Artikel Ilmiah : B1A020093 a.n. ANDIYANI

Kembali Update Delete

NIMB1A020093
NamamhsANDIYANI
Judul ArtikelMortalitas dan Kesintasan Larva Aedes aegypti yang Terdedah Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana
Abstrak (Bhs. Indonesia)Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama Demam Berdarah Dengue. Salah satu pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan memutus siklus hidup nyamuk Ae. aegypti melalui stadium larvanya dengan menggunakan agensia pengendali hayati salah satunya adalah jamur Beauveria bassiana. Jamur B. bassiana menghasilkan metabolit sekunder toksik berupa beauvericin, bassianolide, asam oksalat, beauverolides, dan oosporein yang akan merusak jaringan tubuh larva Ae. aegypti dan menurunkan aktivitas dari larva tersebut hingga menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat mortalitas larva instar III dan pengaruh B. bassiana terhadap perkambangan dan persentase kesintasan larva hingga mencapai stadium dewasa.
Penelitian dilakukan dari bulan Oktober 2024 hingga Januari 2025 di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi serta Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 7 perlakuan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari 5 tingkat pengenceran isolat jamur B. bassiana meliputi 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, dan 10-5, serta kontrol negatif dengan menggunakan akuades dan kontrol positif dengan menggunakan insektisida komersial berbahan aktif temefos. Setiap pengujian diulang sebanyak 4 kali dengan waktu pengamatan mortalitas larva instar III nyamuk Ae. aegypti selama 24 jam dan kesintasan diamati setiap 24 jam hingga mencapai stadium dewasa. Variabel bebas berupa tingkat pengenceran isolat jamur B. Bassiana dan variabel terikat berupa mortalitas larva Ae. aegypti. Parameter utama yaitu jumlah larva nyamuk Ae. aegypti yang mati pada setiap pengujian (konfirmasi jamur B. bassiana yang dapat diisolasi dari larva yang mati) dan kesintasan (pengaruh perkembangan larva instar III hingga mencapai stadium dewasa). Parameter pendukung yaitu faktor abiotik meliputi pengukuran suhu dan kelembaban ruangan serta suhu dan pH media uji. Data mortalitas larva yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, selanjutnya dilakukan uji lanjut menggunakan DMRT pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil analisis diperoleh rerata persentase mortalitas tertinggi pada perlakuan tingkat pengenceran 10-1 sebesar 57,5% dan mortalitas terendah diperoleh pada perlakuan tingkat pengenceran 10-5 sebesar 5%. Infeksi B. bassiana memperlama perkembangan larva instar III menjadi pupa dan perkembangan pupa menjadi dewasa dengan rerata perkembangan terlama pada konsentrasi yang sama yaitu 10-3 masing-masing selama 4,25 dan 4,17 hari, menghambat perkembangan menjadi pupa dan dewasa, serta memengaruhi morfologi pupa dan dewasa Ae. aegypti. Rerata persentase kesintasan menjadi pupa dan dewasa yang terendah diperoleh pada tingkat pengenceran 10-1 yaitu masing- masing sebesar 30% dan 20%. Tingkat pengenceran 10-5 memiliki rerata persentase menjadi pupa dan dewasa tertinggi yaitu masing-masing sebesar 77,25% dan 82,5%. Faktor yang memengaruhi infeksi B. bassiana terhadap larva Ae. aegypti yaitu kerapatan spora dan kondisi lingkungan.
Abtrak (Bhs. Inggris)The Aedes aegypti mosquito is the main vector of dengue fever. One of the controls that can be done is by breaking the life cycle of the Ae. aegypti mosquito through its larval stage using biological control agents, one of which is the Beauveria bassiana fungus. The B. bassiana fungus produces toxic secondary metabolites in the form of beauvericin, bassianolide, oxalic acid, beauverolides, and oosporein which will damage the body tissues of Ae. aegypti larvae and reduce the activity of the larvae to cause death. The purpose of this study was to determine the mortality rate of third instar larvae and the effect of B. bassiana on the development and percentage of larval survival to reach the adult stage.
The research was conducted from October 2024 to January 2025 at the Entomology and Parasitology Laboratory and the Mycology and Phytopathology Laboratory using experimental methods using a completely randomized design (CRD), consisting of 7 treatments. The treatments used consisted of 5 levels of dilution of B. bassiana fungal isolates including 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, and 10-5, as well as a negative control using distilled water and a positive control using a commercial insecticide made from temefos. Each test was repeated 4 times with observation time for mortality of instar III larvae of Ae. aegypti mosquitoes for 24 hours and survival was observed every 24 hours until they reached the adult stage. The independent variable is the dilution level of B. bassiana fungal isolate and the dependent variable is the mortality of Ae. aegypti larvae. The main parameters were the number of Ae. aegypti mosquito larvae that died in each test (confirmation of the B. bassiana fungus that can be isolated from dead larvae) and survival (the effect of the development of third instar larvae to reach the adult stage). Supporting parameters are abiotic factors including measurements of room temperature and humidity as well as temperature and pH of the test media. Larval mortality data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) with 95% confidence level, followed by further tests using DMRT at 95% confidence level.
The results of the analysis obtained the highest average percentage of mortality in the treatment of dilution level 10-1 at 57.5% and the lowest mortality was obtained in the treatment of dilution level 10-5 at 5%. B. bassiana infection prolongs the development of instar III larvae into pupae and the development of pupae into adults with the longest average development at the same concentration of 10-3 for 4.25 and 4.17 days, respectively, inhibits the development into pupae and adults, and affects the morphology of pupae and adults of Ae. aegypti. The lowest mean percentages of pupal and adult survival were obtained at the 10-1 dilution level at 30% and 20%, respectively. The 10-5 dilution level had the highest mean percentages of pupal and adult survival at 77.25% and 82.5%, respectively. Factors that influence B. bassiana infection of Ae. aegypti larvae are spore density and environmental conditions.
Kata kunciisolat Beauveria bassiana, kesintasan, larva Aedes aegpti, mortalitas, spora
Pembimbing 1Prof. Dra. Endang Srimurni Kusmintarsih, S.U., Ph.D.
Pembimbing 2Drs. Aris Mumpuni, M.Phil
Pembimbing 3
Tahun2025
Jumlah Halaman52
Tgl. Entri2025-02-07 12:31:07.154615
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.