Artikel Ilmiah : E1A018157 a.n. AJI PAMUNGKAS

Kembali Update Delete

NIME1A018157
NamamhsAJI PAMUNGKAS
Judul ArtikelPERLINDUNGAN BENDA BUDAYA PADA SAAT SENGKETA BESENJATA MENURUT HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL
(Studi tentang Kasus Penghancuran Kota Kuno Bosra di Suriah pada 2015)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Perang merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan yang berdampak bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada objek-objek yang digunakan untuk kepentingan dan kelangsungan hidup manusia. Objek sipil merupakan objek yang tidak boleh diserang pada saat terjadinya sengketa bersenjata. Salah satu objek sipil yang dilindungi dalam hukum humaniter adalah benda budaya, namun seringkali benda budaya mengalami penghancuran pada saat sengketa bersenjata. Salah satu kasus penghancuran benda budaya pada saat konflik bersenjata terjadi di Kota Kuno Bosra di Suriah pada 2015.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan benda budaya pada saat sengketa bersenjata menurut ketentuan hukum humaniter internasional dan menganalisis pelanggaran perlindungan benda budaya dalam kasus penghancuran Kota Kuno Bosra di Suriah pada 2015. Penelitian ini merupakan penelitian hukum yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data berdasarkan studi kepustakaan yang disajikan dalam bentuk teks naratif serta menggunakan metode analisis normatif kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa benda budaya sebagai salah satu objek sipil yang dilindungi dalam hukum humaniter internasional. Perlindungan benda budaya terdiri dari perlindungan umum, khusus dan ditingkatkan, pengaturan perlindungan benda budaya telah diatur dalam Pasal 36 dan 44 Kode Lieber, Pasal 27 Konvensi Den Haag 1899, Pasal 4 dan 9 Konvensi Den Haag 1907, Pasal 4 Konvensi Den Haag 1954, Pasal 53 Protokol Tambahan I dan Pasal 16 Protokol Tambahan II 1977 untuk Konvensi Jenewa 1949, dan Pasal 4 Konvensi Warisan Budaya dan Alam Dunia 1972. Penghancuran Kota Kuno Bosra di Suriah pada 2015 melanggar prinsip pembedaan dalam hukum humaniter dan merupakan sebuah kejahatan perang yang melanggar ketentuan internasional terkait perlindungan benda budaya yang diatur dalam Pasal 4 Konvensi Den Haag 1954, dan Pasal 53 Protokol Tambahan I 1977 Konvensi Jenewa 1949.
Abtrak (Bhs. Inggris)War is an undesirable event that has an impact not only on humans, but also on objects used for the benefit and survival of humans. Civilian objects are objects that should not be attacked in the event of an armed conflict. One of the civilian objects protected in humanitarian law is cultural property, but often cultural property is the subject to destruction at the time of armed conflict. One of the cases of the destruction of cultural objects at the time of armed conflict occurred in the Ancient Syrian City of Bosra in 2015.
This study aims to determine the protection of cultural objects during armed disputes under the provisions of international humanitarian law as well as to analyze violations of the protection of cultural objects in the case of the destruction of the Ancient City of Bosra in Syria in 2015. This research is a normative juridical law with the method of statute approach and case approach. The data used is secondary data with data collection method based on literature study which then presented in the form of narrative texts and using qualitative normative analysis method.
The results of the research and discussion showed that cultural property as a civilian object that is protected under international humanitarian law. Protection of cultural property consists of general, special and enhanced protection, arrangements for the protection of cultural property have been regulated in Articles 36 and 44 of the Lieber Code, Article 27 of the 1899 Hague Convention, Article 53 Additional Protocol I and Article 16 Additional Protocol II 1977 to the 1949 Geneva Conventions, the 1949 Geneva Convention, and Articles 4 of the Cultural and Natural Heritage Convention World 1972. The destruction of the Ancient City of Bosra in Syria in 2015 was the violation of distinction principle in international humanitarian law and is a war crime that violated international provisions regarding the protection of cultural property stipulated in Article 4 of the 1954 Hague Convention, and Article 53 Additional Protocol I 1977 to the 1949 Geneva Conventions, and the destruction is inconsistent with the principle of distinction in international humanitarian law.
Kata kuncibenda budaya, hukum humaniter internasional, prinsip pembedaan, Suriah
Pembimbing 1Dr. Aryuni Yuliantiningsih, S.H., M.H
Pembimbing 2Wismaningsih, S.H., M.H.
Pembimbing 3Dr. Noer Indriati, S.H., M.Hum.
Tahun2023
Jumlah Halaman19
Tgl. Entri2023-07-24 20:58:46.304312
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.