Artikel Ilmiah : J1A021043 a.n. TSANY AHNAF ANNAFI

Kembali Update Delete

NIMJ1A021043
NamamhsTSANY AHNAF ANNAFI
Judul Artikel“Images of Dystopia in The Docudrama Film "2073” by Asif Kapadia"
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana representasi distopia digambarkan dalam film 2073 karya Asif Kapadia. Sebagai sebuah docudrama, film ini menggabungkan realisme dokumenter dengan narasi fiksi untuk menggambarkan masa depan suram yang didominasi oleh ketakutan, kehancuran lingkungan, dan kendali teknologi. Teori karakteristik distopia karya Gregory Claeys digunakan sebagai kerangka teoretis untuk menjelaskan bagaimana unsur-unsur distopia tercermin dalam 2073. Analisis ini berfokus pada aspek audio dan visual, menggunakan pendekatan mise-en-scène untuk mengeksplorasi bagaimana pencahayaan, setting, kostum, dan properti berfungsi dalam membangun atmosfer distopia dan memperkuat pesan sosial dan politik film. Temuan menunjukkan bahwa 2073 mewakili lima karakteristik utama distopia yang diuraikan oleh Claeys. Pertama, ancaman kehancuran eksistensial. Kedua, degradasi ekologi. Ketiga, dominasi teknologi. Keempat, kemunduran budaya dan moral. Terakhir, pengawasan ekstrem yang dibenarkan karena ‘perang melawan teror’. Penggunaan rekaman arsip asli memperkuat hubungan antara dunia distopia 2073 dan kondisi global saat ini, menekankan bahwa distopia bukan sekadar masa depan yang dibayangkan, melainkan refleksi terhadap ancaman yang sudah ada dalam masyarakat saat ini.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aims to analyze how dystopian representation is portrayed in Asif Kapadia’s film 2073. As a docudrama, the film combines documentary realism with fictional storytelling to depict a bleak vision of the future dominated by fear, environmental collapse, and technological control. Gregory Claeys’s theory of dystopian characteristics is employed as the theoretical framework to explain how dystopian elements are reflected in 2073. The analysis focuses on both audio and visual aspects, using a mise-en-scène approach to examine how lighting, setting, costume, and props function in constructing a dystopian atmosphere and reinforcing the film’s social and political messages. The findings reveal that 2073 represents the five main characteristics of dystopia as outlined by Claeys. First, the threat of existential destruction. Second, ecological degradation. Third, technological domination. Fourth, cultural and moral decline. Lastly, extreme surveillance justified because of ‘war on terror’. The use of real archival footage strengthens the connection between the dystopian world of 2073 and current global conditions, emphasizing that dystopia is not merely an imagined future but a critical reflection of the threats already present in today society.
Kata kuncicultural decline, dystopia, docudrama, ecological destruction, mis e-en-scène, practices, technological domination
Pembimbing 1Dr. Aidatul Chusna, S.S., M.A.
Pembimbing 2Eni Nur Aeni S.S., M.A.
Pembimbing 3Dr. Tribuana Sari, S.S., M.Si.
Tahun2025
Jumlah Halaman49
Tgl. Entri2025-11-21 16:20:07.530246
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.