Artikel Ilmiah : B1B021031 a.n. ARI SIHABUN MAULANA
| NIM | B1B021031 |
|---|---|
| Namamhs | ARI SIHABUN MAULANA |
| Judul Artikel | ETHNOBOTANICAL STUDY OF MEDICINAL PLANTS IN THE SAMBETAN RITUAL IN BUMIJAWA DISTRICT, TEGAL REGENCY |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pengobatan tradisional telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan, sebelum berkembangnya pengobatan modern. Praktik ini biasanya menggunakan tumbuhan obat, dengan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang menggabungkan pengobatan tradisional dan nilai budaya adalah Ritual Sambetan di Desa Batumirah, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan dalam ritual tersebut, cara pemanfaatannya, bagian tumbuhan yang dipakai, cara pengolahan, asal tumbuhan, serta manfaatnya. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tumbuhan obat tersebut, serta peran ritual ini dalam melestarikan budaya dan menjaga keanekaragaman hayati. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, dengan teknik snowball sampling untuk menemukan informan yang memiliki pengetahuan mendalam. Fokus penelitian meliputi jenis tumbuhan obat dalam Ritual Sambetan, bagian yang digunakan, cara pengolahan, khasiat, Asal pengambilan tumbuhan, serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan beberapa metode kuantitatif, yaitu Use-Value (UV), Plant Part Use (PPU), Fidelity Level (FL), dan Index of Cultural Significance (ICS). Enam tumbuhan obat utama yang digunakan dalam Ritual Sambetan di Desa Batumirah adalah dringo (Acorus calamus), bengle (Zingiber montanum), Ginger (Zingiber officinale), bawang merah (Allium cepa), kelapa (Cocos nucifera), dan kayu putih (Melaleuca cajuputi). Bahan-bahan ini digunakan secara topikal setelah ditumbuk dan dicampur minyak, kemudian dioleskan pada tubuh untuk mengatasi demam, pegal-pegal, gangguan kondisi tubuh yang dipercaya berkaitan dengan aspek spiritual. Hasil analisis menunjukkan bahwa dringo dan bengle memiliki nilai penggunaan (UV) tertinggi (0,89 dan 0,84). Analisis PPU menunjukkan bahwa bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah rimpang dan daun (lebih dari 80% dari seluruh ramuan). Nilai FL yang tinggi pada dringo (88%) dan bengle (82%) menunjukkan adanya kesepakatan yang kuat dalam penggunaannya. Nilai ICS juga menunjukkan bahwa dringo adalah tumbuhan yang paling penting secara budaya. Pengetahuan ini masih banyak dikuasai oleh orang-orang tua dan belum sepenuhnya diteruskan ke generasi muda, meskipun upaya pelestarian seperti budidaya di rumah dan penyampaian lisan tetap dilakukan oleh masyarakat. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Traditional medicine has long been an integral part of life in Indonesian society, particularly in rural areas, preceding the advancement of modern medicine. This practice often involves the use of medicinal plants, with knowledge passed down through generations. One tradition that combines traditional medicine with cultural values is the Sambetan Ritual in Batumirah Village, Bumijawa District, Tegal Regency. This study aims to identify the diversity of medicinal plant species used in the ritual, explore their diversity and utilization including the parts used, processing methods, sourcing, and benefits and analyze the community's level of trust in the use of these plants in the ritual, as well as their contribution to cultural preservation and biodiversity conservation. This study employed a mixed-methods approach, combining quantitative and qualitative descriptive methods with surveys. Data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation, using snowball sampling to identify knowledgeable informants. It focused on plant diversity and utilization in the Sambetan Ritual, examining plant morphology, parts used, preparation methods, efficacy, sourcing, and community conservation efforts. Data analysis included descriptive identification of species/cultural significance and quantitative metrics: Use-Value (UV), Plant Part Use (PPU), Fidelity Level (FL), and Index of Cultural Significance (ICS). Six key medicinal plants are used in the Sambetan ritual: dringo (Acorus calamus), bengle (Zingiber montanum), ginger (Zingiber officinale), shallot (Allium cepa), coconut oil (Cocos nucifera), and cajuput oil (Melaleuca cajuputi). Applied topically after pounding and oil mixing, they treat fever, muscle aches, and spiritual imbalances. Quantitative analysis confirmed their cultural importance: dringo and bengle had the highest UV (0.89 and 0.84). PPU showed rhizomes/leaves were preferred (>80% of preparations). High FL values for dringo (88%) and bengle (82%) indicated strong consensus on their use, while ICS identified dringo as the most culturally significant. This knowledge is primarily preserved by elders, with limited intergenerational transmission; however, home cultivation and oral traditions help maintain its continuity. |
| Kata kunci | Keywords: medicinal plants, sambetan ritual, traditional knowledge. |
| Pembimbing 1 | Drs. Sukarsa, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dian Palupi, S.Si, M.Sc. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 34 |
| Tgl. Entri | 2025-08-22 07:19:08.408453 |