Artikel Ilmiah : F1A014043 a.n. MAULIDA HIKMAWATI
| NIM | F1A014043 |
|---|---|
| Namamhs | MAULIDA HIKMAWATI |
| Judul Artikel | Interaksi Sosial Anak Tunarungu di Lingkungan SLBN Mandiraja Kabupaten Banjarnegara |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Kebutuhan komunikasi dan interaksi sosial anak tunarungu untuk berkomunikasi sangat dibutuhkan untuk memenuhi kegiatan sehari – hari. Komunikasi merupakan satu kesatuan dengan kontak sosial yang merupakan syarat pokok terjadinya interaksi sosial. Anak tunarungu adalah anak yang tidak dapat mendengar baik dengan maupun tanpa alat bantu dengar. Anak tunarungu dibagi menjadi dua bagian yaitu tuli dan sebagian dengar. Anak tunarungu membutuhkan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhanya terutama dibidang pendidikan untuk melatih kemampuan bahasa non – verbal dan bahasa verbal mereka, oleh sebab itu orangtua memilih untuk menyekolahkan anak mereka di SLBN Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan teori interaksionalisme simbolik dengan metode penelitian kualitatif. Informan yang diperoleh berjumlah sebelas orang yang terdiri dari tujuh orang informan utama dan empat orang sebagai informan pendukung yang ditentukan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah orang yang berada disekitar lingkungan sekolah. Dalam penelitian ini data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Sementara itu, teknik analisis data yang digunakan menggunakan analisis data interaktif dari Milles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Terdapat dua syarat interaksi sosial yaitu kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial terdapat dua yaitu kontak secara langsung (primer) dan kontak tidak langsung (sekunder) selain adanya kontak sosial, ada pula komunikasi yang terdapat lima unsur yaitu komunikator, pesan, media , efek dan komunikan. Hasil penelitian ini menunjukkan anak tunarungu merupakan anak yang tidak dapat terlepas adanya simbol sebagai alat bantu mereka ketika berinteraksi sosial di lingkungan sekolah sehingga guru memberikan pembelajaran secara manual dengan tujuan metode pembelajaran yang demikian dapat diserap dengan mudah oleh anak tunarungu di sekolah. Kurikulum yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan standar KTSP 2006 dengan tujuan memudahkan siswa untuk menyerap pembelajaran selama di sekolah. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat interaksi sosial yang baik antara hubungan siswa dengan guru. Interaksi sosial ini berbeda halnya saat kontak sosial dan komunikasi terjadi antara penjaga perpustakaan dan OB karena mereka minim pengetahuan tentang bahasa isyarat yang menyebabkan harus selalu menggunakan media seperti, alat tulis sebagai perantara komunikasi dan bantuan guru pendamping untuk menerjemahkan bahasa anak tunarungu. Pesan yang disampaikan meskipun melewati perantara, namun hal ini tidak membuat hambatan bagi OB dan penjaga perpustakaan dengan anak tunarungu. Pesan yang disampaikan oleh komunikator selama mereka dapat berbahasa isyarat dengan baik maka anak tunarungu dengan mudahnya menangkap dan memahami hal yang disampaikan oleh komunikator. Guru didalam kelas menyampaikan penjelasan pelajaran dengan cara yang manual, menggunakan jari – jemari dan ekspresi wajah supaya anak tunarungu dapat menangkap pesan dari guru. Sekolah juga menyediakan fasilitas terapi wicara sebagai pelatihan anak tunarungu dalam menggerakan bibir mereka untuk kebutuhan interaksi sosial supaya mereka dapat berkomunikasi dengan baik. Saran dalam penelitian ini guru seharusnya lebih ekspresif saat mengajar anak didalam kelas supaya anak tunarungu memiliki kesan dan gambaran bahwa guru selalu ceria saat mengajar mereka didalam kelas. Penyampaian guru di dalam kelas seharusnya guru sering mengajarkan siswa berkelompok supaya menjalin kerjasama dengan baik dengan teman – temannya. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Communication needs and social interaction of deaf children to communicate is needed to meet their daily activities. Communication is a unity with social contact which is a basic requirement for social interaction. Deaf children are children who cannot hear both with and without hearing aids. Children with hearing impairment are divided into two parts, deaf and partial hearing. Children with hearing impairment need facilities and infrastructure to meet their needs, especially in the field of education to practice their non-verbal and verbal language skills, therefore parents choose to send their children to school in Mandiraja SLBN, Banjarnegara Regency. This research uses the theory of symbolic interactionalism with qualitative research methods. Informants obtained were eleven people consisting of seven main informants and four as supporting informants determined in this study using purposive sampling techniques. The informants in this study are people who are around the school environment. In this study data were obtained through in-depth interviews, observation and documentation. Meanwhile, the data analysis technique used uses interactive data analysis from Milles and Huberman which consists of data collection, data presentation, data reduction and drawing conclusions or verification. There are two conditions for social interaction, namely social contact and communication. There are two social contacts, namely direct contact (primary) and indirect contact (secondary) in addition to social contact, there is also communication that there are five elements, namely communicators, messages, media, effects and communicants. The results of this study indicate that deaf children are children who can not be separated from the symbol as a tool for them when interacting socially in the school environment so that teachers provide learning manually with the aim of such learning methods that can be absorbed easily by deaf children in school. The curriculum applied in this study uses the 2006 SBC standards with the aim of making it easier for students to absorb learning while at school The conclusion from this study there is a good social interaction between the relationship of students and teachers. This social interaction is different when social contact and communication occur between library keepers and OBs because they lack knowledge of sign language which causes them to always have to use media such as stationery as communication intermediaries and assistant teacher assistance to translate the language of deaf children. The message conveyed though passed through an intermediary, but this does not create obstacles for OB and library guards with deaf children. The message delivered by the communicator as long as they can speak sign language well, the deaf child easily catches and understands what is conveyed by the communicator. The teacher in the class delivers the lesson explanation in a manual way, using fingers and facial expressions so that the deaf child can catch the message from the teacher. The school also provides speech therapy facilities as training for deaf children in moving their lips to the needs of social interaction so they can communicate well. Suggestions in this study teachers should be more expressive when teaching children in the classroom so that deaf children have the impression and image that teachers are always cheerful when teaching them in the classroom. Submission of teachers in the classroom teachers should often teach students in groups to collaborate well with their friends. |
| Kata kunci | siswa, guru, SLBN Mandiraja, anak tunarungu. |
| Pembimbing 1 | Dra. Rin Rostikawati, M.Si |
| Pembimbing 2 | Dr. Ign. Suksmadi S., M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr Nanang Martono, M.Si |
| Tahun | 2019 |
| Jumlah Halaman | 10 |
| Tgl. Entri | 2019-11-16 15:07:16.129822 |