ped as effective and environmentally friendly biological control agents for managing S. frugiperda in the field. |
| Kata kunci | Spodoptera frugiperda; nematoda entomopatogen; pengendalian hayati; mortalitas larva. |
| Pembimbing 1 | Ir. Abdul Manan, M.P. |
| Pembimbing 2 | Mutala’liah, S.P., M.Sc |
| Pembimbing 3 | Dra. Nurtiati, M.S. |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 13 |
| Tgl. Entri | 2026-02-09 10:27:53.060223 |