Artikel Ilmiah : F2B016004 a.n. SIGIT SUGIARTO
| NIM | F2B016004 |
|---|---|
| Namamhs | SIGIT SUGIARTO |
| Judul Artikel | ISU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA (Studi Kasus di Desa Wajasari Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Paradigma pembangunan di era demokratisasi dan otonomi daerah memberikan kesempatan kepada seluruh elemen masyarakat ditingkat desa untuk terlibat aktif dalam pembangunan. Keterlibatan masyarakat tersebut dimulai dari semua tahapan, yaitu dari proses perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi. Perempuan sebagai bagian dari anggota masyarakat sudah seharusnya turut mengambil bagian dari proses tersebut, sehingga hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan masyarakat Desa Wajasari terhadap isu pemberdayaan perempuan dan juga mengetahui bagaimana isu pemberdayaan perempuan dapat diintegrasikan dalam dokumen perencanaan pembangunan desa. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan informan dengan purposive sampling, dimana peneliti memilih orang-orang yang dianggap tahu dalam permasalahan ini. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan masyarakat terhadap isu pemberdayaan perempuan sudah cukup baik, dimana masyarakat Desa Wajasari menganggap bahwa laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama dalam pembangunan. Tingkat kehadiran perempuan dalam musyawarah desa juga sudah cukup baik. Namun perempuan masih belum mampu menyampaikan aspirasinya didalam forum-forum musyawarah tingkat desa. Perempuan masih merasa “minder” dan malu apabila menyampaikan pendapatnya, sehingga dalam menyampaiakan usulan-usulan terkait pembangunan desa mereka menyampaikannya diluar forum musyawarah desa seperti dalam forum PKK atau menyampaikan langsung kepada kepala desa dan perangkat desa. Isu Pemberdayaan perempuan yang diintegrasikan dalam dokumen perencanaan pembangunan desa di Desa Wajasari, bukan merupakan hasil dari perencanaan secara bottom up namun dari program pemerintah. Dalam pelaksanaannya isu pemberdayaan perempuan yang masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan masih sangat minim, hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab antara lain: Orientasi masyarakat yang selalu mengutamakan pembangunan fisik sehingga isu-isu pemberdayaan perempuan terabaikan, serta ketidak mampuan perempuan untuk tampil dan menyuarakan isu pemberdayaan perempuan dalam forum-forum musyawarah, dan yang terakhir adalah kesadaran masyarakat secara umum dan perempuan secara khusus agar isu pemberdayaan perempuan diintegrasikan dalam dokumen perencanaan pembangunan masih rendah. Pemerintah Desa Wajasari seharusnya memfasiltasi kelompok perempuan membuat forum khusus untuk menyampaikan aspirasi dalam penggalian masalah dan potensi desa. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kendala dimana perempuan masih merasa “minder” dan malu dalam menyampaikan pendapat apabila melakukan musyawarah dalam satu forum dengan kelompok laki-laki. Selain itu, untuk mengatasi kendala kurangnya rasa percaya diri kaum perempuan tampil di depan umum, Pemerintah Desa Wajasari disarankan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan secara terus menerus kepada kelompok perempuan, Dengan pelatihan dan pendampingan secara terus menerus diharapkan mampu meningkatkan kesadaran perempuan akan pentingnya keterlibatan mereka dalam pembangunan. Masyarakat Desa Wajasari diharapkan lebih terbuka lagi terkait dengan pemberdayaan perempuan dalam perencanaan pembangunan, dan mendorong perempuan untuk berperan aktif , mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Demikian juga dengan kaum perempuan, dimana Perempuan sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang sudah diberi hak bahkan kewajiban untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan, dapat mengambil kesempatan tersebut dan senantiasa meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The development paradigm in the era of democratization and regional autonomy provides an opportunity for all elements of the community at the village level to be actively involved in development. The community involvement starts from all stages, from the planning process, implementation to evaluation. Women as part of community members should take part in the process so that the results of development can be enjoyed by all levels of society without discrimination. The purpose of this research is to find out the point of views the people of Wajasari Village on the issue of women's empowerment and also to find out how this issue can be integrated in village development planning documents. The method used is descriptive qualitative. The technique in searching of the informants, use purposive sampling, where researchers choose people who are considered to know about this problem. Data collection techniques use in-depth interview and observation. Data analysis techniques in this study using qualitative data analysis models Miles and Huberman. The results showed that the community's views on the issue of women's empowerment were good enough which the Wajasari Village community assumed that men and women had equal access to development. The level of attendance of women in village meetings is also quite good. However, women are still unable to express their aspirations in village level forums. Women still feel "inferior" and embarrassed when expressing their opinions, so that in submitting proposals related to village development they deliver it outside the village discussion forums such as the PKK forum or deliver directly to the village head and village officials. The issue of women's empowerment integrated in the village development planning document in Wajasari Village, is not the result of bottom up planning but from a government program. And in its implementation the issue of women's empowerment included in the development planning document is still very minimal, this is due to several reasons including: Community orientation that always prioritizes physical development so that women's empowerment issues are ignored, as well as the inability of women to show and speak up the issue of empowerment women in deliberation forums and the last is due to public awareness in general and women specifically so that the issue of women's empowerment is integrated in development planning documents is still low. To maximize the delivery of women's aspirations in exploring village problems and potentials, it is better for the Wajasari Village Government to facilitate women's groups to create women's-forums. This is intended to overcome obstacles where women still feel "inferior" and embarrassed in expressing their opinions when holding meetings in a forum with men's groups. In addition, the Wajasari Village Government was also advised to carry out training and mentoring activities for women's groups, to overcome the constraints of women's lack of confidence in public. With training and mentoring it is also expected to increase women's awareness of the importance of their involvement in development. The Wajasari Village community is expected to be even more open with regard to empowering women in development planning, and encouraging women to play an active role, starting from planning, implementation and evaluation. Likewise with women, where women as part of Indonesian citizens who have been given the right and even the obligation to participate in development, in order to take this opportunity and always increase their participation from the planning process to the implementation of activities and evaluations, due to the involvement of women will accelerate the pace of development in the village. |
| Kata kunci | Keywords: Isu Perempuan, Pemberdayaan, Pembangunan |
| Pembimbing 1 | Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si |
| Pembimbing 2 | Dr. Rili Windiasih, M.Si |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2020 |
| Jumlah Halaman | 30 |
| Tgl. Entri | 2020-11-13 14:47:28.809585 |