Artikel Ilmiah : F1A021119 a.n. RASTRI WIDYA FAUZIAH
| NIM | F1A021119 |
|---|---|
| Namamhs | RASTRI WIDYA FAUZIAH |
| Judul Artikel | KENTONGAN SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI TRADISIONAL PADA ERA DIGITAL (STUDI PADA MASYARAKAT DESA TANGGERAN, KEBUMEN) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi persepsi masyarakat dan kendala dalam memanfaatkan kentongan sebagai alat komunikasi tradisional. Teori yang digunakan ialah Teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer. Peneitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengetahui dan mendalami suatu fenomena yang membutuhkan penjelasan langsung masyarakat Desa Tanggeran mengenai persepsi dan kendala dalam memanfaatkan kentongan sebagai alat komunikasi tradisional pada era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, persepsi generasi tua dan generasi muda terhadap kentongan menunjukkan keterhubungan yang harmonis yaitu bagi generasi tua yang lebih dekat dengan era sebelum digitalisasi cenderung memaknai kentongan secara historis dan simbolik sebagai bagian dari identitas sosial desa sedangkan bagi generasi muda, kentongan tetap relevan hingga saat ini, khususnya dalam situasi darurat seperti bencana malam hari, saat alat komunikasi digital tidak efektif. Kedua generasi tersebut memandang kentongan bukan sebagai simbol yang usang, melainkan sebagai bagian dari sistem komunikasi yang tetap memiliki relevansi khususnya dalam mendukung solidaritas dan kesiapsiagaan masyarakat di tengah era digital. Kedua, kendala masyarakat dalam memanfaatkan kentongan meliputi jangkauan bunyi yang terbatas, minim regenerasi pengguna kentongan, dan persaingan dengan teknologi modern. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This research aims to identify community perceptions and constraints in utilizing the kentongan as a traditional communication tool. The theory used is Herbert Blumer's Symbolic Interactionism Theory. This research uses a descriptive qualitative method to know and explore a phenomenon that requires a direct explanation of the Tanggeran Village community regarding perceptions and constraints in utilizing kentongan as a traditional communication tool in the digital era. The results of the study show that first, the perceptions of the older generation and the younger generation towards the kentongan show a harmonious relationship, namely for the older generation who are closer to the era before digitalization tend to interpret the kentongan historically and symbolically as part of the village's social identity while for the younger generation, the kentongan remains relevant today, especially in emergency situations such as nighttime disasters, when digital communication tools are ineffective. Both generations view kentongan not as an obsolete symbol, but as part of a communication system that still has relevance, especially in supporting community solidarity and preparedness in the midst of the digital era. Second, community obstacles in utilizing kentongan include limited sound coverage, minimal regeneration of kentongan users, and competition with modern technology. |
| Kata kunci | Kentongan, Komunikasi Tradisional, Persepsi |
| Pembimbing 1 | Nalfaridas Baharuddin |
| Pembimbing 2 | Tyas Retno Wulan |
| Pembimbing 3 | Edy Suyanto |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 18 |
| Tgl. Entri | 2025-08-12 09:14:00.730606 |