| NIM | F1D022076 |
| Namamhs | GISELLA AULIA RUNANTIKA |
| Judul Artikel | KEGAGALAN PELAYANAN PUBLIK DALAM LIRIK LAGU "BAYAR, BAYAR, BAYAR": Representasi Kritik Gratifikasi dan Pungutan Liar terhadap Aparat Kepolisian di Indonesia |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Artikel ini bertujuan untuk: 1) Memahami dan mendeskripsikan kegagalan pelayanan publik dalam lirik lagu “Bayar, Bayar, Bayar” karya Sukatani. 2) Mengetahui dan menjelaskan kritik gratifikasi dan pungutan liar terhadap aparat Kepolisian di Indonesia yang direpresentasikan pada lirik lagu “Bayar, Bayar, Bayar”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perspektif pascastrukturalis dan paradigma dekonstruksionisme melalui pendekatan semiotika. Representasi kritik gratifikasi ditunjukan oleh pemberian uang yang sengaja dilakukan masyarakat atas dasar kepentingan tertentu kepada aparat Kepolisian. Sedangkan kritik pungutan liar ditunjukkan dengan permintaan uang kepada masyarakat yang dilakukan oleh aparat Kepolisian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan penanda dan makna dalam lagu “Bayar, Bayar, Bayar” telah merefleksikan realitas kegagalan pelayanan publik oleh institusi Kepolisian di Indonesia, akibat adanya patologi birokrasi berupa praktik gratifikasi dan pungutan liar. Kondisi tersebut muncul akibat mekanisme struktur birokrasi di institusi Kepolisian yang berada pada pelanggaran berjenjang mulai dari lapisan bawah hingga atas, yang mendorong terjadinya praktik uang informal atas penyalahgunaan kekuasaan, sehingga berdampak pada penurunan kualitas institusi Kepolisian di Indonesia. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This article aims to: 1) Understand and describe the failure of public services in the lyrics of the song “Bayar, Bayar, Bayar” by Sukatani. 2) Identify and explain the criticism of gratification and illegal levies against the Indonesian police as represented in the lyrics of the song “Bayar, Bayar, Bayar”. This study uses a qualitative method with a poststructuralist perspective and a deconstructionist paradigm through a semiotic approach. The representation of criticism of gratuities is shown by the deliberate giving of money by the community based on certain interests to the police. Meanwhile, criticism of illegal levies is shown by the police's demand for money from the community. The results of the study show that the use of signs and meanings in the song “Bayar, Bayar, Bayar” reflects the reality of the failure of public services by the police institution in Indonesia, due to the bureaucratic pathology of gratification and illegal levies. This condition arises due to the bureaucratic structure mechanism in the police institution, which is characterized by hierarchical violations from the lower to upper levels, encouraging informal money practices through abuse of power, thereby impacting the decline in the quality of the police institution in Indonesia. |
| Kata kunci | Polri, pelayanan publik, kritik sosial |
| Pembimbing 1 | Triana Ahdiati, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Khairu Roojiqien Sobandi, S.IP., M.Si., M.A., Ph.D. |
| Pembimbing 3 | Khairurrizqo, S.IP., M.I.P |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 81 |
| Tgl. Entri | 2025-11-06 14:08:08.896218 |
|---|