| NIM | F1A021091 |
| Namamhs | AISYAH PUTRI ASIH |
| Judul Artikel | UPAYA PASANGAN PERNIKAHAN DINI DALAM MENJALANKAN FUNGSI KELUARGA DI DESA BANTERAN KECAMATAN SUMBANG |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pernikahan dini merupakan fenomena yang masih marak terjadi di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan seperti Desa Banteran. Angka dispensasi nikah di desa Banteran tergolong tinggi, tercapat pada tahun 2024 terdapat 7 pasangan pernikahan dini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami motif terjadinya pernikahan dini, tantangan yang dihadapi pasangan, serta upaya mereka dalam menjalankan fungsi keluarga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan utama terdiri dari lima pasangan pernikahan dini yang telah menikah lebih dari dua tahun dan memiliki anak. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan teori Aksi Talcott Parson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini berasal dari motif orangtua dan motif diri sendiri. Setelah menikah, pasangan menghadapi tantangan dalam fungsi keluarga. Namun, mereka tetap berupaya menjalankan fungsi keluarga, termasuk fungsi biologis, ekonomi, psikologis, edukasi, dan sosiokultural, meskipun dalam keterbatasan. Pembagian peran dalam keluarga masih dominan mengikuti pola patriarkal, namun sebagian pasangan mulai menerapkan pola kerjasama dan mengandalkan dukungan keluarga luas. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendampingan dan edukasi pasca nikah bagi pasangan muda untuk meningkatkan kapasitas dalam membangun keluarga yang stabil dan harmonis. Temuan ini menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pemberdayaan keluarga muda, serta penguatan peran kader dan program seperti BKB, BKR dan PIK-R. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Early marriage is a phenomenon that is still widespread in Indonesia, especially in rural areas such as Banteran Village. The number of marriage dispensations in Banteran Village is relatively high, with 7 couples in early marriages in 2024. This study aims to understand the motives for early marriage, the challenges faced by couples, and their efforts in carrying out family functions. The study used a qualitative approach with descriptive methods. The key informants consisted of five early marriage couples who had been married for more than two years and had children. Data collection techniques included in-depth interviews, observation, and documentation, and were analyzed using Talcott Parson's Action Theory. The results showed that early marriage stems from both parental and personal motives. After marriage, couples face challenges in family functioning. However, they continue to strive to carry out family functions, including biological, economic, psychological, educational, and sociocultural functions, despite limitations. The division of roles within the family still predominantly follows a patriarchal pattern, but some couples have begun to implement cooperative patterns and rely on the support of their extended family. This study emphasizes the importance of post-marital mentoring and education for young couples to increase their capacity to build stable and harmonious families. These findings form the basis for formulating policies for empowering young families, as well as strengthening the role of cadres and programs such as BKB, BKR and PIK-R. |
| Kata kunci | pernikahan dini, fungsi keluarga, teori aksi, pasangan muda, sosiologi keluarga |
| Pembimbing 1 | Dr. Rili Windiasih, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dr. Ignatius Suksmadi Sutoyo, M.Si. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 16 |
| Tgl. Entri | 2025-08-13 14:14:57.640877 |
|---|