Artikel Ilmiah : F1A021095 a.n. MARIA ADINDA WAHYU PANGESTIKA

Kembali Update Delete

NIMF1A021095
NamamhsMARIA ADINDA WAHYU PANGESTIKA
Judul ArtikelKONSEP CANTIK MAHASISWI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman memaknai konsep cantik dalam kehidupan kampus, dengan menyoroti perbedaan persepsi berdasarkan atribut sosial seperti hijab, ukuran tubuh, serta pemahaman tentang kecantikan fisik dan non-fisik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan enam informan utama dari angkatan 2021 serta dua informan pendukung dari angkatan 2022. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi media sosial, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep cantik dipahami secara beragam dan tidak tunggal. Mahasiswi berhijab cenderung menekankan nilai kesopanan dan kesadaran diri, sementara mahasiswi non-hijab memaknai cantik sebagai bentuk ekspresi dan kenyamanan pribadi. Dari sisi ukuran tubuh, terdapat proses negosiasi simbol antara tekanan sosial dan penerimaan diri. Selain itu, sebagian mahasiswi menyatukan aspek fisik dan non-fisik sebagai bentuk kecantikan holistik. Fenomena beauty privilege juga muncul, di mana simbol kecantikan memberi dampak nyata terhadap penerimaan sosial di ruang kampus. Seluruh temuan dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead, yang membagi proses makna ke dalam tiga tahap: mind, self, dan society, menunjukkan bahwa kecantikan merupakan hasil konstruksi sosial yang dinamis dan kontekstual.
Abtrak (Bhs. Inggris)This study aims to understand how female students of the Faculty of Social and Political Sciences, Department of Sociology, Universitas Jenderal Soedirman interpret the concept of beauty in campus life, with a focus on differences in perception based on social attributes such as hijab, body size, and the understanding of physical and non-physical beauty. This research adopts a qualitative approach using phenomenological methods, involving six main informants from the 2021 cohort and two supporting informants from the 2022 cohort. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and social media documentation, then analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The findings reveal that beauty is understood in diverse and non-uniform ways. Hijab-wearing students tend to emphasize modesty and self-awareness, while non-hijab-wearing students interpret beauty as a form of expression and personal comfort. Regarding body size, there is a symbolic negotiation process between social pressure and self-acceptance. Additionally, some students combine both physical and non-physical aspects as a holistic form of beauty. The phenomenon of beauty privilege also emerges, where beauty symbols have a real impact on social acceptance within campus spaces. All findings are analyzed using George Herbert Mead’s theory of symbolic interactionism, which explains the process of meaning-making through three stages: mind, self, and society. This study shows that beauty is a dynamic and contextually constructed social symbol.
Kata kuncikecantikan, mahasiswi, interaksionisme simbolik, konstruksi sosial, simbol tubuh
Pembimbing 1Dr. Ignatius Suksmadi Sutoyo, M.Si.
Pembimbing 2Dra.Sotyania Wardhianna, M.Kes.
Pembimbing 3
Tahun2025
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2025-08-11 12:33:24.425471
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.