Artikel Ilmiah : F1D015056 a.n. AZIZ DWI APRIYANTO
| NIM | F1D015056 |
|---|---|
| Namamhs | AZIZ DWI APRIYANTO |
| Judul Artikel | PERBUDAKAN MANUSIA PADA PROYEK TANAM PAKSA DALAM NOVEL MAX HAVELAAR DI LEBAK BANTEN TAHUN 1856 |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian dengan judul “Perbudakan Manusia pada Proyek Tanam Paksa dalam Novel Max Havelaar di Lebak Banten tahun 1856” ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan tentang sistem kolonialisme Belanda dalam novel Max Havelaar serta untuk memahami dan mendiskripsikan praktik perbudakan manusia dalam proyek tanam paksa Belanda yang terkandung dalam novel Max Havelaar. Penelitian ini menjadi penting karena membahas laku kolonialisme di Hindia Belanda serta laku perbudakan manusia yang terjadi di dalamnya yang dimanifestasikan dalam Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Penelitian ini dilandasi dengan perspektif pascastrukturalisme dan paradigma konstruktivisme, serta menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Sementara itu, data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan teknik analisis data dan penafsiran teks secara mendalam dari Hans Georg-Gadamer. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan kolonialisme di Lebak Banten dibantu dengan unsur kelokalan. Unsur kelokalan yang dimaksud ialah feodalisme. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menggabungkan unsur kolonialisme dan feodalisme ketika masa penjajahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pembagian peran antara pejabat Belanda serta pejabat pribumi. Kolonialisme di Hindia Belanda kemudian dijalankan dengan berbagai tindakan amoral. Seperti tidak transparannya pejabat pemerintahan serta manipulasi data. Hal ini yang kemudian mendorong timbulnya kejahatan lain dengan munculnya praktik perbudakan. Kolonialisme Hindia Belanda kemudian membawa masyarakat jajahan kepada babak baru ketika diberlakukannya Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem Tanam Paksa menuntut para penguasa lokal untuk memberikan panen berlebih hingga nantinya dijanjikan akan diberi presentase hadiah panen kepada para Bupati. Diberlakukannya presentase hasil panen ini lalu mendorong para pejabat pribumi memberikan target yang tinggi kepada para penduduk mereka sebagai penggarap tanaman komoditas ekspor. Supaya para pejabat pribumi mendapatkan kekayaan dari hasil tanam paksa makanya target dinaikkan. Hal ini kemudian yang menimbulkan terjadinya perbudakan kepada manusia Lebak. Selain itu, Bupati Lebak juga menggunakan instrumen lokal guna melakukan perbudakan kepada penduduk mereka. Dalam penelitian ini kemudian ditemukan bahwa praktik kolonialisme Belanda yang dicampur dengan feodalisme Jawa menjadikan kekuasaan kolonial sebagai cambuk ganda kepada para penduduk Lebak Banten. Penindasan yang diterima penduduk Lebak berasal dari dua arh. Selain itu, laku perbudakan yang terjadi di Lebak tidak serta merta lepas dari peran para elit lokal yang ikut memperparah keadaan. Elit lokal menjadi ujung tombak dari kekuasaan kolonial untuk menjalankan praktik perbudakan ketika Proyek Tanam Paksa. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The research entitled “The Slavery of Humankind during Forced Cultivation Project in Max Havelaar Novel on Lebak Banten 1856” aims to identify and explain about The Dutch colonial system based on Max Havelaar novel and also to understand and describe about the practice of human slavery during cultuvitual project that is included on the Max Havelaar novel. This research is important because it discusses the behavior of colonialism in the Dutch East Indies and the behavior of human slavery that occurred in it which was manifested in the Forced Cultivation System (Cultuurstelsel). This research is based on post-structuralism perspective and constructivism paradigm, and also using qualitative research method with hermeneutic approach. Meanwhile, the obtained data was then being processed using data analysis technique and in-depth text interpretation from Hans Georg-Gadamer. Based on the result of the research, it is explained that execution of colonialism in Lebak Banten was assisted by local elements. The local element that is mentioned is feudalism. The Dutch East Indies colonial government combined colonial elements and feudalism during colonial period. This can be proven with the division of roles between Dutch officials and Local officials. Colonialism in The Dutch East Indies was then carried with various immoral acts. In example, luck of transparency of the government officials also data being manipulated. This problem then encourages another criminal action with the emergence of slavery practice. The Dutch East Indies Colonialism then brought colonized people to a new phase when Forced Cultivation System (Cultuurstelsel) was being impleted. Forced Cultivation System demanded local authorities to provide them excess harvest and after that they were promised to be given a percentage of the harvest reward to the Regents. With the percentage of the harvest being enforced, it was then encourage the local authorities to give a high target to the citizen as the cultivators of export commodity crops. In order for the local authorities to get the wealth from the forced cultivitation, the targed was raised. This then led to the slavery of Lebak people. Other than that, Lebak Regents also used local elements in order to do the slavery practice to his citizen. In this study, it was later found that the practice of Dutch colonialism mixed with Javanese feudalism made colonial power a double whip for the residents of Lebak Banten. The oppression that the people of Lebak receive comes from two directions. In addition, the slavery practices that took place in Lebak were not necessarily separated from the role of local elites who contributed to aggravating the situation. The local elite became the spearhead of the colonial power to carry out the practice of slavery during the Forced Cultivation System. |
| Kata kunci | Kolonialisme, Feodalisme, Sistem Tanam Paksa, Perbudakan |
| Pembimbing 1 | Bowo Sugiarto, S.IP., M.Si. |
| Pembimbing 2 | Ahmad Rofik, S.Sos.,M.A. |
| Pembimbing 3 | Dr. Sofa Marwah, S.IP., M.Si. |
| Tahun | 2022 |
| Jumlah Halaman | 29 |
| Tgl. Entri | 2022-02-04 14:11:41.811655 |