Artikel Ilmiah : F1C009016 a.n. ANNISA SETYA HUTAMI
| NIM | F1C009016 |
|---|---|
| Namamhs | ANNISA SETYA HUTAMI |
| Judul Artikel | PENGELOLAAN KOMUNIKASI DALAM PERKAWINAN USIA REMAJA AKHIR DI PURWOKERTO |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Umumnya perkawinan dilakukan pada pasangan usia dewasa, namun saat ini telah terdapat pasangan usia remaja akhir yang telah menikah. Sedangkan menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana ( BKKBN) menyebutkan usia perkawinan ideal secara psikologis berkisar 20 hingga 35 tahun untuk perempuan dan untuk laki-laki berusia 25 hingga 40 tahun. Umur yang sesuai menunjukkan tingkat kematangan, dapat mempertimbangkan baik secara emosional maupun nalar. Karena belum memiliki tingkat kematangan, pasangan remaja usia akhir sering menghadapi konflik yang lebih tinggi dibandingkan pasangan dewasa. Penelitian yang berjudul “ Pengelolaan Komunikasi dalam Perkawinan Usia Remaja Akhir di Purwokerto” bertujuan agar mendapatkan jawaban atas pengelolaan komunikasi pada pasangan remaja akhir guna menciptakan keharmonisan keluarga. Pembahasan didalamnya menjelaskan mengenai komunikasi yang dilakukan oleh pasangan remaja akhir dalam menjalin romantisme, mengelola konflik dan mengetahui otoritas dan pengambilan keputusan. Selain itu juga melihat motif perkawinan mereka sehingga mereka dapat memutuskan untuk menikah pada usia yang masih muda berkisar antara 18 tahun hingga 21 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan ragam penelitian fenomenologis. Sedangkan teori yang digunakan yaitu proses interaksi keluarga, interaksionisme simbolik, dan relational dialektika. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Metode analisis data berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah pasangan remaja usia akhir yang telah menikah memiliki beberapa bentuk pengelolaan komunikasi. Sebelum memutuskan menikah, mereka terlebih dahulu memiliki motif perkawinan berupa because motive dan in order to motive. Dan konflik yang terjadi diselesaikan dengan memahami kondisi pasangan. Meskipun begitu, terdapat segi romantisme berupa bentuk perhatian. Sedangkan pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan dominasi sektor publik dan sektor domestik. Berdasarkan hasil penelitian, didapat beberapa saran yaitu perbedaan persepsi seharusnya diselesaikan dengan memahami karakter dan kondisi pasangan. Sedangkan dalam menjaga romantisme, sebaiknya dilakukan dengan sikap menghargai dan menghormati pasangan dengan menunjukkan perhatian kepada pasangan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Commonly, marriage is a legal contract between adult couple, but nowdays there are many young couple decide to get married. According to the Coordination Institution of Family Planning, an ideal marriage age on psychologycal is between 20 until 35 years old for women and 25 until 40 years old for men. An appropriate age which based on Coordination Institution of Family Planning shows the level of maturity as using emotional and logic. The problem with the rising of young couple marriage is on their maturity, where on the ages they often face much conflict than adult. This research entitled “ Communication Management in a Late Adolescence Marriage in Purwokerto”. The purpose is to get answers for communication management to create harmony. It explains about adolescence communication in a romance, conflict management and authority management and decision making. Moreover, this research sees motive for marriage when they can decide to get married at the age of 18 years to 21 years. The method in this research uses a qualitative method with a variety of phenomenological research. Whereas the theories include the process of family interaction, symbolic interactionism, and relational dialectics. Methods of data collection through interviews and observation. And methods of data analysis such as data collection, data reduction, presentation and conclusion. The results of this study explain that adolescence couple have communication management forms. Before decide to get married, they began articulate motive to marriage such as Because Motive and in Order to Motive. Conflict solvency implemented by understanding couple condition. Although they sees conflicts, but there are romantism way with caress. For decision making, based on public sector and domestic sector. Based on these results, obtained some suggestions that different perception should be solved by understanding the condition and character of the couple. Whereas, to keep romanticism, respect and honor to couple with present form of attention. |
| Kata kunci | Pengelolaan komunikasi, Perkawinan, Remaja usia akhir |
| Pembimbing 1 | Dr. Wisnu Widjanarko., M.Si |
| Pembimbing 2 | Dra. Dwi Pangastuti M., M.Si |
| Pembimbing 3 | Wiwik Novianti., M.I.Kom |
| Tahun | 2013 |
| Jumlah Halaman | 10 |
| Tgl. Entri | (belum diset) |