Artikel Ilmiah : A1D019003 a.n. HENDRA

Kembali Update Delete

NIMA1D019003
NamamhsHENDRA
Judul ArtikelPengaruh Aplikasi Herbisida Terhadap Gulma, Bakteri Tanah, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Budidaya tanaman jagung manis relatif lebih menguntungkan dikarenakan jagung manis mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dipasaran dan masa produksinya relatif lebih cepat. Gangguan biotik selain hama dan penyakit tanaman adalah gangguan gulma yang menyebabkan terjadinya kompetisi baik hara, air maupun ruang hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh herbisida berbahan aktif paraquat, glifosat, atrazin, mesotrion, dan nicosulfuron terhadap diversitas gulma, efektivitasnya dalam mengendalikan gulma pada pertanaman jagung dan pengaruhnya terhadap kelimpahan populasi bakteri tanah. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas satu faktor yaitu pengendalian gulma, terdiri atas 8 taraf dan 4 ulangan. Taraf perlakuan terdiri dari H0 (kontrol), H1 (penyiangan), H2 (paraquat), H3 (glifosat), H4 (paraquat, atrazin, dan mesotrion), H5 (glifosat, atrazin dan mesotrion), H6 (paraquat, atrazin, mesotrion dan nicosulfuron) dan H7 (glifosat, atrazin, mesotrion dan nicosulfuron). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf kesalahan 5%, dan dilanjutkan Uji DMRT jika nyata. Kombinasi herbisida berbahan aktif glifosat, paraquat, atrazin, mesotrion dan nicosulfuron mampu mengendalikan gulma tanaman jagung manis. Efektivitas pengendalian gulma glifosat dan paraquat yang menurun pasca 35 HST menyebabkan dominansi berbagai jenis gulma meningkat, namun dengan diaplikasikannya herbisida pasca tumbuh atrazin, mesotrion dan nicosulfuron mampu menurunkan diversitas gulma hingga masa panen. Petak H4 (paraquat, atrazine dan mesotrion) memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman 145,72 cm; jumlah daun 10,85 helai; bobot jagung per petak efektif 41,87 kg/petak; bobot jagung per hektar 16,75 ton/ha. Paparan herbisida yang bersifat toksik menyebabkan mikroba tercekam dan keragaman mikroba terdegradasi. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kepadatan bakteri tanah pasca 55 HST (glifosat dan paraquat) dan pasca 35 hari (atrazin, mesotrion, dan nicosulfuron), dari 10,07x10-8 CFU/mL menjadi 9,55x10-8 CFU/mL (bakteri total).
Abtrak (Bhs. Inggris)Sweet corn cultivation is relatively more profitable because sweet corn has high economic value on the market and its production period is relatively faster. Biotic disturbances apart from pests and plant diseases are weed disturbances which cause competition for nutrients, air and living space. This research aims to determine the effect of herbicides containing the active ingredients paraquat, glyphosate, atrazine, mesotrione and nicosulfuron on weed diversity, their effectiveness in controlling weeds in corn plantations and their effect on accelerating soil bacterial populations. The design used was a Randomized Block Design (RAK) which consisted of one factor, namely weed control, consisting of 8 levels and 4 replications. Treatment levels consist of H0 (Control), H1 (Weeding), H2 (Paraquat), H3 (Glyphosate), H4 (Paraquat, Atrazine, and Mesotrione), H5 (Glyphosate, Atrazine and Mesotrione), H6 (Paraquat, Atrazine, Mesotrione and Nicosulfuron) and H7 (Glyphosate, Atrazine, Mesotrione and Nicosulfuron). A combination of herbicides containing the active ingredients glyphosate, paraquat, atrazine, mesotrione and nicosulfuron is able to control sweet corn weeds. The effectiveness of glyphosate and paraquat weed control decreases after 35 HST causing the dominance of various types of weeds to increase, however, with the application of post-emergence herbicides atrazine, mesotrione and nicosulfuron it is able to reduce weed diversity until harvest time. Plot H4 (paraquat, atrazine and mesotrion) gave the best results at a variable plant height of 145.72 cm; number of leaves 10.85 pieces; green leaves 52.15 units; effective corn weight per plot 41.87 kg/plot; corn weight per hectare 16.75 tonnes/ha. Exposure to toxic herbicides causes microbes to be stressed and microbial diversity is degraded. . The results showed a decrease in soil bacterial density after 55 DAP (glyphosate and paraquat) and after 35 DAP (atrazine, mesotrione, and nicosulfuron), from 10.07x10-8 CFU/mL to 9.55x10-8 CFU/mL (total bacteria).
Kata kunciGulma, Herbisida, Kepadatan Bakteri, Jagung Manis
Pembimbing 1Dr. Purwanto, S.P., M.Sc.
Pembimbing 2Ida Widiyawati, S.P., M.Si.
Pembimbing 3
Tahun2024
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2024-02-04 16:26:04.303142
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.