Artikel Ilmiah : A1A016040 a.n. FITRI ANGGRAENI

Kembali Update Delete

NIMA1A016040
NamamhsFITRI ANGGRAENI
Judul ArtikelAnalisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis) Komoditas Kubis di Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kubis merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dihasilkan di Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Penghasil sayuran utama berada di daerah dataran tinggi di antaranya adalah Desa Batursari, Desa Dawuhan, Desa Igirklanceng, Desa Sridadi, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui rantai nilai kubis menggunakan analisis rantai nilai kuantitatif (analisis biaya dan margin), 2) Mengetahui pemetaan rantai nilai kubis menggunakan metode pemetaan rantai nilai, dan 3) Mengetahui strategi penguatan produksi komoditas kubis menggunakan in-depth interview dengan key-person. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2020. Penelitian ini dilakukan dengan ukuran sampel sebesar 69 responden petani kubis ditentukan dengan metode simple random sampling, 5 responden pedagang antar daerah dan 5 responden pedagang pengecer ditentukan dengan metode snowball sampling. Responden petani yang dituju adalah petani kubis di tiga desa di Kecamatan Sirampog yaitu petani kubis di Desa Batursari, Desa Dawuhan, dan Desa Igirklanceng. Metode analisis yang digunakan adalah analisis rantai nilai secara kuantitatif yaitu analisis biaya dan margin, dan analisis rantai nilai secara umum yaitu pemetaan rantai nilai. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Petani mendapatkan laba per kilogram kubis sebesar Rp1.145,00; pedagang antar daerah sebesar Rp1.480,00 dan pedagang pengecer sebesar Rp2.620,00. Margin per kilogram pedagang antar daerah sebesar Rp2.136,00 dan pedagang pengecer sebesar Rp4.000,00. 2) Alur rantai nilai kubis di Kecamatan Sirampog terbagi menjadi dua yaitu: petani  Pedagang antar daerah  pedagang pengecer  Konsumen; dan petani pedagang pengecer  Konsumen. Proses inti dalam rantai nilai kubis adalah penyediaan input atau sarana produksi, pembibitan, penanaman, pengumpulan dan penjualan eceran. Sedangkan pelaku utama dalam rantai nilai kubis di Kecamatan Sirampog adalah penyedia input atau sarana produksi, petani, pedagang antar daerah, dan pedagang pengecer, dan 3) Strategi penguatan produksi kubis diantaranya adalah diversifikasi produk, penanggulangan penyakit pada kubis, dan peningkatan peran penyuluh pertanian lapang.
Abtrak (Bhs. Inggris)Cabbage is a vegetable commodity that is widely produced in Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Central Java. The main producers of vegetables in the highland include Batursari Village, Dawuhan Village, Igirklanceng Village, Sridadi Village, and others. The aim of this study is to: 1) Understand the cabbage value chain using quantitative value chain analysis (cost and margin analysis), 2) Find out the cabbage value chain mapping using the value chain mapping method, and 3) Identify the strategy to strengthen cabbage commodity production using in-depth interviews with the key person. This research was conducted from March to May 2020. This research was conducted with a sample size of 69 cabbage farmer respondents who were selected by simple random sampling, 5 respondents from inter-regional traders and 5 respondents to retailers using snowball sampling. The targeted farmer respondents were cabbage farmers in three villages in Sirampog District, namely cabbage farmers in Batursari Village, Dawuhan Village, and Igirklanceng Village. The analytical method used is quantitative value chain analysis, namely, cost and margin analysis, and value chain analysis in general, namely value chain mapping. The results showed that: 1) Farmers got a profit per kilogram of cabbage of Rp1.145,00; inter-regional traders Rp. 1.480,00 and retailers Rp. 2.620,00. Margin per kilogram of inter-regional traders Rp. 2.136,00 and retailers Rp. 4.000,00. 2) The flow of the cabbage value chain in Sirampog District is divided into two, namely: Farmers  Inter region trader  Retailers  Consumers; and Farmers  Retailers  Consumers. The core process in the cabbage value chain is the provision of inputs or means of production, seeding, planting, collection and retail sales. Meanwhile, the main actors in the cabbage value chain in Sirampog District are input providers or production facilities, farmers, inter-regional traders, and retailers, and 3) Strategies for strengthening cabbage production include product diversification, prevention of diseases in cabbage, and increasing the role of field agricultural extension agents.
Kata kunciKubis, Analisis rantai nilai, Pemetaan rantai nilai.
Pembimbing 1Dr. Ir. Suyono, M.S
Pembimbing 2Ir. Sri Widarni, M.Si
Pembimbing 3
Tahun2020
Jumlah Halaman16
Tgl. Entri2020-11-21 23:42:39.289876
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.