| NIM | A1D016120 |
| Namamhs | WILIS ASTIANA |
| Judul Artikel | PRODUKTIVITAS KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) PADA SISTEM TUMPANGSARI JAGUNG-KACANG HIJAU DENGAN JARAK TANAM JAGUNG (Zea mays L.) YANG BERBEDA |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Efisiensi penggunaan lahan pertanaman kacang hijau belum dapat dicapai. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan sistem tumpangsari. Penelitian untuk mengetahui pengaruh perbedaan jarak tanam jagung pada sistem tumpangsari terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau serta mengetahui kerapatan kacang hijau yang tepat pada tumpangsari jagung-kacang hijau tanpa menurunkan hasil kacang hijau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2020 sampai Juni 2020 di lahan Experimental farm dan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, terdiri atas 9 perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga terdapat 27 petak percobaan. Sembilan perlakuan dalam penelitian ini yaitu : J1: Monokultur jagung (75 x 25) cm; J2 : Monokultur jagung (90 x 25) cm; J3 : Monokultur kacang hijau (40 x 20) cm; J4: tumpangsari jarak tanam (75 x 25) cm- kacang hijau satu baris; J5: tumpangsari jarak tanam (75 x 25) cm- kacang hijau dua baris; J6: tumpangsari jarak tanam (75 x 25) cm- kacang hijau tiga baris; J7: tumpangsari jarak tanam (90 x 25) cm- kacang hijau satu baris; J8: tumpangsari jarak tanam (90 x 25) cm- kacang hijau dua baris; J9: tumpangsari jarak tanam (90 x 25) cm- kacang hijau tiga baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam jagung yang berbeda dan jumlah baris kacang hijau berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan hasil perhektar. Penggunaan jarak tanam jagung (75 x 25) cm dan tiga baris kacang hijau memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman. Penggunaan jarak tanam jagung (90 x 25) dengan dua baris kacang hijau memiliki hasil perhektar yang terbaik. NKL tiap perlakuan tumpangsari memiliki nilai >1. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Efficient land use for mung bean cultivation has not been achieved. One way to overcome this problem is to implement an intercropping system. Research to determine the effect of differences in spacing of maize in the intercropping system on the growth and yield of mung beans and to determine the correct density of mung beans in the corn-mung bean intercropping without reducing the yield of mung beans. The research was carried out from February 2020 to June 2020 in the experimental farm and at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experimental design used was a randomized block design, consisting of 9 treatments with 3 replications, so that there were 27 experimental plots. The nine treatments in this experiment are: J1: Monoculture maize (75 x 25) cm; J2: Monoculture maize (90 x 25) cm; J3: Mung bean monoculture (40 x 20) cm; J4: Intercropping of spacing (75 x 25) cm- one row mung beans; J5: Intercropping of spacing (75 x 25) cm- two rows of mung beans; J6: Intercropping of spacing (75 x 25) cm- three rows of mung beans; J7: Intercropping of spacing (90 x 25) cm- one row mung beans; J8: Intercropping of spacing (90 x 25) cm- two rows of mung beans; J9: Intercropping of spacing (90 x 25) cm- three rows of mung beans. The results showed that the different spacing of maize and the number of rows of mung beans had an effect on plant height and yield per hectare. The use of spacing of maize (75 x 25) cm and three rows of mung beans gave the best effect on plant height. Using spacing of maize (90 x 25) with two rows of mung beans has the best yield per hectare. NKL for each intercropping treatment has a value > 1. |
| Kata kunci | Kerapatan tanam, tumpangsari, kacang hijau |
| Pembimbing 1 | Dr. Purwanto, S. P., M. Sc. |
| Pembimbing 2 | Ir. Bambang Rudianto Wijonarko, M. P. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2021 |
| Jumlah Halaman | 17 |
| Tgl. Entri | 2021-02-17 12:34:52.979172 |
|---|