| NIM | F1D014017 |
| Namamhs | MILDA MAULIDDINI |
| Judul Artikel | KONFLIK HORIZONTAL ANTARA KKPLH DENGAN LMDH MEKAR RAHAYU ATAS PELANGGARAN PERJANJIAN KERJASAMA PENANAMAN KOPI PADA HUTAN PRODUKSI DESA GOLAT PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan mengenai bagaimana proses konflik horizontal dan mengetahui siapasajakah aktor yang berkonflik serta dominan dalam konflik terkait pelanggaran perjanjian kerjasama antara KKPLH dengan LMDH Mekar rahayu atas penanaman kopi pada Hutan Produksi Desa Golat Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dalam bingkai perspektif strukturalis dan paradigma kontruktivisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi karena adanya pelanggaran perjanjian yang sudah di sepakati oleh dua belah pihak sebelumnya. Hal ini dijelaskan dalam beberapa tahap, sebaga berikut; Pertama, adanya ketidakcocokan potensial, di mana KKPLH dan LMDH Mekar Rahayu memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda. Kedua, adanya kesadaran kognisi dan personalisasi, di mana kesedaran tersebut timbul dari pihak KKPLH yang merasa bahwa adanya pelanggaran di beberapa poin Perjanjian Kerjasama PKS antara Pihak LMDH Mekar Rahayu dan Perum Perhutani Ciamis. Ketiga, konflik semakin meruncing dengan adanya tindakan KKPLH yang melakukan reboisasi di lahan petak 59c, sehingga pihak LMDH menganggap dirugikan dan melakukan pelaporan kepada pihak yang berwenang. Keempat, pihak yang dilaporkan meminta perlindungan kepada pemeritah daerah. Kelima, pihak pemerintah menjembatani pihak KKPLH dan Desa Golat untuk dilakukannya sesi Audiensi dengan pihak DPRD Kabupaten Ciamis, di mana hasilnya terdapat beberapa poin penting yang di keluarkan oleh pihak DPRD. Adapun instrumen lembaga yang terlibat dan mempunyai peran, yakni; Petama, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mekar rahayu, yang di mana mempunyai kepentingan atas kerugian akibat perusakan tanaman kopi. Kedua, Kelompok Kerja Lingkungan Hidup (KKPLH), yang di mana mempunyai kepentigan akibat keberadaan tanaman kopi yang merugikan masyarakat. Ketiga, Pemerintahan Desa Golat, di mana pemerintahan desa mempuai wewenang dalam mengatur masyarakat yang ada di Desa Golat. Oleh karena itu, Pemerintahan desa dianggap terlibat dan mempunyai peran yang penting dalam konflik horizontal, baik dalam proses konflik maupun dalam menyelesaikan konflik. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This research aims to understand about conflict between LMDH Mekarrahayu and KKPLH Golat Village for violating the agreement about coffee cultivation in Sawal Mountain. This research also aims to describe all the actors who are involved, which hold more power and their reasons behind the conflict between investors against Desa Golat resident about coffee cultivation in conservation forest of Panumbangan Subdistrict, Ciamis Regency. This research uses post-structuralist perspective and constructivist paradigm, this research also uses qualitative method and case study approach. Purposive and snowball sampling are the technique chosen for selecting all informants. Therefore, the data are taken through in-depth interviews, observation and documentation. The results of this study reveals that conflicts occur due to violations of agreements that have been agreed upon in advance. This is explained in several stages, First, there is a misunderstanding, where KKPLH and LMDH Mekar Rahayu have different functions and objectives. Second, there is awareness of cognition and personalization, where awareness arises from KKPLH who feel there is a violation at several points of the PKS Cooperation Agreement between LMDH Mekar Rahayu and Perum Perhutani Ciamis. Third, the conflict was arisen because reforestation by KKPLH in plot area 59c, LMDH think that they are at disadvantages and filed the report. Fourth, KKPLH asked for protection from local goverment. Fifth, the government arranges KKPLH and Golat Village to hold a hearing with the Ciamis Regency DPRD. There are some important decision from DPRD. The role from all the institution involved; First, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), which has a reason for conflict due to the destruction of coffee cultivation. Second, Kelompok Kerja Lingkungan Hidup (KKPLH) for helping the residents by operated reforestation. Third, the Golat Village Government, where the village government has the authority to regulate the residents in the Golat Village. Therefore, village government is considered to be involved and has an important role in conflict, both in the process and resolving conflicts. |
| Kata kunci | Konflik, Konflik Horizontal, Aktor. |
| Pembimbing 1 | Drs. Bambang Suswanto, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Drs. Solahuddin Kusumanegara, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Dr. Waluyo Handoko, S.IP., M.Sc. |
| Tahun | 2020 |
| Jumlah Halaman | 21 |
| Tgl. Entri | 2020-02-14 00:54:54.471343 |
|---|