Artikel Ilmiah : F1A016106 a.n. AULIYA VIKA AFINI

Kembali Update Delete

NIMF1A016106
NamamhsAULIYA VIKA AFINI
Judul ArtikelREPRESENTASI FEMINITAS DI TUBUH LAKI-LAKI DALAM FILM LENG APA JENGGER
Abstrak (Bhs. Indonesia)Lengger merupakan kesenian tradisional Banyumas yang berfungsi sebagai hiburan
sekaligus sebagai ritual memohon kesuburan di kalangan masyarakat agraris. Kesenian
ini memiliki keunikan karena penari lengger adalah laki-laki yang berdandan seperti
perempuan. Kata “lengger” sendiri berasal dari kata “leng” dan “jengger,” yang memiliki
makna “disangka perempuan ternyata laki-laki.” Dariah adalah maestro lengger lanang
Banyumas yang kiprahnya di dunia seni dan kisah hidupnya menjadi inspirasi berbagai
karya, salah satunya film dokumenter Leng Apa Jengger. Film ini mengisahkan
metamorfosis Sadam - seorang bocah laki-laki - menjadi Dariah, sosok penari lengger
ternama yang cantik jelita dan dikagumi banyak laki-laki, hingga Dariah tua yang tetap
berpenampilan feminin. Penelitian ini bertujuan menjelaskan feminitas yang
direpresentasikan Dariah dalam film Leng Apa Jengger menggunakan teori queer.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif deskriptif. Metode analisis yang digunakan adalah semiotika Charles Sanders
Peirce. Model analisis ini dipilih karena dapat membantu peneliti memahami
representasi tanda dan teks sebagai objek kajian, yang dalam penelitian berupa scene
atau adegan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk feminitas yang direpresentasikan
Dariah dalam film Leng Apa Jengger tampak pada saat dia tengah menari lengger:
mengenakan kain yang menutup sampai ke dada, berkebaya dan berselendang, serta
berkonde dan berdandan layaknya seorang perempuan. Feminitas ini juga ditampilkan
Dariah di luar panggung. Dalam keseharian dia menampilkan diri sebagai seorang
2
perempuan feminin, mulai cara berbusana, cara berdandan, cara berjalan, juga cara
mengekspresikan bahasa tubuh ketika dia merasa jengah atau malu. Pilihan profesi
setelah tidak lagi menjadi lengger, yakni sebagai perias pengantin dan dukun pijat, juga
memperkuat feminitas yang ditampilkan Dariah. Kode-kode yang ditampilkan Dariah ini
dimaknai masyarakat sebagai ciri khas perempuan. Feminitas di tubuh laki-laki, dalam
hal ini Dariah, dianggap sebagai sesuatu yang dapat diterima karena tidak ada
penolakan dari masyarakat. Hal ini terlihat dari kesaksian para pengagum Dariah yang
memperlakukannya sebagai seorang perempuan, meskipun mereka tahu bahwa Dariah
sejatinya seorang laki-laki. Para pengagum Dariah sendiri memiliki istri yang berjenis
kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan teori queer, bahwa kaitan antara jenis
kelamin, gender, dan orientasi seksual merupakan sesuatu yang cair dan tidak stabil.
Dariah berjenis kelamin laki-laki, berpenampilan (gender) feminin, dan memiliki
orientasi seks sejenis. Sementara para pengagumnya berjenis kelamin laki-laki,
berperilaku maskulin, dan memiliki orientasi seks biseksual.
Kata Kunci : lengger, representasi, semiotika, teori queer
Abtrak (Bhs. Inggris)Lengger, is a Banyumas traditional art that serves as an entertainment and also as a
ritual to request for fertility in agragrian society. The art has its own distinction due to
the fact that Lengger dancer is a man that dress up as a woman. The word “lengger” itself
came from “leng” and “jengger” which means “thought she’s a woman turnsout she’s a
man”. Dariah is the master of lengger lanang Banyumas in which his works in the art
world and his life story became the inspiration for a lot of artworks. One of those
artworks is a documentarry called Leng Apa Jengger. The documentarry tells a story
about the metamorphosis of Sadam – an ordinary boy – into becoming Dariah, a famous
lengger dancer figure that is filled with beauty and received adorations from many men.
This research aims to explain femininity that is being representated by Dariah from the
Leng Apa Jengger docummentary by using the theory queer.
The research methodology used in this research is qualitative descriptive. Analytic
method for this research is Charles Sanders Peirce’s Semiotics. Model analysis was
3
chosen because it can help the researcher in more understanding sign and text
representation as an object of study, which is in the form of scene.
The result of research showed the form of femininity that is being represented by
Dariah in Leng Apa Jenggger emerges when he is performing lengger dance; wearing
fabric that covers to his breast, wearing kebaya and shawl like a woman figure. The
femininity also appear outside of the performance; during his daily life, he presents
himself as a feminine woman from the way he dresses himself to the way he expresses
himself when he is feeling shy. Other profesion options that he has once he is no longer a
lengger dancer are to become bridal make up artist and masseus, which are also
showing feminine elements to it. Femininity in the body of a male is seen as something
that is accepted by the society, since there is no rejection to it. It can be seen through the
existence of people who adore Dariah, in other word his ‘fans’, who treat him a woman
even though they are fully aware of his nature. Fans of Dariah mostly have a wife, and
this inline to the theory of queer; the connection between sex, gender, and sexual
orientation are something that is liquid and unstable. In terms of sex, Dariah is a man,
but as for his gender he (and other people) identifies himself as feminine, and his sexual
orientation is homosexual. And as for his fans who are mostly men, they behave
masculine and has the sexual orientation of bisexual.
Keywords : lengger, representation, semiotics, theory queer
Kata kuncilengger , representasi, teori queer, semiotika.
Pembimbing 1Dr. Arizal Mutahir, M.A.
Pembimbing 2Dra. Tri Rini Widyastuti, M.Si.
Pembimbing 3Dr. Sulyana Dadan. M.A.
Tahun2021
Jumlah Halaman19
Tgl. Entri2021-04-20 11:58:23.778122
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.