| NIM | F1A021101 |
| Namamhs | ANINDA NISHA AGRESTIA |
| Judul Artikel | PERUBAHAN TRADISI COWONGAN SEBAGAI RITUAL PEMANGGIL HUJAN MENJADI SENI PERTUNJUKAN DI KARANGLEWAS |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian ini mendeskripsikan perubahan cowongan dari ritual pemanggil hujan menjadi seni pertunjukan yang berada di Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi serta penentuan informan menggunakan snowball sampling. Tradisi cowongan merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat agraris Banyumas dengan tujuan untuk memohon turunnya hujan pada musim kemarau panjang. Dalam pelaksanaannya, cowongan sebagai ritual menggunakan boneka cowong, tembang doa, dan sesaji. Seiring perkembangan zaman, cowongan di Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas mengalami perubahan menjadi seni pertunjukan yang bertujuan sebagai hiburan tetapi juga sebagai pelestarian budaya. Seni pertunjukan cowongan awalnya tidak diterima baik oleh masyarakat, namun karena pertunjukan cowongan sering diadakan maka masyarakat mulai menerima. Unsur utama seperti boneka cowong dan tembang doa tetap dipertahankan namun ditambahkan dan dikemas lebih kreatif melalui tambahan tarian, musik pengiring, dan kolaborasi kesenian lokal sehingga lebih menarik dan mudah diterima masyarakat luas. Perubahan tersebut disebabkan oleh modernisasi, menurunnya kepercayaan terhadap hal mistis, meningkatnya pendidikan, dan peran tokoh budaya lokal. Perubahan ini memberikan dampak positif pada aspek sosial, budaya, dan ekonomi, namun minimnya perhatian pemerintah daerah menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan tradisi ini. Diperlukan strategi pelestarian yang berkelanjutan agar cowongan tetap menjadi identitas Banyumas. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This research describes the transformation of cowongan from a rain-calling ritual to a performing art form in Pangebatan Village, Karanglewas District. The research method uses descriptive qualitative with data collection techniques including interviews, observation, and documentation, and informant selection using snowball sampling. The cowongan tradition is a ritual performed by the agrarian community of Banyumas with the aim of praying for rain during the long dry season. In its execution, cowongan as a ritual uses a cowong puppet, prayer songs, and offerings. As times have changed, cowongan in Pangebatan Village, Karanglewas District, has evolved into a performing art form that serves not only as entertainment but also as a means of cultural preservation. The cowongan performance art was initially not well-received by the community, but because cowongan performances were held frequently, the community began to accept it. Key elements such as the cowong doll and prayer songs are still maintained but are enhanced and packaged more creatively thru the addition of dance, accompanying music, and collaborations with local art forms, making it more appealing and easily accepted by the wider community. These changes are caused by modernization, declining belief in the mystical, increasing education, and the role of local cultural figures. This change has a positive impact on social, cultural, and economic aspects, but the lack of attention from local governments raises concerns about the sustainability of this tradition. Sustainable conservation strategies are needed to ensure that cowongan remains a Banyumas identity. |
| Kata kunci | cowongan, perubahan tradisi, seni pertunjukan |
| Pembimbing 1 | Niken Paramarti Dasuki, S.Sos. M.Si |
| Pembimbing 2 | Prof. Dr. Edy Suyanto, M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr. Sulyana Dadan, S.Sos, M.A |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 20 |
| Tgl. Entri | 2025-08-15 12:58:37.469433 |
|---|