| NIM | F1A019098 |
| Namamhs | HILMA ANIDA PRATIWI |
| Judul Artikel | ANALISIS SEMIOTIKA KETIDAKSETARAAN GENDER DALAM FILM BEFORE, NOW AND THEN (NANA, 2022) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Isu kekerasan terhadap perempuan yang berakar dari kultur patriarki sering menjadi tema dalam film, salah satunya film Before, Now, and Then (Nana) yang dirilis tahun 2022. Film karya Kamila Andini, seorang sineas perempuan Indonesia, ini bertutur tentang berbagai bentuk ketidakadilan gender sebagai representasi kultur patriarki yang dialami tokoh perempuan dalam film dan upaya yang dilakukan sang tokoh untuk melawan perlakuan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menjelaskan representasi dan perlawanan budaya patriarki dalam film tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Metode ini memiliki dua tahap signifikansi: signifikansi tahap pertama adalah makna denotasi dan signifikansi tahap kedua adalah makna konotasi dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam film Before, Now, and Then (Nana) terdapat enam adegan yang merepresentasikan adanya wujud kultur patriarki, yaitu: (1) stereotip, (2) beban ganda, (3) seksisme, (4) subordinasi, (5) standar ganda, dan (6) ekploitasi tubuh perempuan. Kemudian terdapat tiga adegan yang menunjukkan perlawanan oleh tokoh perempuan, yaitu: (1) Raden Nana kembali pada Raden Icang, (2) Raden Nana meninggalkan rumah Cirateun tanpa membawa harta pemberian Raden Darga, dan (3) Raden Nana tidak lagi menyanggul rambutnya. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The issue of violence against women rooted in patriarchal culture is often a theme in films, one of which is Before, Now, and Then (Nana), released in 2022. This film by Kamila Andini, an Indonesian female filmmaker, tells the story of various forms of gender injustice as a representation of patriarchal culture experienced by the female character in the film and the efforts made by the character to resist this treatment. The purpose of this research is to know, describe, and explain the representation and resistance of patriarchal culture in the film. The research method used in this study is a qualitative method with Roland Barthes' semiotic analysis. This method has two stages of significance: the first stage significance is the denotation meaning and the second stage significance is the connotation meaning and myth. The results show that in the movie Before, Now, and Then (Nana) there are six scenes that represent a form of patriarchal culture, namely: (1) stereotypes, (2) double burden, (3) sexism, (4) subordination, (5) double standards, and (6) exploitation of women's bodies. Then there are three scenes that show resistance by female characters, namely: (1) Raden Nana returns to Raden Icang, (2) Raden Nana leaves Cirateun's house without taking Raden Darga's gift, and (3) Raden Nana no longer buns her hair. |
| Kata kunci | Isu perempuan, Ketidaksetaraan Gender, Perlawanan Patriarki |
| Pembimbing 1 | Hariyadi |
| Pembimbing 2 | Tri Rini Widyastuti |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 19 |
| Tgl. Entri | 2023-08-22 07:08:39.990384 |
|---|