Artikel Ilmiah : F1A014100 a.n. THERSIA MANIATA

Kembali Update Delete

NIMF1A014100
NamamhsTHERSIA MANIATA
Judul Artikelpersepsi Mahasiswa Unsoed Asal Alor Nusa Tenggara Timur Tentang Budaya Belis
Abstrak (Bhs. Indonesia)Belis merupakan tradisi adat yang dilakukan masyarakat Alor turun temurun dengan menggunakan gong dan moko dalam proses perkawinan adat berdasarkan warisan dari leluhur/nenek moyang yang ada di Alor-NTT sampai sekarang. Umumnya belis adalah sejumlah uang maupun barang yang diberikan pada tradisi upacara perkawinan yang menganut sistem genealogis patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah) dan menempatkan marga/suku sebagai identitas penting. Dalam perkawinan adat di masyarakat Alor, pembayaran belis menjadi syarat penting bagi sahnya perkawinan. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi mahasiswa Unsoed asal Alor Nusa Tenggara Timur tentang budaya belis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data sesuai topik penelitian, dan validasi data. Hasil penelitian persepsi mahasiswa Unsoed asal Alor tentang budaya belis dengan topik pengetahuan mahasiswa tentang belis didapati persepsi mahasiswa bahwa belis gong dan moko masih merupakan syarat sahnya perkawinan adat di Alor. Belis merupakan simbol perkawinan adat dengan cara meminang perempuan dengan mas kawin/mahar sebagai pembayar jerih lelah orangtua, pembayar air susu ibu, atau sebagai kenang-kenangan untuk orang tua yang telah membesarkan anaknya. Belis menurut masyarakat Alor merupakan amanah leluhur yang harus dilakukan untuk menghormati tradisi setempat yang menggambarkan identitas/harga diri seseorang. Upaya mempertahankan tradisi belis mendapat tantangan karena sulit dan mahalnya mendapatkan gong dan moko hingga tak jarang masyarakat justru menomorduakan kebutuhan yang lebih mendasar, seperti pendidikan dan kesehatan, demi memenuhi permintaan belis yang dituntut keluarga pengantin perempuan. Dampak tradisi belis adalah masyarakat banyak meninggalkan hutang.
Mengatasi dampak belis, gereja perlu bersinergi dengan pemerintah menjadi perantara bagi masyarakat Alor untuk menyampaikan kepada para kepala suku agar memudahkan proses adat belis yang berlaku di setiap suku di Kabupaten Alor.
Abtrak (Bhs. Inggris)Belis is a traditional tradition carried out by the Alor people from generation to generation by using the gong and moko in the traditional marriage process based on the inheritance of their ancestors in Alor-NTT until now. In general, belis is an amount of money or goods given to the tradition of a marriage ceremony that follows a patrilineal genealogical system (following the father's line) and places clan/ethnicity as an important identity. In traditional marriages in the Alor community, the payment of belis is an important condition for the validity of the marriage. The research objective was to determine the perceptions of Unsoed students from Alor East Nusa Tenggara about the belis culture. The method used in this research is descriptive qualitative method, with interview and observation data collection techniques. The data analysis technique is done by collecting data, data reduction, data presentation according to the research topic, and data validation.
The results of the research on the perceptions of Unsoed students from Alor about the culture of belis with the topic of student knowledge about belis found that students' perceptions that belis gong and moko are still legal requirements for traditional marriages in Alor. Belis is a symbol of traditional marriage by proposing a woman with a dowry / dowry to pay for parents' tiredness, breast milk payer, or as a memento for parents who have raised their children. Belis according to the Alor community is an ancestral mandate that must be done to respect local traditions that describe a person's identity / dignity. Efforts to maintain the tradition of belis are challenged because it is difficult and expensive to obtain gong and moko, so that people often subordinate more basic needs, such as education and health, to meet the demand for belis that is demanded by the family of the bride and groom. The impact of the belis tradition is that people leave a lot of debt.
To overcome the impact of belis, the church needs to work together with the government to become an intermediary for the Alor community to convey to the tribal leaders to facilitate the traditional belis process that applies in every tribe in Alor Regency.
Kata kunci50510
Pembimbing 1Dr.Rili Windiasi, M. Si
Pembimbing 2Dr. Tyas Retno Wulan, M. Si
Pembimbing 3Dr. Tri Rini Windyastuti
Tahun2020
Jumlah Halaman10
Tgl. Entri2020-08-28 10:33:47.454631
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.