Artikel Ilmiah : I1A016023 a.n. TRY USWATUN KHASANAH
| NIM | I1A016023 |
|---|---|
| Namamhs | TRY USWATUN KHASANAH |
| Judul Artikel | GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH PERDESAAN KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2019 |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Latar Belakang: Kejadian DBD cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas, yang pada umumnya diketahui banyak ditemukan di wilayah perkotaan, saat ini angka kejadian di wilayah perdesaan juga semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian DBD di wilayah perdesaaan Kabupaten Purbalingga Tahun 2019 berdasarkan karakteristik orang, tempat, waktu, perilaku mobilitas, dan kondisi lingkungan. Studi epidemiologi dapat digunakan untuk perencanaan kebijakan, sasaran intervensi, atau evaluasi pengendalian penyakit DBD khususnya di perdesaan. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan kuantitatif metode studi deskriptif pendekatan survey. Populasi seluruh kasus DBD di wilayah perdesaan Kabupaten Purbalingga Tahun 2019 tercatat Dinkes. Sampel seluruh kasus DBD Kecamatan Karangjambu, Pengadegan, Kejobong, dan Kemangkon Tahun 2019. Sumber data adalah data primer dari wawancara responden dan data sekunder dari Dinkes Purbalingga. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil Penelitian: Karakteristik penderita DBD di 4 kecamatan perdesaan Kabupaten Purbalingga Tahun 2019 yang berjumlah 79 kasus, yaitu sebagian besar penderitanya kategori umur dewasa >25tahun (59,5%), berjenis kelamin laki-laki (54,4%), tingkat pendidikan dasar (54,4%), pekerjaan buruh/tani (21,5%) dan pelajar (21,5%), tingkat pendapatan rendah (54,4%), bergolongan darah O (38%), derajat keparahan penyakit mayoritas termasuk kategori jenis Demam Berdarah Dengue/DBD (51,9%), riwayat sembuh (100%), status infeksi sekunder (65,8%), terbanyak di Bulan Februari (21,5%), rata-rata durasi sakit 9 hari (22,8%), terbanyak di Kecamatan Kemangkon (41,8%) di 17 desa, ketinggian tempat tinggal 0-500Mdpl (97,5%), melakukan mobilitas (55,7%), kebiasaan di luar rumah pagi hari (89,9%) dan sore hari (46,8%), kepadatan hunian tidak padat (58,2%), jumlah TPA tidak berisiko ≤3buah (54,4%), tidak memasang kawat kasa (87,3%), tidak ditemukan keberadaan jentik nyamuk di TPA dalam rumah (93,7%) dan luar rumah (77,2%), nilai House Indeks tidak berisiko (49,4%), jarak ke faskes rata-rata 5.500m, dan peran kader jumantik kategori kurang (51,9%). Kesimpulan: DBD diwilayah perdesaan Kabupaten Purbalingga Tahun 2019 masih ditemukan cukup banyak kasus. Faktor karakteristik orang, tempat, waktu, perilaku mobilitas, dan kondisi lingkungan di wilayah perdesaan masih mendukung untuk terjadinya penularan DBD. Faktor mobilitas menjadi potensi yang banyak mendukung penularan infeksi DBD di wilayah perdesaan Kabupaten Purbalingga. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Background: DHF is still a vector infectious disease which is a public health problem, the number of sufferers tends to increase, its spread is wider, it can cause outbreaks and death. Purbalingga Regency ranks the 3rd highest IR DHF according to Regency/City in Central Java in 2019. Generally, DHF is found in densely populated urban residential areas, but currently there are many cases in rural areas. This study aims to describe of DHF in rural areas of Purbalingga Regency in 2019 based on the characteristics of the person, place, time, mobility behavior, and environmental conditions. Research Methods: This study a quantitative used descriptive study method with a survey approach. The population of all DHF cases in rural areas of Purbalingga Regency in 2019 was recorded by the Health Office. The samples of all DHF cases are in Karangjambu, Pengadegan, Kejobong, and Kemangkon Districts in 2019. The data source is secondary data from the Health Office and primary data from respondents' interviews. Data analysis in this research uses univariate analysis. Research Results: Most of the sufferers are adult >25 years old (59.5%), male (54.4%), basic education level (54.4%), labor / agricultural work (21.5%) and students (21 , 5%), low income level (54.4%), blood type O (38%), dengue severity degree (51.9%), history of recovery (100%), secondary infection status (65.8%), most in February (21.5%), the average duration of illness was 9 days (22.8%), the most was in Kemangkon District (41.8%) in 17 villages, the altitude of residence was 0-500 masl (97.5%), doing mobility (55.7%), outside the house in the morning habits (89.9%) and in the evening (46.8%), the occupancy density is not dense (58.2%), the number of TPA is not at risk ≤3 pieces (54.4%), no gauze (87.3%), no mosquito larvae found in TPA indoors (93.7%) and outdoors (77.2%), House Index value is not risky (49.4%), the distance to health facilities was around 6.001-7.000m (16.5%), and the role of jumantik cadres was in the poor category (51.9%). Conclusion: DHF in rural areas of Purbalingga Regency in 2019 is still found quite a lot. Environmental factors, lifestyle, and community behavior can influence the transmission of the vector spread virus carrying mosquito dengue from urban to rural areas. The role of cadres and lack of public awareness can increase the risk of DHF. |
| Kata kunci | Deskriptif, Epidemiologi, DBD, Perdesaan, Purbalingga |
| Pembimbing 1 | Siwi Pramatama Mars W., S.Si., M.Kes., Ph.D |
| Pembimbing 2 | Siti Nurhayati S.Pt, M.Kes |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2021 |
| Jumlah Halaman | 27 |
| Tgl. Entri | 2021-02-22 13:31:02.918654 |