Artikel Ilmiah : F1A020023 a.n. HERLIS PUJIASIH

Kembali Update Delete

NIMF1A020023
NamamhsHERLIS PUJIASIH
Judul ArtikelMELACAK BIAS GENDER DALAM TRADISI NYUMBANG (Studi di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Solidaritas sosial merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pada masyarakat pedesaan, solidaritas terwujud dan dikuatkan oleh berbagai macam tradisi, salah satunya tradisi nyumbang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan praktik bias gender dalam tradisi nyumbang di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling dengan sasaran penelitian orang yang pernah terlibat langsung dalam tradisi nyumbang dan mengetahui praktik tradisi ini dari masa ke masa. Dalam penelitian ini digunakan sebanyak enam orang informan, meliputi empat orang yang aktif terlibat dalam tradisi nyumbang dan juga dua tokoh masyarakat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi nyumbang yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Somagede terkait dengan siklus kehidupan manusia dari mulai sebelum kelahiran hingga setelah kematian, meliputi mitoni, tilik bayi, mbarang gawe, selamatan kematian, dan sambatan. Terdapat perbedaan keterlibatan antara laki laki dan perempuan dalam tradisi nyumbang, khususnya dalam hajatan mbarang gawe. Laki laki terlibat seperti pada acara kesambat nratag, kesambat njenang, mendatangi slametan bukakan mbarang gawe dan nyumbang dalam bentuk uang. Sedangkan perempuan terlibat pada rewang dan nyumbang, yang mana besaran dan bentuk sumbangan disesuaikan pada hubungan antara si pemilik hajat dan si penyumbang. Selain itu terdapat pula bias gender dalam tradisi nyumbang diantaranya dari dimensi bentuk sumbangan yang diberikan, saat atau waktu untuk menyumbang, dan resiprositas yang diperoleh yang berbeda antara laki laki dan perempuan. Bias gender yang terjadi dalam tradisi nyumbang ini ada kaitannya dengan konstruksi sosial di masyarakat tentang apa yang pantas atau tidak pantas dan yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh laki laki dan perempuan dalam tradisi tersebut. Munculnya bias gender dalam tradisi nyumbang ini tidak diketahui asal muasalnya seperti apa, masyarakat hanya melakukan apa yang sudah menjadi tradisi sejak dulu dan diwariskan secara turun menurun.
Abtrak (Bhs. Inggris)Social solidarity is a very important element in social life. In rural communities, solidarity is realized and strengthened by various traditions, one of which is the tradition of donating. This research aims to describe and explain gender bias practices in the nyumbang tradition in Somagede District, Banyumas Regency using descriptive qualitative research methods. Data collection uses in-depth interviews, observation and documentation studies. The technique for determining informants uses purposive sampling with the research target being people who have been directly involved in the nyumbang tradition and know the practice of this tradition from time to time. In this research, six informants were used, including four people who were actively involved in the tradition of donating and also two community leaders. The findings of this research show that the tradition of donating carried out by people in Somagede District is related to the human life cycle from before birth to after death, including mitoni, babysitting, mbarang gawe, death congratulations, and splice. There are differences in involvement between men and women in the tradition of donating, especially in mbarang gawe celebrations. Men are involved in events such as kesambat nratag, kesambat njenang, going to the slametan to open mbarang gawe and donating in the form of money. Meanwhile, women are involved in rewang and donat, where the amount and form of donation are adjusted to the relationship between the owner of the wish and the donor. Apart from that, there is also gender bias in the tradition of donating, including the dimensions of the form of donation given, the timing or timing of donating, and the reciprocity obtained which is different between men and women. The gender bias that occurs in the nyumbang tradition is related to social construction in society about what is appropriate or inappropriate and what men and women should do or not do in this tradition. The origin of this gender bias in the tradition of donating is unknown, people only do what has been a tradition for a long time and has been passed down from generation to generation.
Kata kuncisolidaritas sosial, bias gender, tradisi nyumbang
Pembimbing 1Dr. Soetji Lestari, M.Si
Pembimbing 2Dra. Tri Rini Widyastuti, M.Si.
Pembimbing 3Dr. Ign. Suksmadi Sutoyo, M.Si
Tahun2024
Jumlah Halaman14
Tgl. Entri2024-02-06 10:54:32.136742
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.