| NIM | H1B019013 |
| Namamhs | MOHAMMAD FAHREZA NOORDIANSYAH |
| Judul Artikel | ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN PADA BANJIR PESISIR DI PEKALONGAN DENGAN PEMODELAN HEC-RAS 2D STUDI KASUS DAS KUPANG |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Banjir pesisir (rob) akhir – akhir ini sering melanda wilayah Pekalongan yang terletak di DAS Kupang. Banjir pesisir ini merupakan banjir yang terjadi akibat pasang air laut lebih tinggi dari bibir bantai atau daratan di pesisir pantai, sehingga mengakibatkan air laut masuk ke daratan dan terjadi banjir di wilayah tersebut. Salah satu penyebab yang memperparah banjir rob adalah perubahan tata guna lahan. Pada Tahun 2018, terdapat 5 Kecamatan pada 20 Desa di Kabupaten Pekalongan dan 1 Kecamatan pada 7 Kelurahan di Kota Pekalongan yang terdampak banjir rob. Banjir terbesar juga terjadi baru – baru ini yaitu pada 5 Februari 2022 dimana terdapat 32.332 korban jiwa dan 5.978 rumah yang terdampak banjir rob. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dimana penulis menggunakan data spasial dan data hidrologi yang diperoleh secara tidak langsung (data sekunder). Metode penelitian ini dimulai dari analisis hidrologi dengan data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan dilanjutkan dengan simulasi HEC-RAS 2D dengan menggunakan peta tata guna lahan 2011 dan 2019 untuk mengatahui luas sebaran daerah yang terdampak banjir. Berdasarkan hasil simulasi model banjir, tampak bahwa luas limpasan banjir pada tahun 2011 sebesar 21,23 km2, sedangkan pada tahun 2019 sebesar 21,06 km2 dimana luas sebaran banjir tersebut masih tinggi dan tidak pengalami penurunan yang signifikan. Kedalaman banjir pada wilayah pemukiman tahun 2011 hingga 2019 juga mengalami peningkatan. Atas kondisi ini penulis memberikan upaya alternatif yang dapat dilakukan pemerintahan daerah sekitar DAS Kupang dalam menangani banjir dengan membagi 2 wilayah antara daerah hulu dan hilir. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Coastal floods (rob) have recently frequently struck the Pekalongan region, located in the Kupang Watershed. These coastal floods occur when high tides exceed the elevation of the coastal areas, resulting in seawater entering the land and causing flooding in the affected areas. One of the exacerbating factors of rob floods is the change in land use. In 2018, five districts comprising 20 villages in the Pekalongan Regency and one district consisting of seven urban villages in the city of Pekalongan were affected by rob floods. The largest flood occurred recently on February 5, 2022, resulting in 32.332 fatalities and 5.978 houses being impacted by rob floods. The research method used in this study was quantitative research, where the author utilized spatial data and hydrological data obtained indirectly (secondary data). The research method began with hydrological analysis using rainfall data from the past 10 years, followed by 2D HEC-RAS simulation using land use maps from 2011 and 2019 to determine the extent of the flood-affected areas. Based on the flood simulation results, it is evident that the flood extent in 2011 covered an area of 21,23 km2, while in 2019, it was 21,06 km2, indicating a high and relatively unchanged flood extent. The flood depth in residential areas also increased from 2011 to 2019. Given these conditions, the author proposes alternative measures that local authorities in the Kupang Watershed area can undertake to address the floods by dividing the region into two areas: the upstream and downstream areas. |
| Kata kunci | Banjir, Tata Guna Lahan, Limpasan, Kedalaman Banjir |
| Pembimbing 1 | Ir. Sanidhya Nika Purnomo, S.T., M.T., Ph.D. |
| Pembimbing 2 | Ir. Wahyu Widiyanto, S.T., M.T., Ph.D. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2023 |
| Jumlah Halaman | 19 |
| Tgl. Entri | 2023-07-25 20:03:38.321701 |
|---|