Artikel Ilmiah : F2A021005 a.n. HERTANTY WAHYU MURTI
| NIM | F2A021005 |
|---|---|
| Namamhs | HERTANTY WAHYU MURTI |
| Judul Artikel | PERAN PEREMPUAN DAN KEMANDIRIAN PEREMPUAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN (STUDI KASUS PROGRAM KELUARGA HARAPAN) UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGs) Di KABUPATEN BANYUMAS |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Di Indonesia, kemiskinan masih menjadi persoalan yang berat. Terutama dari kesenjangan sesorang yang kaya dan miskin. Indonesia sendiri masih memiliki jumlah penduduk miskin sekitar 26363,27 ribu jiwa pada tahun 2022. Kemiskinan sendiri memiliki dampak negatif yaitu masalah sosial yang akan mempengaruhi pembangunan di suatu negara, khususnya pada negara Indonesia karena kemiskinan yang tinggi akan menyebabkan biaya yang harus di keluarkan pemerintah untuk pembangunan ekonomi menjadi lebih besar. Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang RPJPN terdapat beberapa program terkait kemiskinan dalam kebijakan SDGs. Kemiskinan merupakan yang akan diselesaikan dari program SDGs (Sustainable Development Goals). Di Indonesia khususnya pada Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banyumas memiliki presentase penduduk miskin yang sangat tinggi sebesar 220,47 ribu jiwa pada tahun 2022 dan Kabupaten Banyumas memiliki garis kemiskinan sebesar Rp. 417.086 yang berada diatas rata-rata garis kemiskinan Provinsi Jawa Tengan sebesar Rp. 409.193. Garis kemiskinan Kabupaten Banyumas dikategorikan tinggi dibandingkan Kabupaten di lingkup Barlingmascakeb sehingga hal ini menunjukan bahwa kebutuhan hidup di Kabupaten Banyumas tinggi. Perempuan menduduki sepertiga jumlah penduduk di Dunia yang berada pada garis kemiskinan sekitar 70%. Perempuan merupakan sumber daya manusia yang sebaiknya tidak dibedakan kualitasnya dengan laki-laki.. Keterlibatan perempuan menjadi syarat mutlak dalam upaya meujudkan pembangunan yang berkeadilan (Manembu, 2017). Upaya dalam mewujudkan pembangunan dengan pengentasan kemiskinan, dimana perempuan memiliki peran strategis dalam pengentasan kemiskinan di dunia. Di Negara maju, peran perempuan justru sangat tinggi dalam partisipasinya karena perempuan Ketika mendapatkan akses keuangan maka cenderung akan mengelola demi Kesehatan dan kesejahteraannya karena biasanya perempuan berjiwa entrepreneur dalam mengentaskan kemiskinan.Berdasarkan penjabaran di atas maka peneliti tertarik meneliti tentang peran perempuan untuk mengentaskan kemiskinan dalam pembangunan berkelanjutan yang berlokasi di Kabupaten Banyumas Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data pada masa lampau atau saat ini dengan menguji beberapa variabel (Sugiyono, 2018).Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan melakukan Coding, Entering, dan Cleaning serta melakukan pengujian Uji Parsial, Uji Simultan, dan Koefisien Determinan dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 100 responden. Hasil menunjukkan pengaruh peran perempuan (X1) dan kemandirian (X2) terhadap pengentasan kemiskinan yang dilakukan terhadap 100 orang responden yang diambil dari lima kecamatan di Kabupaten Banyumas. Maka dapat disimpulkan bahwa Koefisien regresi linear berganda variabel peran perempuan bernilai positif dan memiliki kenaikan satu satuan, variabel peran perempuan akan menaikkan pengentasan kemiskinan. Nilai signifikan menunjukkan lebih kecil dari taraf nyata. Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak. Artinya ada pengaruh positif dan signifikan secara parsial dari peran perempuan terhadap pengentasan kemiskinan pada penerima manfaat PKH di lima kecamatan di Kabupaten Banyumas.Koefisien regresi linear berganda variabel kemandirian bernilai negatif dan penurunan satu satuan, variabel kemandirian akan menurunkan pengentasan kemiskinan. Nilai signifikan lebih besar dari taraf nyata. Jadi dapat disimpukan bahwa hipotesis penelitian ini pada variabel kemandirian yaitu Ha ditolak dan Ho diterima. Artinya, variabel kemandirian tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Ketika semua variabel, baik peran perempuan (X1), kemandirian (X2), maupun pengentasan kemiskinan (Y) diuji bersama menggunakan Uji F, maka diperoleh nilai Fhitung lebih besar daripada Ftabel. Nilai signifikansi lebih kecil dari taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa secara simultan atau bersama-sama variabel independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable dependen.Koefisien determinasi menunjukkan nilai R Square sebesar 0,481, artinya bahwa 48,1% variasi perubahan pengentasan kemiskinan pada kelompok wanita PKH di lima kecamatan berbeda di Kabupaten Banyumas dapat dijelaskan oleh