Artikel Ilmiah : E1A015063 a.n. TITAH SULISTIFA RANI
| NIM | E1A015063 |
|---|---|
| Namamhs | TITAH SULISTIFA RANI |
| Judul Artikel | PEMBINAAN TERHADAP NARAPIDANA PENDERITA HIV (Human Immunodeficiency Virus) / AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) DALAM UPAYA MENCEGAH TERJADINYA PENULARAN TERHADAP NARAPIDANA LAINNYA (STUDI DI LAPAS IIA PURWOKERTO). |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Sistem Pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, lapas-lapas di Indonesia telah mengalami kelebihan penghuni yang akan meningkatkan resiko penularan HIV/AIDS. Oleh karena itu narapidana penderita HIV/AIDS harus mendapatkan perlakuan khusus daripada narapidana yang tidak menderita HIV/AIDS. Hal ini tidak hanya untuk kepentingan dirinya, melainkan juga kepentingan kesehatan narapidana lain dari penularan HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembinaan terhadap narapidana penderita HIV/AIDS di LAPAS IIA Purwokerto dan mengetahui faktor penghambat dalam pelaksanaan pembinaan terhadap narapidana penderita HIV/AIDS di LAPAS IIA Purwokerto. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian yaitu deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer yaitu wawancara dan sekunder yaitu studi kepustakaan. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang disusun secara sistematis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembinaan terhadap narapidana penderita HIV/AIDS di LAPAS IIA Purwokerto disamakan dengan narapidana lain yang bukan penderita HIV/AIDS, sehingga pembinaan terhadap narapidana penderita HIV/AIDS tidak berjalan secara optimal. Adapun faktor penghambat pembinaan narapidana penderita HIV/AIDS di LAPAS IIA Purwokerto dari struktur hukum yaitu tidak adanya dokter dan psikolog, ruangan khusus konsultasi bagi narapidana penderita HIV/AIDS, tidak diwajibkannya VCT bagi narapidana dan over population, dari substansi hukum yaitu tidak adanya peraturan dan pembinaan khusus yang mengatur mengenai hak narapidana penderita HIV/AIDS dan dari budaya hukum yaitu HIV/AIDS dipandang sebagai aib oleh masyarakat, sehingga respon masyarakat lebih berorientasi pada labelling negatif terhadap penderita HIV/AIDS, termasuk di dalam LAPAS IIA Purwokerto yang kerahasiaan identitas narapidana penderita HIV/AIDS masih menjadi prioritas utama daripada pembinaan dan pencegahan penularan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The correctional system was created in order to make correctional residents in order to become a complete human being so that can be accepted again by the community environment. In this regard, correctional institution in Indonesia has an overpopulation who will increase the risk of HIV/AIDS transmission. Therefore, prisoners have HIV/AIDS must get special treatment from prisoners who do not have HIV/AIDS. This is not only for their interests, but also for the prisoners who do not have HIV/AIDS interests of HIV/AIDS transmission. The purpose of this study is to find out the implementation of prisoners have HIV/AIDS coaching in Lapas IIA Purwokerto and to find out the inhibiting factors of implementation of prisoners have HIV/AIDS coaching in Lapas IIA Purwokerto. The research method used in this study is sociological juridical with descriptive specifications. The type of data used is primary data that is interviews and secondary data is library research. The results of this study are presented in the form of descriptions compiled systematically. The results showed that the coaching of prisoners have HIV/AIDS in Lapas IIA Purwokerto was equated with other prisoners who have not HIV/AIDS, so the coaching of prisoners have HIV/AIDS did not implemented optimally. The inhibiting factors of coaching prisoners have HIV/AIDS in Lapas IIA Purwokerto from the legal structure is absence of doctor and psychologist, a particular room for consultation of prisoners have HIV/AIDS, VCT is not required for prisoners and over population, from the legal substance is absence of specific regulations and coaching who arrange the rights of prisoners have HIV/AIDS and from the legal culture is HIV/AIDS is seen as a disgrace by the community, so that the community response is more oriented towards negative labelling of HIV/AIDS sufferers, including in Lapas IIA Purwokerto which the identity confidentiality of prisoners have HIV/AIDS is still a top priority rather than coaching and preventing transmission. |
| Kata kunci | Pembinaan, HIV/AIDS, Lembaga Pemasyarakatan |
| Pembimbing 1 | Dr. Angkasa, S.H., M.Hum. |
| Pembimbing 2 | Rani Hendriana, S.H., M.H. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 17 |
| Tgl. Entri | 2019-11-12 18:29:55.33341 |