Artikel Ilmiah : F1A015012 a.n. NURUL YULIANTI
| NIM | F1A015012 |
|---|---|
| Namamhs | NURUL YULIANTI |
| Judul Artikel | EKSKLUSIVITAS PERKAWINAN MASYARAKAT ETNIS TIONGHOA DI PURWOKERTO |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Ikatan dalam masyarakat etnis Tionghoa memberikan persepsi bahwa terdapat pengelompokan yang eksklusif. Kultur perkawinan sesama etnis semakin memperkuat adanya persepsi eksklusif pada masyarakat etnis Tionghoa. Tujuan dalam penelitian ini yaitu, yang pertama, untuk mengetahui alasan adanya eksklusivitas dalam kultur masyarakat etnis Tionghoa di Purwokerto. Kedua, untuk mengetahui pandangan masyarakat etnis Tionghoa di Purwokerto mengenai perkawinan beda etnis. Subyek penelitian meliputi orang Tionghoa totok yang menikah dengan orang Tionghoa totok, orang Tionghoa totok yang menikah dengan orang Tionghoa keturunan, orang Tionghoa totok yang menikah dengan orang di luar etnis Tionghoa, dan orang Tionghoa keturunan yang menikah dengan orang di luar etnis Tionghoa. Lokasi penelitian dilakukan di Purwokerto. Teknik penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yaitu berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validasi data yang digunakan oleh peneliti yaitu dengan melakukan triangulasi . Hasil penelitian ini yaitu ada beberapa faktor masyarakat etnis Tionghoa di Purwokerto mempertahankan perkawinan sesama etnis di antaranya karena adanya tradisi yang harus dipertahankan, mempertahankan marga yang dimiliki masyarakat etnis Tionghoa, adanya persepsi terhadap etnis lain yaitu rasa kurang percaya dengan etnis lain, dan latar belakang keluarga dimana masyarakat etnis Tionghoa dianggap lebih baik secara ekonomi dibandingkan etnis lain, sehingga memilih menikah dengan sesama etnis. Penelitian ini juga menjelaskan adanya perkawinan masyarakat etnis Tionghoa dengan etnis lain. Perkawinan tersebut terjadi karena adanya keterbukaan pola pikir pada sebagian masyarakat etnis Tionghoa. Akan tetapi, perkawinan masyarakat etnis Tionghoa dengan etnis lain juga menimbulkan adanya konflik dan pertentangan dari pihak keluarga etnis Tionghoa. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The bond in the Chinese ethnic community gives us a perception that there are exclusive groupings. The culture of inter-ethnic marriages makes a stronger sense of exclusivity in the ethnic Chinese community. There are two objectives in this study, the first is to find out the reasons for exclusivity in the culture of Chinese ethnic communities in Purwokerto. Second, to find out the views of the Chinese ethnic community in Purwokerto regarding inter-ethnic marriages. Research subjects included a full-blooded Chinese married to a full-blooded Chinese, a full-blooded Chinese married to a descendant of Chinese, a full-blooded Chinese who married someone outside Chinese, and a descendant Chinese who married someone outside Chinese. The location of the study was conducted in Purwokerto city. The research technique uses a purposive sampling method by collecting data through in-depth interviews, observation, and documentation. The method of data analysis is done by using an interactive analysis model in the form of data reduction, data presentation, and withdraw a conclusion. Data validation used by researchers is by doing a triangulation. The results of this study are that there are several factors of Chinese ethnic communities in Purwokerto maintaining same-ethnic marriages including the existence of traditions that must be maintained, maintaining the clans owned by the Chinese ethnic community, the perception of other ethnic groups, namely a lack of trust with other ethnic groups outside of Chinese ethnicity, and family backgrounds where the ethnic Chinese community is considered to be economically better than other ethnic groups, so they choose to marry with other ethnic groups. This study also explains the marriage of ethnic Chinese communities to other ethnic groups. The marriage occurred because of an open mindset in some ethnic Chinese communities. However, the marriage of the Chinese communities to other ethnic groups also creates conflicts and opposition from Chinese ethnic families. |
| Kata kunci | perkawinan, eksklusivitas, Tionghoa |
| Pembimbing 1 | Dr. Masrukin, M.Si |
| Pembimbing 2 | Dra. Tri Rini Widyastuti, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Niken Paramarti D., S.Sos. M.Si. |
| Tahun | 2019 |
| Jumlah Halaman | 51 |
| Tgl. Entri | 2019-11-15 20:15:02.008503 |