Artikel Ilmiah : K1C020025 a.n. NABILA NURANI HIDAYAT

Kembali Update Delete

NIMK1C020025
NamamhsNABILA NURANI HIDAYAT
Judul ArtikelKorelasi Kelembapan Udara Atas dan Indeks Labilitas Atmosfer terhadap Hujan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Abstrak (Bhs. Indonesia)Hujan adalah fenomena hidrometeor yang terdiri dari tetesan air dengan diameter 0,5 mm atau lebih. Hujan dengan intensitas tinggi dapat memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan karena dapat menyebabkan landasan pacu menjadi licin dan mengurangi jarak pandang. Hujan terjadi akibat kondisi atmosfer yang tidak stabil, yang dipicu oleh kelembapan udara yang meningkatkan jumlah tetesan air di atmosfer. Oleh karena itu, penelitian mengenai korelasi kelembapan udara atas dan indeks labilitas atmosfer terhadap hujan sangat penting sebagai bahan pertimbangan atau panduan dalam memprediksi kejadian hujan maupun fenomena cuaca lainnya yang membahayakan aktivitas manusia khususnya aktivitas penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi kelembapan udara atas dan indeks labilitas atmosfer terhadap intensitas curah hujan yang terjadi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kelembapan udara adalah total uap air yang terdapat di dalam atmosfer, sedangkan indeks labilitas atmosfer adalah indeks untuk mengetahui ketidakstabilan atmosfer dalam memprakirakan kejadian hujan. Data kelembapan udara atas maupun indeks labilitas atmosfer (SI, KI, LI, TT, SWEAT, dan CAPE) diperoleh dari perangkat radiosonde yang selanjutnya dihitung menggunakan program RAOB. Kelembapan udara atas yang diamati yaitu di lapisan 850 mb, 700 mb, dan 500 mb. Sementara, data curah hujan diperoleh dari penakar hujan OBS. Semua data dari ketiga variabel dianalisis dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa selama tahun 2023, intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar 324,78 mm dan intensitas curah hujan paling rendah terjadi pada bulan September sebesar 0,25 mm. Kelembapan udara atas yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam memprediksi hujan ialah kelembapan udara atas pada lapisan 700 mb dan 500 mb karena memiliki korelasi kuat. Indeks LI, SWEAT, dan CAPE merupakan indeks labilitas atmosfer yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam memprediksi hujan karena memiliki korelasi kuat.
Abtrak (Bhs. Inggris)Rain is a hydrometeorological phenomenon consisting of water droplets with a diameter of 0.5 mm or more. Heavy rainfall can impact flight activities as it can make runways slippery and reduce visibility. Rain occurs due to unstable atmospheric conditions, triggered by humidity that increases the number of water droplets in the atmosphere. Therefore, research on the correlation between upper air humidity and atmospheric instability indices with rainfall is crucial as a consideration or guide in predicting rainfall events and other weather phenomena that may endanger human activities, particularly aviation. This study aims to determine the correlation between upper air humidity and atmospheric instability indices with the intensity of rainfall occurring at Soekarno-Hatta International Airport. Upper air humidity refers to the total water vapor present in the atmosphere, while the atmospheric instability index indicates the instability of the atmosphere in forecasting rainfall events. Data on upper air humidity and atmospheric instability indices (SI, KI, LI, TT, SWEAT, and CAPE) were obtained from radiosonde devices and subsequently analyzed using the RAOB program. The observed upper air humidity levels were at 850 mb, 700 mb, and 500 mb. Meanwhile, rainfall data were obtained from an OBS rain gauge. All data from the three variables were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The results indicate that during 2023, the highest rainfall intensity occurred in February at 324.78 mm, while the lowest rainfall intensity was recorded in September at 0.25 mm. The upper air humidity at the 700 mb and 500 mb levels can serve as references for predicting rainfall due to their strong correlation. The LI, SWEAT, and CAPE indices are atmospheric instability indices that can also be used as references for predicting rainfall because they exhibit a strong correlation.
Kata kunciHujan, Kelembapan Udara Atas, Indeks Labilitas Atmosfer, Korelasi Pearson
Pembimbing 1Jamrud Aminuddin, S.Si., M.Si., Ph.D
Pembimbing 2Wisnu Karya Sanjaya, S.Si., M.Si
Pembimbing 3
Tahun2025
Jumlah Halaman109
Tgl. Entri2025-02-05 10:27:34.337162
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.