Artikel Ilmiah : C1G019007 a.n. DIEGO AGUNG LAKSONO
| NIM | C1G019007 |
|---|---|
| Namamhs | DIEGO AGUNG LAKSONO |
| Judul Artikel | THE EFFECT OF USING QRIS ON REVENUE AND PROFIT OF MICRO AND SMALL ENTERPRISE IN BANYUMAS REGENCY |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran menggeser peranan uang tunai sebagai alat pembayaran ke dalam bentuk pembayaran digital. QRIS (Quick Response Indonesian Standard) merupakan salah satu alat pembayaran non tunai yang dibuat oleh Bank Indonesia. Kabupaten Banyumas merupakan Kabupaten pengguna QRIS tertinggi di Karesidenan Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan revenue UMK menggunakan QRIS dan tidak menggunakan QRIS, perbedaan profit UMK menggunakan QRIS dan tidak menggunakan QRIS, perbedaan revenue UMK sebelum dan sesudah memakai QRIS dan perbedaan profit UMK sebelum dan seseudah memakai QRIS. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan deskriptif komparatif kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji wilcoxon dan analisis deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer dengan menyebar kuesioner. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 200 yang meliputi usaha mikro dan kecil menggunakan QRIS dan tidak menggunakan QRIS. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan revenue UMK pengguna QRIS dan bukan pengguna QRIS, terdapat perbedaan profit UMK pengguna QRIS dan bukan pengguna QRIS, terdapat perbedaan revenue sebelum dan sesudah menggunakan QRIS, dan terdapat perbedaan profit sebelum dan sesudah menggunakan QRIS bagi pelaku usaha mikro dan kecil di Kabupaten Banyumas. Implikasi penggunaan QRIS oleh masyarakat luas belum tersedia dengan baik, banyaknya masyarakat yang belum memiliki sarana dan prasarana internet dari berbagai operator seluler, sehingga pengguna QRIS tidak dapat memaksimalkan dalam kemudahan dan bertransaksi secara non tunai. Penerapan QRIS memerlukan waktu yang cukup lama terutama di kota-kota kecil. Hal ini mengingat tingkat literasi keuangan digital di Indonesia yang masih sangat rendah. Sehingga, dibutuhkan sosialiasi dan edukasi secara masif ke seluruh lapisan masyarakat. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Technological advances in the payment system have shifted the role of cash as a means of payment to digital payments, QRIS (Quick Response Indonesian Standard) is a non-cash payment instrument created by Bank Indonesia. Banyumas Regency is the highest QRIS user district in the Banyumas Residency. This study aims to analyze the differences in MSE revenue using QRIS and without QRIS, the differences in MSE profits using QRIS and without QRIS, the differences in MSE revenue before and after using QRIS and the differences in MSE profits before and after using QRIS.This study aims to analyze the differences in MSE revenue using QRIS and without using QRIS, the differences in MSE profit using QRIS and without using QRIS, the differences in MSE revenue before and after using QRIS and the differences in MSE profits before and after using QRIS. This research is with a quantitative comparative descriptive approach. The method used in this study is the Wilcoxon test and descriptive analysis. The data used is primary data by distributing questionnaires. The number of respondents to this study was 200, including micro and small businesses using QRIS and without using QRIS. The results of this study indicate that there are differences in the revenue of MSE using QRIS and without using QRIS, there are differences in the profits of MSE using QRIS and without QRIS, there are differences in revenue before and after using QRIS, and there are differences in profit before and after using QRIS for micro and small businesses in Banyumas Regency. The implications of using QRIS by the wider community are not yet well available, many people do not yet have internet facilities and infrastructure from various cellular operators, so that QRIS users cannot maximize convenience and make non-cash transactions. QRIS implementation requires quite a long time, especially in small towns. This is because the level of digital financial literacy in Indonesia is still very low. Thus, massive outreach and education is needed to all levels of society. |
| Kata kunci | Pendapatan kotor, Pendapatan bersih, QRIS, UMK, Ekonomi Digital |
| Pembimbing 1 | Dr. Lilis Siti Badriah, S.E, M.Si |
| Pembimbing 2 | Ratna Setyawati G, S.E., M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr. Arintoko, S.E, M.Si |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 114 |
| Tgl. Entri | 2023-10-09 10:48:17.021139 |