| NIM | F1C018032 |
| Namamhs | LU`LUA AMANY FATHIYYA |
| Judul Artikel | Persepsi Remaja pada Tindakan Catcalling |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Catcalling merupakan sebuah contoh bentuk komunikasi yang melanggar ketidakpatutan sosial karena seringkali membuat tidak nyaman dan mengintimidasi korbannya. Tindakan catcalling ini masuk dalam salah satu bentuk pelecehan seksual dalam ranah kekerasan verbal dan kekerasan psikis. Namun terdapat ambiguitas makna di masyarakat dalam memandang tindakan ini. Terdapat orang yang menyadari mengenai catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual, akan tetapi tidak sedikit pula yang menganggap bahwa catcalling hanyalah candaan dan hal yang wajar karena seringkali dibalut dengan pujian. Catcalling seringkali diidentikkan dengan tindakan yang terjadi di wilayah perkotaan, akan tetapi ternyata daerah perdesaan sendiri tidak luput dari maraknya aktivitas catcalling. Selain itu remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perilaku catcalling baik sebagai pelaku maupun korban. Penelitian ini berusaha mencari tahu bagaimana persepsi remaja Desa Danareja pada tindakan catcalling yang terjadi di sekitarnya baik sebagai pelaku, korban maupun yang hanya melihat tindakan catcalling atau selanjutnya disebut dengan penonton. Penelitian dilakukan melalui metode deskriptif kualitatif dengan informan remaja Desa Danareja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja Desa Danareja dengan peran pelaku, korban, dan penonton tindakan ini tidak menganggap catcalling sebagai pelecehan seksual, hal ini karena ketidaktahuan remaja mengenai catcalling sendiri dan adanya pengaruh pewajaran dari lingkungan sekitar mengenai tindakan catcalling. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Catcalling is an example of a form of communication that violates social inappropriateness because it often makes the victim uncomfortable and intimidating. This catcalling act is one form of sexual harassment in the realm of verbal violence and psychological violence. However, there is an ambiguity of meaning in society in viewing this action. There are people who are aware of catcalling as a form of sexual harassment, but not a few also think that catcalling is just a joke and a natural thing because it is often wrapped in praise. Catcalling is often identified with actions that occur in urban areas, but in fact, rural areas themselves are not spared from rampant catcalling activities. In addition, adolescents are an age group that is vulnerable to catcalling behavior, both as perpetrators and victims. This study seeks to find out how the perception of the youth of Danareja Village on the catcalling action that occurs around them, either as perpetrators, victims or those who only see catcalling actions or hereinafter referred to as spectators. The research was conducted through a qualitative descriptive method with adolescent informants in Danareja Village. The results showed that the youth of Danareja Village with the roles of perpetrators, victims, and spectators of this action did not consider catcalling as sexual harassment, this was due to the ignorance of adolescents about catcalling themselves and the influence of naturalness from the surrounding environment regarding the act of catcalling. |
| Kata kunci | komunikasi, persepsi, catcalling, remaja, perdesaan |
| Pembimbing 1 | Dr. Wisnu Widjanarko, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dr. Wiwik Novianti, M.I.Kom. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2022 |
| Jumlah Halaman | 15 |
| Tgl. Entri | 2022-05-24 16:27:27.477072 |
|---|