Artikel Ilmiah : F1A015017 a.n. RAHAYU HIKMATUSSA'DIYAH
| NIM | F1A015017 |
|---|---|
| Namamhs | RAHAYU HIKMATUSSA'DIYAH |
| Judul Artikel | KENAKALAN REMAJA (Analisis Isi tentang Kasus Kenakalan Remaja yang Terjaring oleh Kepolisian di Propinsi Jawa Barat yang Dimuat dalam Tribunnews Periode 1 Januari 2016 – 31 Desember 2018) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Berbicara tentang remaja ini sangat berterkaitan erat hubungannya dengan pergaulan, yang mana dewasa kini pergaulan di kalangan remaja telah mencapai pada tingkat yang kritis serta mengkhawatirkan karena anak-anak jaman sekarang terlalu bebas dalam bergaul sehingga kian kali terjerumus dalam melakukan hal-hal yang negatif seperti kenakalan remaja. Jawa Barat merupakan salah satu dari tiga propinsi yang angka kriminalitasnya paling tinggi di Indonesia yaitu berjumlah 29.351 kasus, sedangkan untuk Jawa Tengah berjumlah 10.485 kasus dan Jawa Timur berjumlah 20.368 kasus. Jumlah anak nakal di Jawa Barat sendiri pada tahun 2016 mencapai 2.592 anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik sosial pelaku kenakalan remaja berdasarkan : jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan, serta mendeskripsikan bentuk penyimpangan, bentuk kenakalan remaja, motif dan juga faktor-faktor pelaku melakukan tindakan kenakalan remaja. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif deksriptif dengan jenis penelitian analisis isi. Teknik sampel yang digunakan adalah total sampling atau seluruh kasus tentang kenakalan remaja yang terjaring kepolisian di Jawa Barat yang termuat dalam Tribunnews Periode 1 Januari 2016 –31 Desember 2018, yaitu sebanyak 62 kasus. Analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, dengan tahap analisisnya yaitu mengumpulkan berita, pengkodingan data, pengolahan data dengan SPSS (Statistical Product and Service Solution) yang disajikan dengan tabel ditribusi frekuensi, tabel silang (crosstab), diagram, poligon, dan pie chart. Karakteristik pelaku kenakalan remaja yaitu cenderung dilakukan oleh remaja yang berjenis kelamin laki-laki, sebagian besar berusia 16-19 tahun, dan angka pelaku kenakalan remaja yang tidak sekolah atau putus sekolah lebih tinggi jika dibandingkan dengan pelaku yang masih duduk dibangku sekolah. Bentuk penyimpangan yang dilakukan yaitu sebagian besar secara berkelompok atau lebih dari dua orang, dengan kenakalan remaja yang paling sering diberitakan yaitu seputar kasus kejahatan seksual seperti pencabulan dan sodomi. Motif pelaku yang melakukan kenakalan remaja beragam yaitu karena pengaruh dari teman, iseng/coba-coba, sakit hati, dendam, hasrat seksual, dan lain-lain. Faktor pendorong yang paling mempengaruhi adalah teman sebaya. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Adolescence comes from the Latin word adolensence which means to grow or grow into adulthood. The term adolensence has a broader meaning which includes mental, emotional, social and physical maturity. Talking about teenagers is very closely related to socializing, in which now it has reached a critical and concerning point because teenagers nowdays are too free in socializing, so they are increasingly falling into negative things like delinquency. West Java is one of the three largest provinces with the highest crime rate in Indonesia, amounting to 29,351 cases, while for Central Java alone there are 10,485 cases and East Java amounting to 20,368 cases. The number of juvenile delinquents in West Java reached 2,592 in 2016. This study aims to describe the social characteristics of juvenile delinquents based on : gender, age and level of education, as well as to describe the forms of deviation, forms of juvenile delinquency, motives and also the factors of perpetrators committing juvenile delinquency. The research method used is descriptive quantitative approach with content analysis research. The sample technique used is total sampling or all cases of juvenile delinquency apprehended by the police in West Java as featured in the Tribunnews Period 1 January 2016 – 31 December 2018, as many as 62 cases. The data analysis used is descriptive statistical analysis, with the analysis stages include news collecting, data coding, data processing with SPSS (Statistical Product and Service Solution) presented with frequency distribution tables, cross tabs, diagrams, polygons, and pie charts. The social characteristics of juvenile delinquents tend to be male, mostly aged 16-19 years old, and the number of juvenile delinquents who do not attend school or drop out of school is higher than those who are still in school. The type of social deviant that are carried out are mostly in groups or more than two people, with the most frequently reported juvenile delinquency being cases of sexual crimes such as rape and sodomy. The motives of the deliquents are various, namely because of the influence of friends, curiousity, hurt, revenge, sexual desire, and others. The most significant incantive is their peer group. |
| Kata kunci | remaja, nakal, penyimpangan, kenakalan remaja. |
| Pembimbing 1 | Dr. Joko Santoso, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dr. Rawuh Edy Priyono, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Dr. Masrukin, M.Si. |
| Tahun | 2021 |
| Jumlah Halaman | 90 |
| Tgl. Entri | 2021-08-18 02:31:33.935191 |