| NIM | A1H008017 |
| Namamhs | SRI UTAMI RATNANINGTYAS |
| Judul Artikel | PENGARUH SUHU PENGERINGAN DAN KOMPOSISI BAHAN PADA PEMBUATAN RAGI Penicillium roquiforti |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penicillium roquiforti adalah salah satu jenis kapang yang pemanfaatanya sudah banyak dilakukan di negara-negara Eropa dan Amerika untuk pembuatan keju. Keberadaan jamur Penicillium roquiforti di Indonesia masih sangat terbatas. Pembuatan ragi merupakan cara memperbanyak Penicillium roquiforti dengan media yang terjangkau dan mudah didapat. Sehingga bisa menjadi langkah awal untuk memproduksi keju biru di Indonesia karena selama ini masih bergantung pada keju import. Penelitian ini untuk mengetahui komposisi bahan yang tepat dan suhu pengeringan ragi Penicillium roquiforti yang optimum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan, yaitu suhu pengeringan pada pembuatan ragi yang terdiri dari 3 taraf (30oC; 40oC;50oC) dan penambahan susu skim yang terdiri dari tiga taraf (0 gram; 2,5 gram; 5 gram). Variabel yang diamati meliputi jumlah konidia awal, jumlah konidia akhir, prosentase pertumbuhan konidia, kadar air, dan uji organoleptik tekstur dan warna. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dengan α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan suhu 30oC dan penambahan susu skim sebanyak 5 gram menghasilkan ragi dengan kadar air 18,21% diukur pada rata-rata RH 53,3% dan prosentase pertumbuhan konidia (viabilitas) terbesar yaitu 76,37%. Jumlah konidia awal dan jumlah konidia akhir berturut-turut adalah 9,8 x 103 konidia/ml dan 4,5 x 104 konidia/ml. Penilaian panelis untuk tekstur yang dihasilkan yaitu 3,02 (normal) dan warna 3,66 (putih kecoklatan). |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Penicillium roquiforti is one of the kinds of mould whom uses have been implemented in European and American countries for producing cheeses. The availability of Penicillium roquiforti in Indonesia is very inadequate. Mold production is a method in reproducing Penicillium roquiforti with cheap and easy to obtain medium. Hence, it could be an initial action to produce blue cheese in Indonesia due to the country’s dependence on import cheeses. This research intends to find out the precise composition of materials and the optimum dehydrating temperature of Penicillium roquiforti mold. This research applied the method of Complete Randomized Design (CDR) with 2 treatments, those are the temperature adjustment of three levels (30ºC; 40ºC; 50ºC) in mold dehydration and the addition of skim milk of three levels (0 gram; 2,5 grams; 5 grams). The variables include the amount of initial spore, the amount of late spore, the percentage of spore growth, water concentration and organopletic test on texture and color. The data obtained were analyzed using analysis of variance with α = 5%. The result of the research demonstrates that the combination of the treatment of temperature adjustment for 30oC and the addition of skim milk for 5 grams produced mold with water concentration 18.21% was measured on average RH for 53.3% and the highest spore growth percentage (viability) for 76.37%. The amounts of initial spore and late spore are 9.8 x 103 spore/ml and 4.5 x 104 spore/ml.. The assessment of the panelists for the produced texture was 3.02 (normal) and for color was 3.66 (brownies white). |
| Kata kunci | Penicillium roquiforti, keju biru, ragi. |
| Pembimbing 1 | Dr. Ir. Wiludjeng Trisasiwi, M.P |
| Pembimbing 2 | Gunawan Wijonarko, S.P, M.P |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2012 |
| Jumlah Halaman | 11 |
| Tgl. Entri | (belum diset) |
|---|