Artikel Ilmiah : J1B019054 a.n. ADHITYA NOER RACHMA

Kembali Update Delete

NIMJ1B019054
NamamhsADHITYA NOER RACHMA
Judul ArtikelKesantunan Tuturan Bahasa Jawa oleh Masyarakat Desa Cikawung, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)Masyarakat Desa Cikawung merupakan masyarakat tutur yang menggunakan Bahasa Jawa Banyumasan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka mengenal tingkat tutur yang berbentuk ngoko dan krama yang masingmasing memiliki perbedaan tingkat kesantunan. Kesantunan tertinggi diwujudkan dalam penggunaan tingkat krama, sementara kesantunan rendah diwujudkan dalam penggunaan tingkat ngoko. Penelitian ini berfokus pada analisis kesantunan tuturan berdasarkan tingkat tutur Bahasa Jawa yang dituturkan masyarakat Desa Cikawung, serta mendeskripsikan faktor sosial yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, peneliti merumuskan masalah bagaimana wujud kesantunan yang dituturkan oleh masyarakat dan faktor apa saja yang melatarbelakangi penggunaan tingkat tutur tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan kajian sosiolinguistik dalam menganalisis data penelitian yang berupa tuturan Bahasa Jawa pada masyarakat Desa Cikawung. Data tersebut diperoleh secara acak melalui metode simak, rekam dan catat. Selanjutnya, dilakukan analisis data menggunakan metode padan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cikawung lebih dominan menggunakan Bahasa Jawa tingkat tutur ngoko di dalam ranah keluarga dan tingkat tutur krama lebih banyak digunakan dalam ranah ketetanggaan. Artinya, masyarakat Desa Cikawung lebih banyak bertuturan santun saat berada di luar rumah yang ditandai dengan penggunaan tingkat tutur krama yang sekaligus menunjukkan kesantunan negatif karena bertujuan untuk menghormati lawan tutur. Sebaliknya, masyarakat Desa Cikawung kurang mementingkan penggunaan tuturan santun dalam ranah keluarga dan memilih menggunakan tingkat tutur ngoko yang menunjukkan kesantunan positif karena bertujuan untuk membuat suasana tuturan lebih santai. Selain itu, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor sosial yang melatarbelakangi pemilihan tingkat tutur oleh masyarakat Desa Cikawung yaitu faktor partisipan, pekerjaan, pendidikan, lingkungan, dan fungsi tuturan. Faktor partisipan dan lingkungan menjadi faktor yang paling mendominasi pemilihan tingkat tutur Bahasa Jawa oleh masyarakat Desa Cikawung. Kata kunci: bahasa Jawa; kesanunan; faktor sosial; sosiolinguisik; tingkat tutur
Abtrak (Bhs. Inggris)The Cikawung villagers are the speech community that use ‘Banyumasan’ Javanese language in their daily life. That’s why, almost all the Cikawung’s people knew the speech level in form of ‘ngoko’ and ‘krama’ which each of them had the different level of politeness. The highest politeness was manifested in the use of speech level ‘krama’. While the lowest politeness was in the used of speech level ‘ngoko’. The research focused at the analysis of the politeness speechs according to the Javanese’s language’s speech level which were spoken by Cikawung villagers and also described the social factors that caused those speechs. That’s way the researcher formulated the problem about how were the form of politeness which spoken of the Cikawung villagers and what are the social factors that caused them all. This research was a qualiaive descriptive research which used sociolinguistic theory to analyze the research’s datas in the of Javanese language’s speechs in Cikawung villagers. The datas were obtained randomly used the look method, recorded and wrote method. Then the dates were analyzed using the matching method. The result of the research showed that Cikawung villagers mostly used Javanese language in ‘ngoko’ speechs level while were in family realm and the ‘krama’ speechs level mostly used in neighborhood’s realm. It means most of Cikawung villagers spoke more polite in the oufside of their house that signed by the using of ‘krama’ speech level that also showed a negative politeness because it was to respect the opponent speaker. Meanwhile, the Cikawung villagers less prioritizing the use of polite speech in the family realm and used the ‘ngoko’ speech level that showed a positive politeness because it was to create a relaxed conversation’s atmosphere. Beside that, the researcher conclude that there were some social factors that caused the choosing of speechs level, they were particpants factor, jobs, educations, environments were the most factors which dominate the choosing of Javanese language speechs level. Keywords: Javanese language; politeness; social factor; sociolinguistic; speech level
Kata kuncibahasa Jawa; kesantunan; faktor sosial; sosiolinguisik; tingkat tutur
Pembimbing 1Ashari Hidayat, S.S., M.A.
Pembimbing 2Octaria Putri Nurharyani, S.S., M.Hum.
Pembimbing 3
Tahun2023
Jumlah Halaman11
Tgl. Entri2023-11-22 10:46:34.263972
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.