Artikel Ilmiah : E1B019003 a.n. MUHAMMAD KAMIL ABIYYU

Kembali Update Delete

NIME1B019003
NamamhsMUHAMMAD KAMIL ABIYYU
Judul ArtikelMARRIAGE ANNULMENT DUE TO HUSBAND STILL BOUNDING IN MARRIAGE (Study Decisions of Cibinong Religious Court Number : 5235/Pdt.G/2022/PA.Cbn)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Pembatalan perkawinan adalah tindakan pengadilan berupa putusan yang
menyatakan perkawinan yang dilakukan itu dinyatakan tidak sah. Pembatalan
perkawinan dapat dilakukan apabila dalam melaksanakan perkawinan tidak
memenuhi syarat sahnya perkawinan sebagaimana diatur di dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Berdasarkan uraian
tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pembatalan
perkawinan karena suami masih terikat perkawinan (Studi Putusan Pengadilan
Agama Cibinong Nomor: 5235/Pdt.G/2022/PA.Cbn).
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan hakim
dalam memutus perkara pembatalan perkawinan pada Putusan Pengadilan Agama Cibinong Nomor: 5235/Pdt.G/PA.Cbn dan akibat hukum dari permbatalan
perkawinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif
dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan
adalah data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yang disajikan dengan teks naratif, dan metode analisis data yang digunakan adalah normatif kualitatif.
Hasil Penelitian dan Pembahasan menunjukan bahwa majelis hakim dalam
mengabulkan permohonan pembatalan pada Perkara Nomor 5235/Pdt.G/2022/
PA.Cbn mendasarkan pada Pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975
dan Pasal 72 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. Pertimbangan hakim yang
mendasarkan Pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 kurang tepat
karena pencatatan perkawinan sudah didasarkan pada Akta Cerai Tergugat.
Menurut Peneliti, hakim dapat menambahkan ketentuan Pasal 3 Undang-undang
Perkawinan jo. Pasal 40 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Pasal 23
Undang-undang Perkawinan jo. Pasal 73 Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan
Pasal 24 Undang-Undang Perkawinan. Akibat hukum yang ditimbulkan adalah
putusnya hubungan hukum sebagai suami-istri antara Penggugat dan Tergugat.
Perkawinan dianggap tidak pernah ada sehingga status dari keduanya kembali
seperti semula. Tidak menimbulkan akibat hukum terhadap kedudukan anak karena tidak ada anak yang lahir dari perkawinan ini. Pembagian harta bersama
dilakukan sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Pembagian harta bersama juga dilakukan sesuai ketentuan hukum islam yang menyatakan bahwa harta kekayaan suami dan harta kekayaan istri adalah terpisah satu dengan yang
lainnya, yakni harta bawaan masing-masing atau harta yang diperoleh setelah
mereka terikat dalam hubungan perkawinan.
Abtrak (Bhs. Inggris)An annulment of a marriage is a court action in the form of a decision
declaring the marriage to be declared invalid. An annulment of a marriage can be
done if the marriage does not meet the requirements for a valid marriage as
stipulated in Law Number 1 of 1974 and the Compilation of Islamic Law. Based on
this description, the researcher is interested in conducting research on the
annulment of marriages because the husband is still married (Study of Decisions of the Cibinong Religious Court Number: 5235/Pdt.G/2022/PA.Cbn).
The formulation of the problem of this research is how the judge considers in
deciding a case for annulment of marriage because the husband is still married to
the decision of the Cibinong Religious Court Number: 5235/Pdt.G/PA.Cbn and the
legal consequences of annulling a marriage. The method used in this research is
normative juridical with analytical descriptive research specifications. The data
source used is secondary data by collecting data using literature studies presented with narrative text, and the data analysis method used is qualitative normative.
The results of the research and discussion show that the judges granted the
request for annulment of the marriage because the husband was still bound by
marriage in Case Number 5235/Pdt.G/2022/PA.Cbn based on Article 44
Government Regulation Number 9 of 1975 and Article 72 paragraph (2)
Compilation Islamic law. The judge's consideration based on Article 44 of
Government Regulation Number 9 of 1975 is not quite right because the marriage
registration is based on the Defendant's Divorce Deed. According to the researcher, to strengthen the decision the panel of judges can add Article 3 of the Marriage Law jo. Article 40 Government Regulation Number 9 of 1975, Article 23 of the Marriage Law jo. Article 73 Compilation of Islamic Law (KHI), and Article 24 of the
Marriage Law. The legal consequence resulting from this decision is the
termination of the legal relationship between the Plaintiff and the Defendant as
husband and wife. The marriage is deemed to have never existed, returning both
parties to their original status. This decision does not affect the legal status of any
children, as there were no children born from this marriage. The division of shared
property is carried out according to the agreement reached by both parties. The
division of shared property is also done in accordance with Islamic law, which states that the wealth of the husband and wife is separate from each other.
Kata kunciPembatalan Perkawinan, Suami Terikat Perkawinan
Pembimbing 1Prof. Tri Lisiani Prihatinah, S.H., M.A., Ph.D.
Pembimbing 2Haedah Faradz, S.H., M.H.
Pembimbing 3Drs. Noor Asyik, M.Ag.
Tahun2023
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2023-07-26 12:54:58.698659
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.