Artikel Ilmiah : F1A017016 a.n. MUHAMMAD FIKRI PRATAMA

Kembali Update Delete

NIMF1A017016
NamamhsMUHAMMAD FIKRI PRATAMA
Judul ArtikelGERAKAN ANTI-WUWUR DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA SIKAYU KECAMATAN BUAYAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2019
Abstrak (Bhs. Indonesia)Selama ini politik uang sudah dianggap sebagai bagian dari setiap pemilihan pemimpin, mulai dari tingkat nasional hingga tingkat desa. Gerakan anti-wuwur (antipolitik uang) dalam pemilihan kepala desa merupakan pendidikan politik bagi masyarakat guna memutus mata rantai politik uang. Penelitian ini bertujuan menjelaskan strategi gerakan anti-wuwur yang dilakukan Perpag dalam pemilihan kepala desa (pilkades) di Desa Sikayu 2019 dan menjelaskan tahapan-tahapan gerakan anti-wuwur tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan teknik penentuan dilakukan dengan purposive sampling. Lokasi penelitian di Desa Sikayu, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Hasil penelitian ini menunjukkan, strategi advokasi yang dilakukan Perpag dalam pilkades di Desa Sikayu 2019 adalah dengan melakukan serangkaian sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya wuwuran. Dalam kegiatan tersebut, Tim Perpag mengangkat dua isu, yakni isu pembangunan desa bersama masyarakat dan isu perjuangan Perpag dalam menjaga kelestarian air. Analisis tahapan gerakan anti-wuwur dalam Pilkades Sikayu menggunakan pemikiran Tarrow. Pertama, munculnya kekhawatiran di kalangan masyarakat jika kepala desa yang terpilih nantinya adalah kades yang lebih akomodatif terhadap pihak pabrik sehingga mengabaikan aspirasi masyarakat dan pembangunan desa. Kedua, kekhawatiran masyarakat semakin meluas, karena berkaca dari pengalaman selama ini, kades yang terpilih lebih merupakan kepanjangan tangan pabrik semen. Ketiga, kegelisahan masyarakat ditangkap oleh Perpag dengan mengusung ketuanya, Pak Samtilar, sebagai calon kepala desa. Perpag membentuk tim sukses untuk memenangkan Pak Samtilar dalam kompetisi pilkades. Keempat, tim pemenangan melakukan framing sedemikian rupa tentang bahaya wuwuran dalam pilkades, bahwa wuwur justru nantinya akan merugikan masyarakat sendiri, sekaligus mempromosikan Pak Samtilar sebagai calon kepala desa yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Hasilnya, warga mendukung kampanye anti-wuwur, bahkan mereka secara sukarela ikut membiaya pendaftaran dan kampanye Pak Samtilar dalam pilkades. Kelima, repertoir yang dilakukan, selain melakukan sosialisasi tentang bahaya wuwuran, Tim Perpag juga menggunakan pemuda desa sebagai agen untuk memata-matai pihak lawan, menjanjikan tanah bengkok sebagai kompensasi biaya kampanye dan untuk membantu masyarakat marjinal.


Abtrak (Bhs. Inggris)So far, money politics has been considered as part of every leader election, starting from the national level to the village level. The anti-wuwur (anti-money politics) movement in village head elections is political education for the community to break the chain of money politics. This study aims to explain the strategy of the anti-wuwur movement carried out by Perpag in the 2019 village head elections (pilkades) in Sikayu Village and explain the stages of the anti-wuwur movement. This research uses qualitative research methods and the determination technique is carried out using purposive sampling. The research location is in Sikayu Village, Buayan District, Kebumen Regency. The results of this study indicate that the advocacy strategy carried out by Perpag in the village election in Sikayu 2019 is to carry out a series of outreach and awareness to the community about the dangers of wuwuran. In this activity, the Perpag Team raised two issues, namely the issue of village development with the community and the issue of Perpag's struggle in preserving water. Analysis of the stages of the anti-wuwur movement in the Sikayu Pilkades uses Tarrow's thinking. First, the emergence of concern among the community if the village head who is elected will be a village head who is more accommodating to the factory so that he ignores the aspirations of the community and village development. Second, the community's concerns are increasingly widespread, because reflecting from experience so far, the elected village head is more of an extension of the cement factory. Third, the people's anxiety was caught by Perpag by nominating its chairman, Pak Samtilar, as a candidate for village head. Perpag formed a successful team to win Pak Samtilar in the pilkades competition. Fourth, the winning team framed the dangers of wuwur in the pilkades in such a way, that wuwur would actually harm the community itself, as well as promoting Pak Samtilar as a candidate for village head according to the aspirations of the community. As a result, the residents supported the anti-wuwur campaign, and they even voluntarily paid for Pak Samtilar's registration and campaign in the village election. Fifth, the repertoire that was carried out, in addition to conducting socialization about the dangers of wuwuran, the Perpag Team also used village youths as agents to spy on opposing parties, promising bengkok land as compensation for campaign costs and to help marginal communities.
Kata kuncigerakan sosial, anti-wuwur, pemilihan kepala desa, Perpag.
Pembimbing 1Dra. Tri Rini Widyastuti, M.Si
Pembimbing 2Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si.
Pembimbing 3 Dr. Jarot Santoso, MS.
Tahun2022
Jumlah Halaman67
Tgl. Entri2022-11-22 15:03:49.27146
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.