Artikel Ilmiah : C1A014106 a.n. RIZKY WULANDARI

Kembali Update Delete

NIMC1A014106
NamamhsRIZKY WULANDARI
Judul ArtikelANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) USAHA TANI BAWANG MERAH DI DESA PASARBATANG, KECAMATAN BREBES, KABUPATEN BREBES
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini merupakan penelitian survei pada pelaku usahatani bawang merah di Desa Pasarbatang Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Break Even Point (BEP) Usaha Tani Bawang Merah Di Desa Pasarbatang, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan para petani bawang merah di Desa Pasarbatang dalam mencapai titik BEP, tingkkat efisiensi faktor produksi yang digunakan , serta untuk mengeahui sensitivitas BEP jika terjadi perubahan harga jual, jumlah produksi, dan biaya produksi.
Populasi dalam penelitian ini adalah petani bawang merah di Desa Pasarbatang, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 91 responden. stratified random sampling digunakan dalam penentuan responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Usahatani bawang merah di Desa Pasarbatang telah melebihi Break Even Point (BEP), (2) Kemampuan petani untuk menghasilkan laba adalah baik, dan petani telah dapat menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba dengan efektif (3) Hasil analisis sensitivitas ekonomi menunjukan bahwa adanya kenaikan atau penurunan baik harga jual, jumlah produksi, dan biaya produksi usahatani bawang merah di Desa Pasarbatang masih bisa melebihi titik BEP kecuali pada saat harga jual turun dan biaya produksi naik sebanyak 50%, produksi turun & biaya produksi naik sebesar 10% dan 50% secara bersamaan, dan jika luas lahan ≥1,6 Ha produksi naik & biaya produksi naik sampai dengan dan ≥30%.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu usahatani bawang merah di Desa Pasarbatang, memberikan harapan kedepannya yang menguntungkan untuk para petani. Meskipun menguntungkan, akan tetapi petani masih rawan mengalami kerugian seperti pada saat harga jual mengalami penurunan dan adanya tambahan biaya produksi. Untuk itu perlu adanya stabilisasi harga jual produk serta adanya menegemen biaya produksi yang baik sehingga petani dapat memaksimalkan kualitas produk sehingga dapat bersaing dengan kualitas bawang merah dari luar daerah serta dapat meningkatkan efisiensi usahatani bawang merah. Masalah lain sering dialami oleh petani yaitu keterbatasan tenaga kerja serta hama musiman yang selalu menyerang tanaman setiap tahunnya. Tenaga kerja yang semakin lama semakin berkurang membuat petani mengalami kesulitan. Apalagi pada saat tanaman bawang merah diserang hama musiman, dimana dibutuhkan banyak tenaga kerja karena selain diberi pestisida pengusir hama petani juga menggunakan cara manual untuk menghilangkan hama yaitu dengan memetik daun yang terdapat ulat dan telur ulat.
Abtrak (Bhs. Inggris)This research is a survey research on the perpetrators of onion farming in Pasarbatang Village, Brebes District, Brebes Regency. This study took the title: "Break Even Point Analysis (BEP) of Shallot Farmers in Pasarbatang Village, Brebes District, Brebes Regency". The purpose of this study was to determine the ability of shallot farmers in Pasarbatang Village to reach the BEP point, the level of efficiency of the production factors used, and to know the sensitivity of BEP if there were changes in selling prices, production quantities, and production costs.
The population in this study were shallot farmers in Pasarbatang Village, Brebes District, Brebes Regency. The number of respondents taken in this study were 91 respondents. stratified random sampling is used in determining respondents. Based on the results of the study showed that: (1) onion farming farmers have exceeded the Break Even Point (BEP), (2) the ability of farmers to generate profits is good, and farmers have been able to use their assets to produce profits effectively (3) Results Economic sensitivity analysis shows that there is an increase or decrease in both the selling price, the amount of production, and the production costs of 10% -20% onion farming in Pasarbatang Village can still exceed the BEP point except when the selling price drops and production costs rise by 50%, production drops & production costs rise by 10% and 50% of shallot farmers can still reach BEP and experience losses, if the land area is ≥0.16 Ha if production rises & production costs rise to ≥30% farmers shall not able to exceed the BEP and experience losses.
The implications of the conclusions above are onion farming in Pasarbatang Village, giving hope for the future that is profitable for farmers. To increase profits, farmers need to increase their income first. Increasing income must also be seen from the ability of farmers to add production factors. To add production factors, the first step that farmers must take is to add capital to their farming. With additional capital, the aim is to increase the number of production factors which have a direct influence in increasing income, namely adding business land, and adding seeds of shallots. To increase the efficiency of shallot farming in Pasarbatang Village, it also needs to look according to the ability of farmers to run it. Things that must be done in increasing efficiency are reducing production costs incurred and market conditions that make selling prices fluctuate and disrupt the efficiency of shallot production.
Kata kunciBreak Even Point (BEP), Usahatani, Keuntungan, Bawang Merah, Biaya Produksi.
Pembimbing 1Drs. Rusmusi IMP, M.Si
Pembimbing 2Drs. Oke Setiarso, M.Si
Pembimbing 3Dra. Neni Widayaningsih
Tahun2019
Jumlah Halaman121
Tgl. Entri2019-11-01 09:39:44.279293
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.