variabel bebas ialah peran perempuan dan kemandirian sedangkan sisanya sebesar 51,9% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | In Indonesia, poverty is still a serious problem. Especially from the gap between the rich and the poor. Indonesia itself still has a poor population of around 26363.27 thousand people in 2022. Poverty itself has a negative impact, namely social problems that will affect development in a country, especially in the country of Indonesia because high poverty will cause costs to be issued by the government for greater economic development. Law No. 17 of 2007 concerning the RPJPN contains several programs related to poverty in the SDGs policy. Poverty is what will be resolved from the SDGs (Sustainable Development Goals) program. In Indonesia, especially in Central Java Province and Banyumas Regency, there is a very high percentage of poor people of 220.47 thousand people in 2022 and Banyumas Regency has a poverty line of Rp. 417,086 which is above the average poverty line for Central Java Province of Rp. 409,193. The poverty line for Banyumas Regency is categorized as high compared to the Barlingmascakeb Regency, so this shows that the needs of life in Banyumas Regency are high. Women occupy a third of the world's population who live in a poverty line of around 70%. Women are human resources whose quality should not be differentiated from men. The involvement of women is an absolute requirement in efforts to achieve equitable development (Manembu, 2017). Efforts to realize development by alleviating poverty, where women have a strategic role in alleviating poverty in the world. In developed countries, the role of women is actually very high in their participation because when women get access to finance, they tend to manage it for the sake of their health and welfare because usually women have an entrepreneurial spirit in alleviating poverty. Based on the description above, researchers are interested in researching the role of women in alleviating poverty in development which is located in Banyumas Regency This study uses a quantitative research method that is used to obtain past or current data by testing several variables (Sugiyono, 2018). The data collection technique in this study is by Coding, Entering, and Cleaning as well as conducting Partial Tests, Simultaneous Tests, and the Determinant Coefficient with the number of samples in this study as many as 100 respondents. The results show the influence of women's roles (X1) and independence (X2) on poverty alleviation carried out on 100 respondents taken from five sub-districts in Banyumas Regency. So it can be concluded that the coefficient of multiple linear regression of the variable role of women is positive and has an increase of one unit, the variable of the role of women will increase poverty alleviation. Significant value indicates smaller than the real level. So it can be concluded that Ha is accepted and H0 is rejected. This means that there is a partial positive and significant effect of the role of women on poverty alleviation in PKH beneficiaries in five sub-districts in Banyumas Regency. The multiple linear regression coefficient of the independence variable is negative and a decrease in one unit, the independence variable will reduce poverty alleviation. The significant value is greater than the real level. So it can be concluded that the research hypothesis on the independent variable, namely Ha is rejected and Ho is accepted. That is, the independent variable has no effect and is not significant on poverty alleviation. When all variables, both the role of women (X1), independence (X2), and poverty alleviation (Y) are tested together using the F test, the Fcount value is greater than Ftable. The significance value is smaller than the significance level used in this study. It can be concluded that simultaneously or together the independent variables have a positive and significant effect on the dependent variable. The coefficient of determination shows an R Square value of 0.481, meaning that 48.1% of the variation in changes in poverty alleviation in PKH women's groups in five different sub-districts in Banyumas Regency can explained by the independent variables are the role of women and independence while the remaining 51.9% is influenced by other variables that are not |
| Kata kunci | Kemiskinan, Perempuan Dalam Kemiskinan dan Gender |
| Pembimbing 1 | Dr. Muslih Faozanudin, M.Sc |
| Pembimbing 2 | Dr. Tobirin, M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr. Hikmah Nuraini, S.Sos |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 123 |
| Tgl. Entri | 2023-08-18 09:54:34.080261 |