Artikel Ilmiah : P2A015002 a.n. TOTOK SUGIHARTO

Kembali Update Delete

NIMP2A015002
NamamhsTOTOK SUGIHARTO
Judul ArtikelPERILAKU PETANI DALAM BUDIDAYA BAWANG MERAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP HASIL TANAMAN SERTA KUALITAS TANAH (BAHAN ORGANIK TANAH DAN CEMARANNYA) DI KECAMATAN MARGASARI KABUPATEN TEGAL
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kecamatan Margasari salah satu daerah penghasil bawang merah di Kabupaten Tegal. Budidaya bawang merah di wilayah tersebut sudah dilakukan secara turun temurun dan menjadi kebiasaan para petani setempat. Kebiasaan yang berlangsung secara terus menerus dan berulang yang dilakukan oleh manusia merupakan perilaku. Bentuk operasional dari perilaku dikelompokan dalam 3 (tiga) jenis, yaitu Knowledge (Pengetahuan); Attitude (Sikap); Practice (Tindakan). Perilaku para petani bawang merah tentunya berdampak terhadap kualitas lahan pertaniannya. Kualitas/mutu lahan dapat dinilai dengan melihat kandungan Bahan Organik Tanah (BOT) dan bahan cemaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku petani dalam budidaya tanaman bawang merah dan upaya konservasi tanah; mengetahui Kualitas tanah dengan melihat kandungan BOT; mengetahui cemaran tanah berupa kadar Kadmium (Cd) pada lahan pertanian, dan pada umbi bawang merah yang dihasilkan; serta hasil panen. Penelitian dilaksanakan di Desa Prupuk Utara dan Desa Kaligayam Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal dengan jumlah Responden sebanyak 15 orang petani dengan luas areal tanam 15,195 ha. Tingkat pendidikan para petani terbanyak adalah Sekolah Dasar (SD) 73,33%, SMP 13,33%, dan SMA 13,33%, dengan kisaran umur antara 26 s/d 65 tahun. Lahan sawah yang menjadi lokasi budidaya bawang merah dalam kategori kurang berkualitas, rata-rata kandungan BOT hanya 2,053% kriteria tanah kurang sehat. Kandungan Cd pada lahan sawah rata-rata 0.210 ppm dan pada umbi bawang merah yang dihasilkan rata-rata 0,596 ppm keduanya masih di bawang batas kritis. Terjadi penurunan produktifitas tanaman bawang merah dari 8,55 ton/ha pada tahun 2016 (BPS Kab Tegal, 2017) menjadi hanya 7,48 ton/ha diakhir tahun 2018 pada saat penelitian, tergambar pada laju pertumbuhan tunas tanaman bawang merah yang dihasilkan yaitu rata-rata hanya 5,36 tunas/rumpun setara dengan bobot 4,4 - 7,8 gram/umbi bawang merah. Perilaku petani dalam budidaya bawang merah tidak merujuk kepada upaya konservasi tanah. Pertimbangan atas perilaku yang dilakukan karena kondisi ekonomi dan kebiasaan dalam budidaya. Dampak yang ditimbulkan atas kebiasaan dalam budidaya yang tidak merujuk pada upaya konservasi tanah adalah a) tanah pada lahan sawah tidak sehat; b) produktivitas hasil bawang merah rendah; dan c) dapat mengganggu sistem pertanian berkelanjutan karena tidak didasari dengan tindakan pelestarian lingkungan dan sumber daya lahan guna menjamin keberlanjutan sistem produksi.
Abtrak (Bhs. Inggris)Margasari District is one shallot producer in Tegal Regency. The cultivation of shallots in the region has been carried out for generations and has become the habit of local farmers. Habits that occur continuously and repeatedly done by humans are behaviors. The operational forms of behavior are grouped into 3 (three) types, namely Knowledge; Attitude; and Practice. The behavior of the shallot farmers certainly has an impact on the quality of the agricultural land. Land quality can be assessed by looking at the content of Soil Organic Matter (SOM) and contamination material. The purpose of this study was to determine the behavior of farmers in shallot cultivation and soil conservation efforts; knowing the quality of the soil by looking at the SOM content; knowing soil contamination in the form of Cadmium (Cd) levels on agricultural land, and on shallot tubers produced; and crop yields. The research was conducted in Prupuk Utara Village and Kaligayam Village, Margasari District, Tegal Regency with a total of 15 farmers as respondents with a planting area of 15.195 ha. The education level of most farmers was 73.33% Elementary School, 13.33% Middle School, and 13.33% High School, with an age range between 26 to 65 years. The paddy fields which are the location of shallot cultivation in the poor quality category, the average SOM content is only 2,053%, the soil criteria are not healthy. The content of Cd in paddy fields averaged 0.210 ppm and on shallot bulbs produced an average of 0.596 ppm both were still in critical boundary shallot. There was a decrease in the productivity of shallots from 8.55 tons/ha in 2016 (Tegal Regency Statistics Center, 2017) to only 7.48 tons/ha at the end of 2018 at the time of the study, illustrated by the growth rate of shoots on shallots produced which were flat only 5.36 shoots/clumps are equivalent to 4.4 - 7.8 grams/shallot bulbs. The behavior of farmers in shallot cultivation does not refer to soil conservation efforts. Consideration of the behavior carried out due to economic conditions and habits in cultivation. The impact of the habit in cultivation that does not refer to soil conservation efforts is a) land in unhealthy paddy fields; b) low yield of shallot productivity; and c) can disrupt sustainable agriculture systems because they are not based on environmental preservation and land resources to ensure the sustainability of the production system.
Kata kunciBahan Organik Tanah; Bawang merah; Kadmium (Cd); Perilaku.
Pembimbing 1Dr. Ir. H. ACHMAD IQBAL, M.Si.
Pembimbing 2Prof. Dr. IMAM SANTOSA, M.Si.
Pembimbing 3
Tahun2019
Jumlah Halaman29
Tgl. Entri2019-05-20 12:46:18.641872
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.