| NIM | F1A020079 |
| Namamhs | PRAYA ARIFFA AMIRAH |
| Judul Artikel | Ketidakadilan Perempuan: Representasi Perempuan Sebagai Objek pada Film Dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Perempuan dan laki-laki adalah setara. Namun, stereotip yang muncul di masyarakat memposisikan perempuan memiliki sifat lemah dan harus tunduk kepada laki-laki. Salah satu bentuk ketidakadilan perempuan adalah objektifikasi. Film Keep Sweet, Pray and Obey menggambarkan objektifikasi kepada perempuan melalui narasi agama. Tujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan gambaran bentuk objektifikasi perempuan dalam film Keep Sweet Pray and Obey. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif untuk menganalisa lapisan makna yang menggambarkan perempuan terobjektifikasi. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam artikel ini adalah semiotika model Roland Barthes. Hasil pembahasan ini, laki-laki dan perempuan seolah terbatas akan penampilan yang terkonstruksi dalam kultur budayanya. Kemungkinan terjadinya bentuk-bentuk penindasan tidak menjadi perhatian khusus masyarakat luas. Pada tataran film ini menunjukan perjuangan perempuan sebagai korban penindasan dan poligami yang dianggap di luar batas kewajaran. Konotasi tersebut membawa mitos tentang perempuan yang ditindas dogma agama dimana perempuan harus patuh dan mengorbankan dirinya sendiri sebagai perempuan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Women and men are equal. However, stereotypes that emerge in society position women as weak and must be submissive to men. One form of injustice against women is objectification. The films Keep Sweet, Pray and Obey depict the objectification of women through religious narratives. The purpose of this article is to explain the depiction of women's objectification in the films Keep Sweet Pray and Obey. This article uses qualitative-interpretive research methods to analyze the layers of meaning that describe objectified women. The data analysis technique that will be used in this article is Roland Barthes' semiotic model. The results of this discussion show that men and women seem to be limited by the appearance that is constructed in their culture. The possibility of other forms of oppression is not of particular concern to the wider community. At the level of this film, it shows the struggle of women as victims of oppression and polygamy which is considered beyond normal limits. This connotation carries the myth of women being oppressed by religious dogma where women must obey and sacrifice themselves as women. |
| Kata kunci | Objektifikasi; FLDS; Semiotika; Roland Barthes; Ketidakadilan Perempuan |
| Pembimbing 1 | Arizal Mutahir |
| Pembimbing 2 | Sulyana Dadan |
| Pembimbing 3 | Wiman Rizkidarajat |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 13 |
| Tgl. Entri | 2023-11-16 14:15:45.851009 |
|---|