Artikel Ilmiah : F1F019008 a.n. TITHA LYZIANA NIRMALA
| NIM | F1F019008 |
|---|---|
| Namamhs | TITHA LYZIANA NIRMALA |
| Judul Artikel | Peran International Labour Organization (ILO) dalam Penegakan Hak Asasi Buruh Sektor Industri Garmen di Kamboja Tahun 2014-2022 |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Perekenomian Kamboja sangat disokong oleh industri garmen mengakibatkan sebagian besar pabrik di Kamboja mengadakan kontrak dengan beberapa merek-merek internasional terkemuka mengadakan kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar di Kamboja. Namun, hak buruh seringkali tidak terpenuhi. Dari tahun 2014-2022 marak terjadi pelanggaran hak asasi buruh garmen diantaranya lembur paksa, diskriminasi ibu hamil dan pelecehan seksual, upah minimum dan larangan serikat pekerja. Pelanggaran semakin merajalela ketika pandemic COVID-19 muncul. Hal tersebut mengundang banyak perhatian terutama dari ILO apalagi dengan posisi Kamboja sebagai negara yang meratifikasi ICESCR. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan data sekunder sebagai sumbernya dan dilengkapi dengan konsep peran organisasi internasional sebagai kerangkanya yang ditulis dengan cara penulisan deskriptif. Penghormatan Kamboja terhadap ICESCR diimplementasikan dengan adanya UU Ketenagakerjaan 1997 dan UU Serikat Pekerja 2016 namun penegakannya relatif lemah karena tidak adanya sanksi bagi perusahaan sehingga tidak mengikat untuk semua. Menurut Clive Archer, peran sebuah organisasi internasional terbagi menjadi tiga yakni instrumen, arena dan aktor. Dalam studi kasus ini, ILO memiliki tiga peran dalam menegakkan hak asasi buruh di Kamboja dalam periode tahun 2014-2022 yakni arena dan aktor independen. Sebagai arena, ILO mengadakan kerja sama dengan pemerintah, merek internasional, dan badan internasional serta mengadakan konferensi. Sebagai aktor, ILO menjalankan lembaga buatannya bernama BFC dan melakukan riset serta studi lapangan yang ditujukan untuk berbagi pengetahuan, promosi prinsip fundamental dan advokasi. Peran ILO sebagai instrumen dapat dilihat melalui motif ILO bergabung dan meratifikasi konvensi ILO adalah untuk memperbaiki citra ILO sebagai negara yang memiliki rekam jejak demokrasi dan hak asasi manusia yang baik sehingga dapat menarik investasi asing di industri garmen. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Cambodia's economy is heavily supported by the garment industry resulting in most of the factories in Cambodia contracting with some of the leading international brands contracting with major Cambodian companies. However, labor rights are often not fulfilled. From 2014-2022 there have been widespread violations of the human rights of garment workers including forced overtime, discrimination against pregnant women and sexual harassment, the minimum wage and the prohibition of trade unions. Violations were increasingly rampant when the COVID-19 pandemic emerged. This has attracted a lot of attention, especially from the ILO, especially with Cambodia's position as a country that has ratified the ICESCR. This research is qualitative by using secondary data as the source and equipped with the concept of the role of international organizations as a framework written in a descriptive way. Cambodia's respect for the ICESCR is implemented with the 1997 Manpower Law and the 2016 Trade Union Law, but enforcement is relatively weak because there are no sanctions for companies so they are not binding for all. According to Clive Archer, the role of an international organization is divided into three namely instruments, arenas and actors. In this case study, the ILO has three roles in upholding labor rights in Cambodia in the 2014-2022 period, namely the arena and independent actors. As an arena, the ILO collaborates with governments, international brands and international bodies and organizes conferences. As an actor, the ILO runs its own agency called BFC and conducts research and field studies aimed at knowledge sharing, promotion of fundamental principles and advocacy. The role of the ILO as an instrument can be seen through the ILO's motive for joining and ratifying ILO conventions which is to improve the image of the ILO as a country with a good track record of democracy and human rights so that it can attract foreign investment in the garment industry. |
| Kata kunci | Hak Asasi Manusia (HAM), ILO, buruh garmen Kamboja, Human rights, ILO, Cambodia’s garment workers |
| Pembimbing 1 | Soni Martin Anwar, S.IP., M.A. |
| Pembimbing 2 | Arief Bakhtiar Darmawan, S.IP., M.A. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 78 |
| Tgl. Entri | 2023-08-22 10:51:01.73951 |