Artikel Ilmiah : F1D014029 a.n. DIANA PURNAMA PUTRI

Kembali Update Delete

NIMF1D014029
NamamhsDIANA PURNAMA PUTRI
Judul ArtikelPOLITIK PENGELOLAAN KAWASAN EKOWISATA PETUNGKRIYONO NATIONAL NATURE HERITAGE DI KABUPATEN PEKALONGAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan upaya dalam politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage, memahami dan mendeskripsikan aktor yang terlibat dalam politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage serta memahami dan menjelaskan faktor kontekstual dalam politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dalam bingkai perspektif strukturalis dan paradigma konstruktivisme. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa di Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage ada lima desa yang memiliki obyek wisata. Lima desa tersebut di antaranya: Desa Curugmuncar, Desa Tlogopakis, Desa Kayupuring, Desa Kasimpar dan Desa Tlogohendro. Obyek wisata di lima desa tersebut memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Pengembangan dari obyek wisata akan berhubungan dengan pengelolaannya. Pengelolaan yang dilakukan berkaitan dengan fungsinya, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Setiap fungsi pengelolaannya memunculkan aktor-aktor yang terlibat dalam politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage yang memiliki kepentingan masing-masing dengan menjalankan tindakan politik untuk mewujudkan kepentingan politiknya. Aktor yang terlibat dalam politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage, di antaranya adalah: Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan, Perhutani KPH Pekalongan Timur, LMDH, dan pokdarwis. Politik pengelolaan Kawasan Ekowisata Petungkriyono National Nature Heritage didukung oleh berbagai potensi sumber daya alam yang melimpah, sehingga menjadi sumber yang mampu memunculkan politik yang bersifat elitis. Sedangkan yamg menjadi faktor penghambatnya adalah permasalahan infrastruktur, sulitnya jaringan telekomunikasi, maraknya perburuan liar, dan minimnya pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan ekowisata.
Abtrak (Bhs. Inggris)This research-based paper aims at understand and describe the efforts ecotourism management politics in Petungkriyono National Nature Heritage Area, to understand and describe the actors involved in the ecotourism management politics of the Petungkriyono National Nature Heritage Area, and to understand and describe the contextual factors of this ecotourism management politics in Petungkriyono National Nature Heritage Area. By using a qualitative method and a case–study approach in the framework of the structuralist perspective and the constructivism paradigm. The results of this research explain that in the Petungkriyono National Nature Heritage Area, there are five villages that have managed tourism site. They are Curugmuncar Village, Tlogopakis Village, Kayupuring Village, Kasimpar Village and Tlogohendro Village. Each of the villages has different and unique characteristics. The management will be directly related to its development to find out its management. This research focus on its functions, namely planning, organizing, directing, and controlling. Each of the management functions points out actors who are involved in the ecotourism management politics of the Petungkriyono National Nature Heritage Area, which have their own political tactics to achieve their own political goals. Among these actors, namely the Department of Youth and Sports and Tourism's Pekalongan Regency, Eastern Pekalongan forest management unit of Perhutani, LMDH, and tourist activist. The management politics of the Petungkriyono National Nature Heritage Ecotourism area is supported by a variety of abundant natural resource potentials, so that it becomes a source that is capable of eliciting elitist politics. While the inhibiting factors are infrastructure problems, difficulty in telecommunications networks, rampant poaching, and the lack of public knowledge related to ecotourism management.
Kata kunciekowisata, pengelolaan, pengembangan, aktor
Pembimbing 1Triana Ahdiati, M.Si.
Pembimbing 2Drs. M. Soebiantoro, M.Si.
Pembimbing 3Drs. Solahuddin Kusumanegara, M.Si.
Tahun2020
Jumlah Halaman21
Tgl. Entri2020-02-25 17:46:07.008977
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.