| NIM | H1B016017 |
| Namamhs | AMAYLIA DWI WAHYUNI |
| Judul Artikel | PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP BANJIR YANG TERJADI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PEMALI |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak di ASEAN dengan 261,1 juta jiwa dan kepadatan penduduk terbesar di Indonesia berada di Pulau Jawa. Dengan bertambahnya penduduk maka semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Bertambahnya kebutuhan manusia selaras dengan berubahnya tata guna lahan. Perubahan tata guna lahan ini dapat mengurangi lahan resapan air yang mengakibatkan bencana alam seperti banjir. Berdasarkan data dari BNPB, bencana alam yang terjadi di Indonesia dari tahun 1918 – 2020, diperoleh bahwa banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi dengan total 9053 kejadian. Untuk tahun 2020, kejadian banjir di Indonesia mencapai 441 kejadian. Dimana Jawa Tengah menempati urutan pertama dengan lebih dari 150 kejadian. Salah satu DAS yang terdapat di Jawa Tengah adalah DAS Pemali. Daerah yang merupakan cakupan DAS Pemali adalah Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal. Menurut BNPB dari tahun 1994 – 2019 terjadi sebanyak 59 kasus banjir di Kabupaten Brebes. Dengan 57 kasus terjadi setiap tahun dari 2002 – 2019. Jumlah korban hilang atau meninggal dunia sebanyak 13 orang dan 20.457 orang mengungsi. Sedangkan pada Kabupaten Tegal, dari 2003 – 2019 terjadi 40 kasus banjir. Jumlah korban hilang atau meninggal dunia sebanyak 10 orang dan 4.354 orang mengungsi. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pengaruh tata guna lahan terhadap komponen banjir seperti debit limpasan dan tinggi genangan banjir pada DAS Pemali. Metode yang digunakan adalah model hidrologi SHETRAN. Data yang digunakan dalam model SHETRAN adalah data yang diturunkan dari pengukuran satelit yaitu DEM, LULC MODIS, data tanah HWSD, data TRRM, dan data evaporasi. Dari penelitian ini didapatkan hasil berupa perubahan nilai debit limpasan maksimum di hulu dan hilir DAS Pemali, dengan data terbesar di hulu dan hilir terjadi pada tahun 2005 dengan 26.11 m3/detik dan 817.51 m3/detik. Debit limpasan maksimum di hulu cenderung turun, berbanding lurus dengan perubahan shrub dan berbanding terbalik dengan perubahan evergreen forest. Sedangkan debit limpasan maksimum dibagian hilir cenderung turun, berbanding lurus dengan menurunnya arable. Disisi lain, besar tinggi genangan banjir berbanding lurus dengan besar debit limpasan maksimum. Semakin besar debit limpasan maksimum maka semakin tinggi genangan banjirnya. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Indonesia has the largest population in ASEAN with 261.1 million people and the largest population density is in Java. Increasing human needs are in line with changing land use. Changes in land use can reduce water infiltration resulting in natural disasters such as floods. Based on data from BNPB, natural disasters that occurred in Indonesia from 1918 - 2020, it was found that flooding was the most frequent natural disaster with a total of 9053 events. For 2020, the incidence of floods in Indonesia reached 441 events. Where Central Java ranks first with more than 150 flood events. One of the watersheds in Central Java is the Pemali watershed. The areas covering the Pemali watershed are Brebes and Tegal, Central Java Province. According to BNPB from 1994 - 2019 there were 59 cases of flooding in Brebes Regency. With 57 cases occurring every year from 2002 - 2019. The number of missing or dead victims was 13 and 20,457 people were displaced. Meanwhile, in Tegal Regency, from 2003 - 2019 there were 40 flood cases. The number of victims missing or dead was 10 people and 4,354 people were displaced. For this reason, the purpose of this study is to determine how land use affects the flood components such as runoff discharge and flood inundation height in the Pemali watershed. The method used is the SHETRAN hydrological model. The data used in the SHETRAN model are the data derived from satellite measurements namely digital elevation model data, MODIS land use land cover, soil type from the Harmonization World Soil Database, rainfall from the Tropical Rainfall Measuring Missions, and evaporation data. From this research, the results obtained in the form of changes in the maximum runoff discharge value in the upstream and downstream Pemali watershed, with the largest data in the upstream and downstream occurring in 2005 with 26,11 m3 / second and 817,51 m3 / second. Maximum runoff discharge in the upstream tends to decrease, proportional to changes in the area of shrubs and inversely proportional to changes in the area of evergreen forests. Meanwhile, the maximum runoff discharge in the downstream part tends to decrease, which is directly proportional to the decrease in the arable area. On the other hand, the height of the flood inundation is directly proportional to the size of the maximum runoff discharge. The greater the maximum runoff discharge, the higher the flood inundation. |
| Kata kunci | Banjir, Genangan, Debit Limpasan, Tata Guna Lahan, SHETRAN, DAS Pemali |
| Pembimbing 1 | Dr. Ing. Suroso, S.T., M.Sc |
| Pembimbing 2 | Dr. Eng. Purwanto Bekti Santoso, S.T., M.T |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2020 |
| Jumlah Halaman | 10 |
| Tgl. Entri | 2020-10-24 00:20:32.630252 |
|---|