Artikel Ilmiah : F1A015106 a.n. DIMAS ADITYA NUGROHO

Kembali Update Delete

NIMF1A015106
NamamhsDIMAS ADITYA NUGROHO
Judul ArtikelPandangan Mahasiswa tentang Komunisme di Purwokerto Kabupaten Banyumas Jawa Tengah
Abstrak (Bhs. Indonesia)Partai Komunis Indonesia yang pernah menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia hingga tahun 1965. Namun karena sebuah kejadian yang disebut dengan G30S/PKI pada akhir tahun 1965 yang pada akhirnya melalui TAP MPRS nomor XXV/1966 tentang pembubaran dan pelarang PKI yang secara mendadak menjadikan partai tersebut musuh dalam masyarakat. Anggota dan partisipan partai diburu oleh militer dibantu oleh masyarakat, banyak yang ditangkap dan diasingkan oleh pihak pemerintah namun ada pula yang ditangkap tetapi sampai sekarang tidak jelas keberadaannya dimana. Kejadian G30S/PKI sebuah konflik antar militer dan para petinggi PKI membuat para anggota dan para partisipan yang berada di daerah pun ditangkap. Kejadian yang menjadi luka akan nilai-nilai toleransi yang selalu disuarakan negara dirasa tidak selesai hingga sekarang, stigma akan komunis masih melekat pada masyarakat. Pemaknaan komunis yang digambarkan Orba terus diulang-ulang setiap tahun dengan sebuah peringatan untuk mengingat pengkhianatan PKI dan sebuah hari kesaktian Pancasila. Begitu banyak kajian tentang komunisme namun dalam penelitian ini lebih berfokus kepada pemaknaan mahasiswa melihat komunisme dan eks tapol PKI di Purwokerto Kabupaten Banyumas
Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik dengan metode penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa/i dari beberapa perguruan tinggi yang berada di Purwokerto Kabupaten Banyumas, informan yang diperoleh berjumlah delapan orang dari empat perguruan tinggi yang berbeda dan setiap perguruan tinggi diwakili oleh setiap dua mahasiswa/i. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah anilisis data interaktif Milles dan Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukan pemaknaan yang dilakukan mahasiswa/i dari beberapa perguruan tinggi yang berada di Purwokerto Kabupaten Banyumas didapatkan dari pendidikan sekolah dasar hingga mereka berkuliah dengan stigma komunis yang dibangun oleh Orba, relatif tidak sama tentang pemaknaan. Mahasiswa/i yang memiliki pemaknaan berbeda cenderung mencari informasi dari sumber lain diluar sekolah, namun pada awalnya memiliki pemaknaan yang sama. Respon yang diberikan oleh mahasiswa/i cenderung lebih bervariatif, respon Dukungan moral juga diutarakan oleh beberapa mahasiswa/i serta penolakan sampai persekusi kepada komunisme tidak lagi dilakukan tetapi pembeda kepada mereka yang berstatus eks tapol masih dianggap perlu. Pendapat tersebut diutarakan oleh mahasiswa yang tidak mendapatkan informasi lain dari sekolah.
Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah perlunya kajian berulang-ulang yang dilakukan bertahap dalam kurun waktu tertentu untuk melihat hasil pemaknaan dan respon dari mahasiswa/i, kondisi keberagaman yang dimiliki perlu terus dipertahankan dengan nilai toleransi yang terus ditanamkan kepada masyarakat. Diskriminasi kepada setiap kelompok atau individu dalam masyarakat perlu terus ditekan dengan cara interaksi, tidak adanya interaksi membuat pemaknaan yang dilakukan tidak akan benar dan tidak akan pernah merasa salah.
Abtrak (Bhs. Inggris)The Communist Party of Indonesia (PKI) was one of the biggest parties in Indonesia until 1965. However, due to an incident called the G30S / PKI at the end of 1965 and through TAP MPRS number XXV / 1966 about the dissolution and prohibition of the PKI, those suddenly made the party hostile to the society. Party members and participants were hunted by the military assisted by the community, many were arrested and exiled by the government, but some were arrested but until now their whereabouts are still unclear. The G30S / PKI incident was a conflict between the military and PKI officials that made members and participants in the area arrested. Events that cause injury to tolerance values that have always been voiced by the state are felt unfinished until now. The stigma of communism is still inherent in society. The communist meaning described by the New Order was repeated every year with a reminder to remember the betrayal of the PKI and a Pancasila miracle day. There are so many studies on communism, but in this research it focuses more on the meaning of students seeing communism and ex political prisoners PKI in Purwokerto, Banyumas Regency.
This research used symbolic interactionism theory with qualitative research methods. The informants in this research were students from several college in Purwokerto, Banyumas Regency. The informants obtained were eight people from four different college. It was represented by two students for each college. In this research, data obtained through interviews, observation and documentation. Then the analysis technique used in this research is Milles and Huberman's interactive data analysis.
The results of this research show that the meanings conducted by students from several college in Purwokerto, Banyumas Regency, are obtained from their elementary school education until college with the communist stigma built by the New Order, relatively unequal about the meaning. Students who had different meanings tended to seek information from other sources outside the school, but initially have the same meaning. The responses given by the students tended to be more varied. The response to moral support was also expressed by some of the students and the refusal to persecute communism was no longer carried out but differentiating those who were ex political prisoners was still considered necessary. This opinion was expressed by students who did not get other information from the school.
Recommendations from the results of this research are the need for repeated studies carried out gradually over a certain period of time to see the results of the meaning and response of students. The condition of diversity that is owned needs to be maintained with the tolerance value that continues to be instilled in the society. Discrimination to every group or individual in the society needs to be continually suppressed by means of interaction, because the lack of interaction makes the meaning done will not be right and will never feel wrong
Kata kunciPemaknaan, Komunisme, Mahasiswa
Pembimbing 1Dalhar Shodiq, M.Si
Pembimbing 2Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si
Pembimbing 3Prof. Dr. Imam Santoso, M.Si
Tahun2020
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2020-08-18 09:09:15.791072
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.