Artikel Ilmiah : E2A019032 a.n. DIAS MARTHA
| NIM | E2A019032 |
|---|---|
| Namamhs | DIAS MARTHA |
| Judul Artikel | EFEKTIVITAS PELAKSANAAN ONE MAN ONE CELL BAGI NARAPIDANA TERORISME DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN SUPER MAXIMUM SECURITY PASIR PUTIH NUSAKAMBANGAN |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | ABSTRAK DIAS MARTHA, Program Study Magister Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, Efektivitas Pelaksanaan One Man One Cell Bagi Narapidana Terorisme Di Lembaga Pemasyarakatan Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan, Ketua Dr. Angkasa, S.H., M.Hum, Anggota Dr. Budiyono, S.H., M.Hum, Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah penempatan narapidana risiko tinggi (high risk) di Lembaga Pemasyarakatan Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan adalah “one man one cell” dan tidak terdapatnya program pembinaan ataupun kegiatan yang lainnya. Ini merupakan suatu penjeraan agar mereka bisa menyesali segala perbuatannya dan bisa kembali kepada masyarakat dengan melakukan asessmen ataupun penilaian perkembangan harinya yang dilakukannya di dalam blok. Metode Penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan yuridis empiris. Bersifat deskripsianalitis. Lokasi penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan. Pengumpulan data primer didapatkan dari narasumber, data sekunder dari studi kepustakaan. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis dan logis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan program pembinaan di Lapas Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan untuk narapidana terorisme dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan kebijakan sasaran pelaksaan sistem one man one cell bagi narapidana terorisme di lembaga pemasyarakatan berjalan tidak efektif dalam hal sistem pemasyarakatan yang dimasukkan sebagai bagian pembinan narapidana terorisme serta tidak memiliki dampak positif dan tidak berdampak pada kelompok radikaliasme di Lapas Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan, hal tersebut terbukti dari 96 warga binaan hanya 24 warga binaan yang mengikuti program pembinaan atau 25 % dari keseluruhan warga binaan yang ada di Lapas Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan. Kendala dalam Pembinaan Narapidana terorisme di Lapas Super Maximum Security Pasir Putih Nusakambangan, menyangkut masalah legal structure dalam hal ini yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) baik secara kualitas maupun kuantitas, di samping itu sarana dan prasarana yang kurang memadai. Kata Kunci : Efektivitas, Narapidana, Pembinaan, Terorisme |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | ABSTRACT DIAS MARTHA, Master of Law Study Program, Jenderal Sudirman University, Effectiveness of One Man One Cell Implementation for Terrorism Convicts at the Super Maximum Security Penitentiary in Pasir Putih Nusakambangan, Chair Dr. Angkasa, S.H., M.Hum, Member of Dr. Budiyono, S.H., M.Hum, The background of the problem in this research is the placement of high risk prisoners in the Super Maximum Security Penitentiary of Pasir Putih Nusakambangan is "one man one cell" and there is no coaching program or other activities. This is a deterrent so that they can regret all their actions and can return to the community by conducting an assessment or assessment of their daily progress in the block. The research method used is normative juridical with an empirical juridical approach. Description-analytical. The research location is the Super Maximum Security Penitentiary in Pasir Putih Nusakambangan. Primary data collection was obtained from sources, secondary data from library research. The data obtained are presented in the form of descriptions that are arranged systematically and logically. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that the coaching program at the Nusakambangan Super Maximum Security Prison for terrorism convicts. which is included as part of fostering terrorism convicts and has no positive impact and has no impact on radicalism groups at the Nusakambangan Super Maximum Security Prison, this is evident from the 96 inmates, only 24 inmates participated in the coaching program or 25% of the total inmates who in the Nusakambangan Super Maximum Security Prison. Obstacles in the Guidance of Terrorism Convicts at the Super Maximum Security Prison at Pasir Putih Nusakambangan, concerning the legal structure problem in this case, namely the lack of Human Resources (HR) both in quality and quantity, in addition to inadequate facilities and infrastructure. Keywords: Effectiveness, Prisoners, Coaching, Terrorism |
| Kata kunci | Efektivitas, Narapidana, Pembinaan, Terorisme |
| Pembimbing 1 | Dr. Angkasa, S.H.,M.Hum |
| Pembimbing 2 | Dr. Budiyono, S.H.,M.Hum |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2021 |
| Jumlah Halaman | 122 |
| Tgl. Entri | 2021-08-31 19:26:43.404683 |