| NIM | J1A015005 |
| Namamhs | RATIH RUSLIANTI |
| Judul Artikel | Stylistic Analysis of Deictic Expressions in Donald Trump's Speech Recognizing Jerusalem as Israel's Capital on December 6, 2017 |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian yang berjudul Stylistic Analysis of Deictic Expressions in Donald Trump’s Speech Recognizing Jerusalem as Israel’s Capital on December 6, 2017 bertujuan untuk menganalisis jenis deiksis dan makna ekspresi deiktik yang ditemukan dalam pidato Donald Trump. Dengan menerapkan teori Levinson (1983) tentang 5 jenis deiksis dan pendekatan Hanks (2005) tentang bidang deiktik dan embedding, penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Sementara itu, data penelitian ini adalah ekspresi deiktik yang ditemukan dalam transkrip pidato Trump tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Transkrip ini diambil dari situs web The White House https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/statement-president-trump-jerusalem/. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trump menggunakan 5 jenis deiksis; yakni deiksis persona (48 kali), deiksis waktu (17 kali), deiksis ruang (1 kali), deiksis wacana (14 kali), dan deiksis sosial (1 kali). Selain itu, dengan menerapkan pendekatan bidang deiktik dan embedding yang diusulkan oleh Hanks, yakni dengan mengaitkan ekspresi deiktik dengan konteks sosial, ditemukan 19 makna berbeda dari setiap penggunaan ekspresi deiktik yang digunakan; yakni mengesankan audiens, menciptakan rasa kebersamaan, mengalihkan perhatian dari pembicara, menciptakan hubungan yang terpisah dari pembicara, menunjukkan otoritas pembicara, menyampaikan pendapat pribadi pembicara, menunjukkan tanggung jawab pembicara, menghindari pembicara untuk secara terbuka menuduh pemerintahan sebelumnya, berbagi tanggung jawab, menciptakan persatuan dengan pemerintahan pembicara, menunjukkan komitmen pembicara, membujuk audiens, mempengaruhi audiens, memperkuat fakta, menegaskan sesuatu, menunjukkan empati, menciptakan kedekatan terhadap situasi yang sedang dibicarakan, menetralkan pembicara, dan melepaskan pembicara dari tanggung jawab. Makna-makna tersebut dibentuk dari sebuah konteks dimana Trump adalah pembicara yang tengah menyampaikan pidatonya kepada audiens, dan tiga presiden sebelumnya; Bill Clinton, George W. Bush, and Barack Obama, sebagai pihak yang berseberangan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The research entitled Stylistic Analysis of Deictic Expressions in Donald Trump’s Speech Recognizing Jerusalem as Israel’s Capital on December 6, 2017 is aimed to analyze the types of deixis and the meanings of those deictic expressions found in Donald Trump’s speech. By applying Levinson’s theory (1983) regarding five types of deixis and Hanks’ approach (2005) regarding deictic field and embedding, this research belongs to qualitative research. Meanwhile, the data of this research are the deictic expressions found in the transcript of Trump’s speech recognizing Jerusalem as the capital of Israel. The transcript was taken from The White House website https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/statement-president-trump-jerusalem/. The result shows that Trump produces five types of deixis; those are person deixis (48 times), time deixis (17 times), spatial deixis (1 time), discourse deixis (14 times), and social deixis (1 time). In addition, following the deictic field and embedding’s approach proposed by Hanks, by relating the deictic expressions to the condition of the social field, there are found 19 different meanings of the deictic expression produced; those are impressing the audience, creating a sense of togetherness, shifting the attention away from the speaker, creating a farther-apart relationship relative to the speaker, showing the authority of the speaker, conveying the speaker’s personal opinion, showing the speaker’s responsibility, avoiding the speaker to openly accuse the previous administrations, sharing responsibility, creating unity with the speaker’s administration, showing the speaker’s commitment, persuading the audience, influencing the audience, strengthening a fact, asserting something, showing empathy, creating the closeness of the situations that being presented, neutralizing the speaker, and taking the speaker off from responsibility. Those meanings are shaped from the context where Trump is a speaker who is delivering his speech to the audience, and three previous presidents; Bill Clinton, George W. Bush, and Barack Obama, as the opposite sides. |
| Kata kunci | jenis deiksis, makna ekspresi deiktik, pidato, Donald Trump, stilistika |
| Pembimbing 1 | Dr. Chusni Hadiati, S.S., M.Hum. |
| Pembimbing 2 | Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. |
| Pembimbing 3 | Kristianto Setiawan, S.S, M.A. |
| Tahun | 2019 |
| Jumlah Halaman | 9 |
| Tgl. Entri | 2019-06-26 12:46:30.490214 |
|---|