Artikel Ilmiah : E1A020127 a.n. DHITA NUR HANIFAH

Kembali Update Delete

NIME1A020127
NamamhsDHITA NUR HANIFAH
Judul ArtikelKekuatan Pembuktian Keterangan Crown Witness yang Memiliki Hubungan Perkawinan dengan Terdakwa Tindak Pidana Pembunuhan Berencana (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 88/Pid.B/2023/PN Tar)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kekuatan Pembuktian Keterangan Crown Witness yang Memiliki Hubungan
Perkawinan dengan Terdakwa Tindak Pidana Penyertaan dalam
Pembunuhan Berencana (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor
88/Pid.B/2023/PN Tar)
Oleh: Dhita Nur Hanifah
E1A020127
ABSTRAK
Penuntut umum berewenang menggabungkan berkas perkara tindak pidana yang
dilakukan beberapa orang berdasarkan pasal 141 KUHAP. Namun, pasal 142
KUHAP mengatur bahwa penuntut umum juga berwenang melakukan pemisahan
berkas perkara. Pemecahan berkas perkara disebut splitsing. Memecah berkas
perkara menjadi dua/lebih disebut a split trial. Splitsing biasanya dilakukan pada
perkara minim alat bukti dengan tujuan para terdakwa secara timbal balik dapat
menjadi saksi bagi terdakwa lainnya yang sering disebut sebagai saksi mahkota.
Splitsing memungkinkan para terdakwa yang merupakan suami istri dapat
memberikan keterangannya sebagai saksi mahkota pada berkas perkara yang
menuntut suami/isterinya. Penggunaan saksi mahkota yang memiliki hubungan
perkawinan dengan terdakwa terdapat pada kasus tindak pidana yang terjadi di
wilayah hukum Pengadilan Negeri Tarakan dengan saksi mahkota yang merupakan
suami dari terdakwa tindak pidana penyertaan dalam pembunuhan berencana.
Penelitian ini membahas kekuatan pembuktian keterangan saksi mahkota yang
memiliki hubungan perkawinan dengan terdakwa serta penggunaan keterangan
saksi mahkota tersebut dalam pemenuhan unsur tindak pidana pada pertimbangan
hakim. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan
spesifikasi penelitian preskriptif. Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dan dokumenter.
Data yang diperoleh disajikan dengan teks naratif yang dianalisis dengan metode
normatif kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan keterangan saksi mahkota yang
mempunyai hubungan perkawinan dengan terdakwa tindak pidana penyertaan
dalam pembunuhan berencana memiliki kekuatan pembuktian bebas tergantung
penilaian hakim serta keterangannya digunakan sebagai pertimbangan dalam
membuktikan unsur-unsur penyertaan dalam pembunuhan berencana. Namun,
keberadaan saksi mahkota pada perkara ini tidak disebutkan secara tegas pada
pertimbangan yuridis majelis hakim sehingga saksi tersebut pada perkaranya yang
menuntutnya tidak dapat mengajukan pledoi atas kedudukannya sebagai saksi
mahkota.
Kata Kunci: Kekuatan Pembuktian, Saksi Mahkota, Tindak Pidana Penyertaan
Abtrak (Bhs. Inggris)The Evidentiary Power of the Testimony of Crown Witnesses Who Have a
Marital Relationship with the Defendant of the Crime of Participation in a
Planned Murder (Juridical Review of Decision Number 88/Pid.B/2023/PN Tar)
Written By:
Dhita Nur Hanifah
E1A020127
ABSTRACT
The public prosecutor has the authority to combine the case files of criminal acts committed
by several people under article 141 of the Code of Criminal Procedure. However, article
142 of the Criminal Procedure Code stipulates that the public prosecutor is also authorized
to separate case files. Splitting a case file is called splitsing. Splitting the case file into
two/more is called a split trial. Splitsing is usually done in cases of lack of evidence with
the aim that the defendants can reciprocally become witnesses for other defendants who
are often referred to as crown witnesses. Splitsing allows defendants who are husband and
wife to give their testimony as crown witnesses in case files that prosecute their
husbands/wives. The use of crown witnesses who have a marital relationship with the
accused is found in criminal cases that occur in the jurisdiction of the Tarakan District
Court with the crown witness who is the husband of the accused of the crime of
participation in premeditated murder. This study discusses the evidentiary strength of the
testimony of crown witnesses who have a marital relationship with the accused and the use
of crown witness statements in fulfilling the elements of criminal acts at the judge's
consideration. This research uses a normative juridical approach method with prescriptive
research specifications. The data source used is secondary data. The data collection
method is carried out by literature and documentary studies. The data obtained are
presented with narrative texts analyzed by qualitative normative methods. The results of
the study concluded that the testimony of crown witnesses who had a marital relationship
with the accused of the crime of participation in premeditated murder had free evidentiary
power depending on the judge's judgment and his testimony was used as a consideration
in proving the elements of participation in premeditated murder. However, the existence
of a crown witness in this case is not expressly mentioned in the juridical judgment
of the panel of judges so that the witness in his case who claims him cannot apply
for a plea to his position as a crown witness.
Keywords: Power of Evidence, Crown Witness, Criminal Participation
Kata kunciKekuatan Pembuktian, Saksi Mahkota, Tindak Pidana Penyertaan
Pembimbing 1Dessi Perdani Yuris Puspita Sari, S.H., M.H.
Pembimbing 2Lintang Ario Pambudi, S.H., M.H.
Pembimbing 3Prof. Dr. Hibnu Nugroho, S.H., M.H.
Tahun2024
Jumlah Halaman25
Tgl. Entri2024-05-14 10:33:04.133599
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.