Artikel Ilmiah : F1B017021 a.n. TITIN LESTARI
| NIM | F1B017021 |
|---|---|
| Namamhs | TITIN LESTARI |
| Judul Artikel | Collaborative Governance dalam Pelayanan Publik (Studi Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses di Kabupaten Banyumas) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses (Gendis) di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah dilatarbelakangi oleh adanya keterbatasan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas usia produktif. Penelitian ini dilatarbelakangi karena permasalahan sosial tidak dapat diselesaikan secara sendiri oleh Pemerintah Daerah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Banyumas, sehingga mengupayakan tata pemerintahan kolaboratif bersama dengan non pemerintahan. Terdapat fakta kesenjangan di dalam kolaborasi Program Gendis sebagai upaya memberikan pemberdayaan kepada penyandang disabilitas yang dapat dilakukan secara bersinergi tidak sesuai dengan kondisi sosial yang ada dimana stakeholder belum memiliki ikatan satu sama lain. Dengan kata lain, tampak problematika dalam kolaborasi yang dijalankan oleh stakeholder di dalam Program Gendis. Collaborative governance merupakan pelaksanaan kebijakan pemerintahan dimana menyatukan kepentingan umum dan swasta secara kolektif dengan lembaga publik untuk dapat mengambil keputusan secara bersamaan dan berorientasi konsensus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Collaborative Governance dalam Program Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses dalam upaya memberdayakan penyandang disabilitas usia produktif untuk menciptakan kesempatan kerja secara mandiri berdasarkan teori dari Rusell M Linden (2002;73) melalui lima tahapan kolaborasi: 1) Dasar Kolaborasi, 2) Hubungan atau Relasi, 3) Komitmen, 4) Dukungan, dan 5) Kepemimpinan Kolaboratif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan kolaborasi belum terlaksana dengan baik. Pertama, dasar kolaborasi belum berjalan semestinya mengakibatkan stakeholder masih memiliki egosektoral, serta kesamaan sikap dan persepsi belum terbangun. Kedua, hubungan yang dapat dilihat secara internal dan eksternal menunjukan tidak terdapat sinergitas antarstakeholder. Ketiga, komitmen yang dilakukan stakeholder sudah baik dengan memberikan pelatihan dan pemberdayaan kepada penyandang disabilitas, meskipun pelaksanaannya belum dilakukan secara berkelanjutan. Keempat, pemangku kepentingan belum menunjukan adanya dukungan satu sama lain. Kepemimpinan kolaboratif sudah berjalan untuk mengarahkan stakeholder dapat saling berkerjasama. Kesimpulan hasil penelitian mengenai kolaborasi di dalam Program Gendis adalah belum optimal hal tersebut dapat dilihat dari kekurangan pada penerapan tahapan pelaksanaan kolaborasi. Implikasi yang diberikan terhadap hasil penelitian ini adalah dengan membentuk peraturan dan kesepakatan yang bertujuan untuk mengikat dan membangun kepercayaan stakeholder. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses (Gendis) in Banyumas Regency, Central Java Province is motivated by limited employment opportunities for people with productive age disabilities. This research was motivated because social problems could not be solved alone by the Regional Government of Social Service and Community Empowerment, thus seeking collaborative governance with the non-governmental organization (NGO). There is a fact of gaps in the collaboration of the Gendis Program as an effort to provide empowerment to people with disabilities that can be done in synergy not in accordance with existing social conditions where stakeholders do not yet have ties to each other. In other words, there appear to be problems in collaboration run by stakeholders in the Gendis Program. Collaborative governance is the implementation of a government policy that unites the public and private interests collectively with public institutions to be able to take decisions simultaneously and be consensus-oriented.The purpose of this research is to find out how the collaborative governance process in the Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses to create independent employment opportunities based on a theory of Russell M Linden (2002;73) through for stages of collaboration: 1) Basic collaboration, 2) Relationship, 3) High Stakes, 4) Constituency for collaboration, 5) Collaborative Leadership. Selection of informants using purposive sampling. Collecting data using interviews, observation, and documentation. The data analysis method used is an interactive analysis method. The results of this study show that collaboration has not been carried out properly. First, the basis of collaboration has not worked should result in stakeholders still having egosectoral, and the similarity of attitudes and perceptions has not been awakened. Second, relationships that can be seen internally and externally show that there is no synergy between stakeholders. Third, the commitment made by stakeholders has been good by providing training and empowerment to people with disabilities, although the implementation is not carried out on an ongoing basis. Fourth, stakeholders have not shown any support for each other. Collaborative leadership is already underway to direct stakeholders to work together. The conclusion of the results of research on collaboration in the Program Gedis is not optimal it can be seen from the shortcomings in the implementation of the stage collaboration. The implications given to the results of this study are to form rules and agreements aimed at binding and building stakeholder trust. |
| Kata kunci | Collaborative Governance, Kesempatan kerja, Program Gerbang Penyandang Disabilitas Sukses |
| Pembimbing 1 | Dr. Slamet Rosyadi, M.Si |
| Pembimbing 2 | Dr. Tobirin, M.Si |
| Pembimbing 3 | Drs. Darmanto Sahat Satyawan, M.Kes., M.Si |
| Tahun | 2021 |
| Jumlah Halaman | 19 |
| Tgl. Entri | 2021-10-13 12:41:43.077231 |