Artikel Ilmiah : A1A017027 a.n. DANU RIFA`I

Kembali Update Delete

NIMA1A017027
NamamhsDANU RIFA`I
Judul ArtikelANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI BAWANG MERAH
DI DESA PEKUNCEN KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATAN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)Rata-rata produktivitas bawang merah di Kecamatan Pekuncen tahun 2018-2022 yaitu 3,35 ton per hektar lebih rendah dari rata-rata produktivitas bawang merah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2018-2022 sebesar 9,89 ton per hektar. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui kelayakan usahatani bawang merah di Desa Pekuncen Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas ditinjau dari pendapatan usahatani dan titik impas, 2) Mengetahui kelayakan usahatani bawang merah di Desa Pekuncen Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas ditinjau dari perbandingan revenue dan cost. Metode penelitian menggunakan metode sensus. Analisis yang digunakan yaitu analisis biaya usahatani, penerimaan usahatani, pendapatan usahatani, R/C ratio, dan break even point (BEP). Hasil penelitian ini yaitu pendapatan usahatani bawang merah sebesar Rp1.001.349 per luas lahan garapan atau Rp12.847.309 per hektar. BEP dalam unit sebesar 41,74 kilogram dengan luas lahan rata-rata 0,08 hektar. BEP dalam rupiah sebesar Rp553.839,87 dengan luas rata-rata 0,08 hektar. Berdasarkan analisis R/C ratio, nilai R/C ratio usahatani bawang merah di Desa Pekuncen adalah 1,17. Nilai R/C ratio tersebut lebih dari 1. Berdasarkan kriteria, maka nilai R/C ratio usahatani bawang merah di Desa Pekuncen menguntungkan dan dapat dilanjutkan.
Kata kunci: Usahatani; bawang merah; kelayakan.


Abtrak (Bhs. Inggris)
The average shallot productivity in Pekuncen District in 2018-2022 is 3.35 tonnes per hectare, lower than the average shallot productivity in Central Java Province in 2018-2022 which is 9.89 tonnes per hectare. The objectives of this research are: 1) To determine the feasibility of shallot farming in Pekuncen Village, Pekuncen District, Banyumas Regency in terms of farming income and break-even point, 2) To determine the feasibility of shallot farming in Pekuncen Village, Pekuncen District, Banyumas Regency in terms of revenue and cost comparisons. The research method uses the census method. The analysis used is analysis of farming costs, farming revenues, farming income, R/C ratio, and break even point (BEP). The results of this research are that the income from shallot farming is IDR 1.001.349 per area of cultivated land or IDR 12.847.309 per hectare. The BEP in units is 41,74 kilograms with an average land area of 0.08 hectares. The BEP in rupiah is IDR 553.839,87 with an average area of 0.08 hectares. Based on the R/C ratio analysis, the R/C ratio value for shallot farming in Pekuncen Village is 1,17. The R/C ratio value is more than 1. Based on the criteria, the R/C ratio value of shallot farming in Pekuncen Village is profitable and can be continued.
Keywords: Farming; shallot; feasibility
Kata kunciFarming; shallot; feasibility
Pembimbing 1Dr. Irene Kartika Eka W, S.P., M.P.
Pembimbing 2Ratna Satriani, S.P., M.Sc.
Pembimbing 3
Tahun2024
Jumlah Halaman17
Tgl. Entri2024-08-19 12:23:50.164423
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.