| NIM | A1D018111 |
| Namamhs | FADIL FABIAN |
| Judul Artikel | Keragaman Morfologi dan Hasil Sembilan Genotipe Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Indonesia yang beriklim tropis memiliki tanah subur dan kaya sumber daya alam, dimanfaatkan sebagi lahan pertanian. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) berasal dari Amerika Selatan dan dibudidayakan sebagai tanaman tahunan di daerah tropis dan subtropis, dengan umbinya sebagai sumber karbohidrat utama (Hedge et al., 2017). Ubi kayu berpotensi medukung diversifikasi pangan karena bernilai ekonomis dan juga sehat, didukung oleh perkembangan teknologi yang menghasilkan berbagai inovasi produk olahan (Hidayat et al., 2021). Penelitian dilaksanakan di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas pada Maret hingga April 2025. Penelitian dilakukan pada saat pemanenan berlangsung. Panen dilakukan saat tanaman berumur 200 hari setelah tanam, ditandai dengan daun bawah menguning, batang mengeras, dan umbi membesar. Proses panen dilakukan secara manual menggunakan batu dan tali sebagai alat ungkit. Hasil panen dipisahkan antara tanaman sampel dan tanaman tiap petak. Hasil Penelitian menunjukkan klon tanaman ubi kayu yang diamati memiliki variabel kuantitatif dan kualitatif yang beragam. Berdasarkan variabel kuantitatif pada sembilan genotipe tanaman ubi kayu tinggi tanaman tertinggi yaitu G8 dengan nilai 713,33 cm, jumlah umbi terbanyak yaitu G1 dengan jumlah 10 buah, jumlah bobot umbi terberat yaitu G9 dengan nilai 3977.67 gr, dan diameter batang terlebar yaitu G6 dengan diameter 37,45 cm. Sembilan klon ubi kayu beragam berdasarkan variabel kualitatif morfologi daun, batang, dan umbi. Klon ubi kayu dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan kemiripan. Kelompok pertama yaitu G1 dan G3. Kelompok kedua terdiri dari G4, G8, dan G6. Kelompok ketiga terdiri dari G2, G7, dan G9. Kelompok keempat terdiri dari G5. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Indonesia, with its tropical climate, has fertile soils and abundant natural resources, which are utilized as agricultural land. Cassava (Manihot esculenta Crantz), originally from South America is cultivated as a perennial crop in tropical and subtropical regions, with its tuberous roots serving as primary carbohydrate source (Hedge et al., 2017). Cassava holds potential to support food diversification programs due to its economic value and health benefits, further enhanced by technological advancements that continue to produce innovative processed products (Hidayat et al., 2021). The research was conducted in Gandatapa Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency, from March to April 2025, coinciding with the cassava harvest period. Harvesting was carried out at 200 days after planting, marked by signs such as yellowing and falling of lower leaves, hardening of stems, and enlargement of tubers. The harvesting process was performed manually using stones and rope as leverage tools. Harvested plants were separated between sample plants and those from each plot. The results showed that the observed cassava clones exhibited diverse quantitative and qualitative variables. Based on quantitative variables among the nine genotypes, the tallest plant was G8 (7`3.33 cm), the highest number of tubers was found in G1 (10 tubers), the heaviest tuber weight was recorded in G9 (3977.67 g), and the thickest stem diameter was found in G6 (37.45 cm). The nine cassava clones also varied in qualitative morphological traits of leaves, stems, and tubers. Based on similarity, the clones were grouped into four clusters: the first cluster included G1 and G3; the second cluster comprised G4, G8, and G6; the third cluster included G2, G7, and G9; and the fourth cluster consisted of G5. |
| Kata kunci | ubi kayu, morfologi, hasil, genotipe |
| Pembimbing 1 | Fatichin, S.P., M.P., Ph.D. |
| Pembimbing 2 | Ratri Noorhidayah, S.P.,M.Sc. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 13 |
| Tgl. Entri | 2025-08-19 12:30:47.86814 |
|---|