Artikel Ilmiah : G1A009042 a.n. KINANTHI CAHYANING UTAMI
| NIM | G1A009042 |
|---|---|
| Namamhs | KINANTHI CAHYANING UTAMI |
| Judul Artikel | PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG FLEK PARU DAN TUBERKULOSIS DI DESA PLIKEN KECAMATAN KEMBARAN |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | LatarBelakang : Sejak tahun 1993 WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa TB adalah kedaruratan global bagi manusia. Indonesia menempati urutan kelima penyumbang TB terbesar di dunia setelah India, Cina, Afrika, dan Nigeria. Beberapa pasien TB sering melaporkan adanya diskriminasi dari orang lain. Pengalaman ini disebabkan karena orang-orang merasa takut tertular penyakit tersebut. Orang tua menilai bahwa orang lain akan menghindari anaknya atau beberapa orang tua akan melarang anaknya bermain dengan anak mereka. Oleh karena itu, penyakit TB khususnya pada anak-anak sering dikatakan sebagai “Flek”. Penemuan kasus tuberkulosis terbanyak di Kabupaten Banyumas berada di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II dengan total penemuan sebanyak 63 kasus. Desa Pliken merupakan desa dengan angka kejadian TB tertinggi di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat tentang flek paru dan tuberkulosis di Desa Pliken Kecamatan Kembaran. Metode :Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan yang terlibat sebanyak 10 orang. Penelitian ini dilakukan menggunakan instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri, dengan teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam pada informan. Teknik validasi data yang digunakan adalah teknik triangulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif. Hasil : Flek paru dipersepsikan masyarakat sebagai penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak dengan gejala batuk yang tidak sembuh-sembuh, sering demam, dan berat badan tidak naik walaupun anak mau makan banyak. Flek juga dipersepsikan sebagai gejala tuberkulosis. Tuberkulosis dipersepsikan masyarakat sebagai penyakit yang biasanya menyerang orang dewasa atau orang tua. Merupakan penyakit yang lebih parah daripada flek paru. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Background: Since 1993, WHO (World Health Organization) states that TB as a global emergency for humans. Indonesia is the fifth largest contributor of TB in the world after India, China, Africa, and Nigeria. Some TB patients frequently report discrimination from others. This experience caused because most people feel afraid of contracting the disease. Parents judge that others will avoid their children or some parents would forbid their children to play with children with TB. Therefore, TB disease especially in children is often described as “flek”. The highest case findings in Banyumas district are in the working area of Puskesmas II Kembaran with total findings as many as 63 cases. Pliken village is the village with the higest incidence rates in the working area of Puskesmas II Kembaran. Objective: This study aims to describe public perception about tuberculosis and “flek paru” in Pliken village Kembaran sub-district. Methods: This study uses qualitative research methods. Informants involved were 10 persons. The research was conducted using the research instrument which was the researcher itself. Data collection technique used in-depth interviews to the informants. The validation data used was source triangulation technique. Data analysis used is an interactive model of data analysis. Results: “Flek paru” is perceived in communities as a common disease in children with symptoms of unhealing cough, frequently fever, and weight which does not go up even children want to eat a lot. Tuberculosis in society perceived as a disease that usually affects adults or elderly. Tuberculosis perceived as a disease that is more severe than “flek paru”. |
| Kata kunci | Tuberkulosis (TB), Flek Paru, Persepsi |
| Pembimbing 1 | Dr. Drs. Rawuh Edy Priyono, M.Si |
| Pembimbing 2 | dr Indah Rahmawati, Sp.P |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2013 |
| Jumlah Halaman | 12 |
| Tgl. Entri | (belum diset) |